Suku Bugis: Sejarah, Budaya dan Kisah Perantauan yang Hebat

Edward Ridwan - detikSulsel
Jumat, 23 Sep 2022 03:00 WIB
Baju bodo khas Suku Bugis - Makassar.
Suku Bugis (Foto: istimewa)
Makassar -

Suku Bugis adalah salah satu suku yang berasal dari Sulawesi Selatan. Kelompok etnis ini merupakan suku terbesar selain Suku Makassar, Mandar dan Toraja.

Di Sulawesi Selatan, Suku Bugis mendiami wilayah Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Pare-pare, Barru, Sinjai hingga Bulukumba. Selain itu, orang Bugis juga tersebar hampir di seluruh Nusantara, bahkan hingga Mancanegara.

Hal ini lantaran, sejak zaman dulu orang-orang Bugis dikenal sebagai pelaut dan perantau yang handal. Mereka berlayar hingga ke Malaysia, Singapura, Asia hingga Afrika.


Suku Bugis memiliki sejarah panjang dan keunikan yang layak untuk dikulik. Lantas, bagaimana kisah dibalik kehidupan masyarakat Bugis ini?

Berikut penjelasan lengkap tentang Suku Bugis yang telah dihimpun detikSulsel dari berbagai sumber:

Sejarah dan Asal-Usul Suku Bugis

Melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Wajo, sejarah nenek moyang suku Bugis berasal dari Etnis Deutro Melayu (Melayu muda). Yaitu Bangsa Austronesia dari Yunan (China Selatan) yang datang ke Nusantara sekitar tahun 500 SM.

Nama Suku Bugis sendiri berasal dari kata to Ugi (diterjemahkan sebagai orang Bugis). Istilah "Ugi" diambil dari nama raja pertama dari Kerajaan Cina (Daerah Pammana) di Kabupaten Wajo, yang bernama La Sattumpugi.

Masyarakatnya menamai diri mereka dengan sebutan To Ugi yang artinya orang-orang pengikut La Sattumpugi.

Dikisahkan bahwa La Sattumpugi memiliki anak bernama We Cudai. Ia menikah dengan seorang Lelaki dari Kerajaan Luwu bernama Sawerigading dan memiliki anak bernama La Galigo.

Sosok La Galigo inilah yang kemudian menulis karya sastra terpanjang di dunia dengan jumlah lebih dari 9.000 halaman yang berjudul I La Galigo (Sureq Galigo). Isinya tentang asal usul penciptaan manusia di dalam tradisi masyarakat Bugis.

Dari keturunan La Sattumpugi dan Sawerigading beserta pengikutnya inilah tersebar ke beberapa daerah. Mereka membentuk kerajaan, kebudayaan, dan aksara sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Bone, Soppeng, Wajo, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.

Pada perkembangannya mereka kemudian menjalin pertalian dan pernikahan dengan suku-suku lain seperti Makassar dan Mandar.

Agama dan Sistem Kepercayaan Suku Bugis

Melansir Jurnal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang berjudul "Religiusitas dan Kepercayaan Masyarakat Bugis-Makassar", disebutkan bahwa terhitung 97% orang Bugis merupakan penganut agama Islam. Mereka menganut Islam secara taat dalam artian kepercayaan.

Meskipun dalam prakteknya belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam, namun mereka tidak mau dikatakan bukan Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat Bugis yang menjalankan praktek-praktek kepercayaan Attoriolong. Yaitu kepercayaan nenek moyang dulu sebelum datangnya Islam.

Contoh praktek-praktek attoriolong tersebut seperti mappanre galung (memberi makan sawah), maccera tasi' (memberi persembahan pada laut), massorong sokko patanrupa (memberikan persembahan kepada dewa berupa empat macam beras ketan) dan lain sebagainya.

Adapun masyarakat yang hingga kini masih memegang teguh kepercayaan Attoriolong ini terdapat di komunitas tolotang di Kabupaten Sidrap dan Komunitas Ammatoa Kajang di Bulukumba.

Bahasa dan Aksara Suku Bugis

Tak banyak suku di Indonesia yang memiliki bahasa sekaligus aksara tulisannya sendiri. Suku Bugis termasuk salah satu suku bangsa yang memiliki aksara dan bahasa.

Dalam hal bahasa, Suku Bugis memiliki bahasa tersendiri yang yaitu Bahasa Bugis (basa ogi). Bahasa Bugis ini memiliki beragam dialek tergantung wilayah masing-masing.

Menurut Laman Peta Bahasa Kemendikbud ada 27 dialek dari bahasa Bugis ini. Diantaranya dialek Bone, dialek Pangkep, dialek Soppeng, dialek Pinrang, dialek Sinjai dan lain sebagainya.

Selain di daerah Sulawesi, penutur Bahasa Bugis juga tersebar di beberapa daerah lain seperti Kepulauan Seribu Jakarta, Jambi, Kalimantan Selatan dan Timur, Bali, Lampung, dan NTB. Masing-masing daerah tersebut juga memiliki ragam dialek yang berbeda-beda.

Sementara pada tulisan, itu suku Bugis memiliki aksara khusus yang disebut dengan aksara lontara. Pada zaman dahulu, naskah-naskah lontara yang berisi nasihat atau mantra-mantra ditulis di atas daun lontar. Karena itu aksara tersebut disebut dengan aksara lontara.

Huruf-huruf lontara dalam suku bugis berupa uki sulapa eppa (tulisan segi empat). Aksara lontara tersebut terdiri dari 23 huruf:

Huruf lontara bugisHuruf lontara bugis Foto: UNM

Masing-masing ke-23 huruf tersebut dapat dibubuhkan tanda baca bunyi berupa "O - E - E".

Kisah Perantauan Suku Bugis

Orang Bugis pada awalnya hanya berdomosili di daratan Sulawesi. Dalam perkembangannya, sebagai orang Bugis merantau ke berbagai wilayah dan negara.

Mengutip Jurnal Universitas Hasanuddin Makassar yang berjudul "Budaya Bugis dan persebarannya dalam Perspektif Antropologi Budaya", orang Bugis merantau dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah untuk meninggalkan rajanya yang sewenang-wenang.

Selain itu, disebutkan bahwa profesi orang Bugis secara tradisional adalah bertani. Namun, mereka kemudian memutuskan untuk merantau demi kepentingan ekonomi.

Di sisi lain, orang Bugis dikenal sebagai pelaut yang handal dan pemberani sejak dahulu. Mereka dengan kapal phinisinya menjelajahi kepulauan Nusantara, bahkan sampai ke Madagaskar.

Sehingga ditemukan perkampungan-perkampungan Bugis di berbagai daerah dan negara. Seperti di pusat kota Singapura, terpampang gambar phinisi dan di sekitar tempat itu diberi nama Bugis Street.

Selain itu, komunitas Bugis juga diketahui sudah ada di Selat Malaka jauh sebelum Kota Malaka dibangun. Komunitas ini bahkan telah ada sejak Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad X-XI.



Simak Video "Longsor Tutup Jalan di Parepare Sulsel, 4 Rumah Terdampak"
[Gambas:Video 20detik]
(edr/alk)