Universitas Muslim Indonesia (UMI) meraih penghargaan Campus Entrepreneurial Marketing for Impact 2026 dalam Makassar Marketing Festival 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas transformasi digital, inovasi kelembagaan, dan upaya UMI membangun ekosistem pendidikan yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat.
Penghargaan tersebut diserahkan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Founder and Chairman MCorp Hermawan Kartajaya kepada Rektor UMI Prof Hambali Thalib di Hotel Claro Makassar, Jalan A.P. Pettarani, Kamis (13/8). Penghargaan ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Marketing Festival 2026 yang diselenggarakan MCorp dan MarkPlus Institute dengan tema 'Winning the Competition in the Age of AI'.
Rektor UMI Prof Hambali Thalib mengatakan penghargaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pemasaran, tetapi juga mencerminkan perubahan UMI dalam memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan layanan pendidikan. Menurutnya, teknologi harus memberikan manfaat yang nyata bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teknologi boleh melaju cepat, tetapi dampaknya harus sampai kepada umat. Inovasi harus membuat mahasiswa lebih mudah belajar, dosen lebih produktif, pelayanan semakin cepat, dan masyarakat semakin merasakan kehadiran kampus," ujar Prof Hambali.
Salah satu transformasi yang dikembangkan UMI adalah UMI Connection, sebuah arsitektur digital menuju konsep Smart Islamic AI-Driven University. Sistem ini mengintegrasikan layanan akademik dan nonakademik serta menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, alumni, orang tua, dan mitra dalam satu ekosistem digital.
UMI Connection mengandalkan prinsip satu akses, satu data, satu proses, dan satu Executive AI Dashboard. Pengembangan tersebut mencakup Single Sign-On, integrasi data institusi, infrastruktur cloud, data warehouse, keamanan siber berlapis, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
"Ke depan, kampus bukan yang paling banyak memiliki aplikasi, melainkan yang paling mampu mengubah data menjadi keputusan, teknologi menjadi pelayanan, dan inovasi menjadi kemaslahatan," katanya.
Transformasi digital tersebut diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Catur Dharma UMI yang mencakup pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen ke-UMI-an dan pendidikan karakter. UMI menempatkan kecerdasan artifisial sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia dalam belajar, bekerja, melayani, dan mengambil keputusan dengan tetap berlandaskan nilai Islam.
Selain teknologi, UMI mengembangkan pendekatan kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan mahasiswa membuka usaha. Kewirausahaan diarahkan untuk membangun kemampuan membaca persoalan, menemukan peluang, menciptakan solusi, membangun kolaborasi, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat melalui pembelajaran, riset, pengabdian, inkubasi usaha, kemitraan industri, dan inovasi mahasiswa.
Prof Hambali mengatakan perubahan perilaku masyarakat yang semakin digital juga mendorong perguruan tinggi untuk memahami kebutuhan generasi baru. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang belajar, tetapi juga ekosistem yang mendukung pengembangan karakter, kreativitas, jejaring, teknologi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
"Reputasi bukan suara yang kita tinggikan tentang diri sendiri. Reputasi adalah kepercayaan yang diberikan masyarakat setelah mereka merasakan mutu dan manfaat kehadiran kita," tuturnya.
Prof Hambali menilai penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi UMI untuk memperkuat transformasi dan memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh mahasiswa dan masyarakat. Ia menegaskan, capaian tersebut harus diikuti peningkatan kualitas layanan, tata kelola, inovasi, dan pengabdian agar UMI semakin menjadi kampus yang berilmu, berintegritas, bereputasi, dan berdampak.
