Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) memperkuat kemitraan melalui konferensi Internasional bidang kesehatan, sains dan teknologi. Konferensi ini menjadi wadah bagi akademisi dan peneliti bertukar pengetahuan mengenai perkembangan disiplin ilmu.
Kegiatan bertajuk The 1st International Conference on Health, Science, and Technology (ICOHST) ini berlangsung di Auditorium Teleconference, Lantai 5 Fakultas Kedokteran UMI, Makassar, Minggu (18/10/2026). Kegiatan dengan tema 'Sinergi Kesehatan, Sains, dan Teknologi: Pendekatan Multidisiplin' ini diawali lokakarya penulisan ilmiah.
"Alhamdulillah, kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama internasional kita dengan USIM Malaysia," kata Dekan Fakultas kedokteran (FK) UMI Nasrudin dalam keterangannya.
Dia mengatakan konferensi diselenggarakan secara hibrida dengan menghadirkan pembicara dari USIM Malaysia, FK UMI, dan institusi lainnya. Nasrudin menilai pertukaran pengetahuan menjadi penting karena perkembangan teknologi di bidang kesehatan berlangsung semakin cepat.
"Kita tahu bahwa saat ini perubahan dalam bidang kesehatan berlangsung luar biasa pesat. Karena itu, kita perlu saling berbagi mengenai perkembangan di Indonesia dan Malaysia, baik terkait kebijakan, sistem, maupun teknologi kedokteran dan kesehatan," ujarnya.
Konferensi ini diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Sekitar 500 peserta mengikuti kegiatan secara langsung, sedangkan lebih dari 500 lainnya berpartisipasi melalui platform daring.
Rektor UMI, Prof Hambali Thalib menegaskan konferensi internasional ini bukan sekadar agenda akademik. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan kelembagaan, memperkuat kemitraan, dan membangun kolaborasi yang memberikan manfaat bagi UMI dan USIM.
"Bagi UMI, kegiatan ini bukan sekadar konferensi. Ini adalah wadah untuk merawat silaturahmi, memperkuat kemitraan, dan membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi UMI dan USIM," ujarnya.
Dia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut melalui kegiatan serupa. Menurutnya, konferensi internasional kali ini bukan pertemuan terakhir.
"Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara rutin. Jangan berhenti pada pertemuan hari ini," jelasnya.
Sementara itu, Director Pusat Kemajuan Profesional dan Pendidikan Berterusan (USIM PACE) Prof Mohd Azmir Mohd Nizah menegaskan pentingnya kolaborasi akademik. Hal itu guna menghadapi perkembangan teknologi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), bioteknologi, dan ilmu terapan.
Menurut dia, konferensi internasional tidak hanya menjadi tempat mempresentasikan hasil penelitian. Akak tetapi dapat membuka peluang bagi para peneliti untuk bertukar keahlian, mengeksplorasi solusi inovatif, serta membangun kerja sama akademik dan penelitian yang baru.
"Integrasi kesehatan, sains, dan teknologi semakin relevan seiring perkembangan teknologi yang mengubah cara pelayanan kesehatan diberikan dan penelitian ilmiah dilakukan," ungkapnya.
Ia menyebut, AI misalnya semakin banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang mulai dari diagnosis dan pengobatan penyakit hingga penguatan sistem kesehatan. Sedangkan pemanfaatan teknologi tersebut membuka peluang untuk meningkatkan kualitas layanan dan mempercepat penerapan hasil penelitian.
Paparan dalam konferensi juga menyoroti proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai peningkatan kesehatan dan kesejahteraan global. Pada 2036, diproyeksikan tambahan 1,5 miliar orang di seluruh dunia akan menikmati kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan tahun dasar yang digunakan.
Selain itu, sekitar 555 juta orang tambahan diproyeksikan memperoleh manfaat dari layanan kesehatan esensial tanpa mengalami kesulitan finansial. Proyeksi tersebut menegaskan pentingnya memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.
Simak Video "Video: Belajar Hidup Sehat dari Kebun Vertikal Tertinggi di Jaksel"
(hsr/asm)