Ancaman Bahaya di Balik Karhutla Taman Nasional Babul Pangkep

Ancaman Bahaya di Balik Karhutla Taman Nasional Babul Pangkep

Muhammad Subhan - detikSulsel
Jumat, 16 Okt 2026 06:30 WIB
Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Pangkep.
Foto: Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Pangkep. (dok. Istimewa)
Pangkep -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), belum juga padam. Situasi ini membahayakan satwa endemik hingga mengancam keberadaan situs prasejarah dalam kawasan karst tersebut.

Kebakaran mulanya terjadi di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci pada Minggu (11/10) pukul 21.00 Wita. Api kini telah meluas ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru, Pangkep.

"Titik api awal di Bangkasakian, sekarang sudah ke Batu Napara juga. Api yang sama," ungkap Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab kepada detikSulsel, Rabu (14/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rajab menjelaskan, petugas kesulitan melakukan pemadaman karena medan yang terjal. Titik kebakaran merupakan kawasan terisolasi dari akses kendaraan.

"Kendalanya teman-teman, angin kencang biasa seperti itu. Terus yang terbakar di puncak karst kita tidak bisa jangkau," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Sumber air di sekitar lokasi juga terbatas. Jarak titik api yang jauh dari permukiman warga membuat armada pemadam kebakaran tidak dapat menyemprotkan air secara langsung.

"Teman-teman terpaksa mengambil air dari mobil damkar untuk mengisi jet shooter saja. Untuk disemprot langsung tidak bisa karena jauh sekali," imbuh Rajab.

Seiring waktu, Balai TN Babul mencatat adanya lonjakan tajam luas lahan yang terbakar. Sebanyak 34,74 hektare lahan hangus pada Senin (12/10), lalu bertambah 13,67 hektare pada Selasa (13/10), lalu kembali membakar 45,02 hektare lahan pada Rabu (14/10).

"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," kata Rajab saat dikonfirmasi, Kamis (15/10).

Rajab menyebut titik api saat ini terkonsentrasi di dua lokasi, yakni kawasan Wae Sellue, Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi dan Batu Napara Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Pangkep. Total 9 titik api masih terpantau di dua lokasi tersebut.

"Tim berhasil memadamkan 2 titik asap yang berada di tengah tebing karst secara manual menggunakan jet shooter. Salah satu titik api yang berhasil kita padamkan itu berjarak cukup dekat dengan pemukiman warga, sekitar 500 meter," jelas Rajab.

Habitat Satwa Endemik Hangus Terbakar

Kobaran api di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung tidak hanya merusak vegetasi di puncak-puncak karst. Kebakaran juga berdampak pada habitat satwa endemik hingga keanekaragaman hayati.

"Yang paling parah kerusakan vegetasi dan gangguan fauna. Tempat hidupnya fauna kan banyak yang rusak, burung, makaka, ular, banyak reptil-reptil yang bermasalah," ungkap Rajab.

Rajab mengungkapkan salah satu satwa endemik yang paling rentan terdampak adalah Tarsius. Primata kecil ini kerap beraktivitas di rumpun bambu dan pohon jati yang tumbuh di dasar hingga tebing karst.

"Kalau Tarsius itu kan tempat mainnya di bambu, jadi banyak terganggu. Apalagi sampai di karst terbakar, jadi banyak jatuh batu-batu dari atas," tuturnya.

Rajab belum merinci lahan dampak lingkungan akibat kebakaran karena petugas masih fokus melakukan pemadaman. Namun tim di lapangan sudah menemukan sejumlah satwa yang terdampak kebakaran.

"Kemarin yang kita temukan ada burung, ada bunglon. Ada ular juga, tapi kemarin masih hidup waktu ditemukan," imbuh Rajab.

Keberadaan Lukisan Prasejarah Terancam

Arkeolog dari Universitas Griffith Australia, Basran Burhan menyoroti kebakaran di TN Babul Pangke. Kebakaran itu mengancam salah satu situs arkeologi di kawasan karst tersebut, yakni Situs Sabila yang lokasinya di kaki bukit karst dan berdekatan dengan titik kebakaran.

"Situs Sabila itu posisinya pas di bawahnya, titik kebakaran ada di atasnya, kira-kira beberapa meter di atas site. Tapi api belum sampai masuk ke dalam situs," kata Basran Burhan kepada detikSulsel, Kamis (15/10).

Situs Sabila merupakan situs yang menyimpan bukti kehidupan manusia purba. Kawasan tersebut merupakan situs deposit permukaan tanah berupa artefak alat batu dan sisa-sisa makanan purba.

"Kalau untuk dampak langsungnya dari kebakaran baru-baru ini kita memang masih belum bisa memastikan sejauh mana, karena belum ada observasi mendalam di lapangan," jelasnya.

Kawasan TN Babul pun menyimpan bukti lukisan cadas (rock art) kuno pada dindingnya. Basran khawatir kobaran api yang memicu paparan asap dan fluktuasi suhu udara bisa merusak lukisan prasejarah di kawasan itu.

"Lukisan ini ada yang berasal dari masa zaman es (plestosen) dengan rentang waktu antara 51 ribu sampai 17 ribu tahun. Lukisan terdekat dari daerah kebakaran yang sudah dipertanggalkan itu Leang Bulu Sipong 4, gambar adegan berburu yang berumur 48 ribu tahun," paparnya.

Jelaga asap hitam yang terbawa angin dapat menempel kuat pada pigmen lukisan prasejarah. Kondisi ini berpotensi mengaburkan atau merusak nilai estetika dan keilmuannya secara permanen.

"Dampak umumnya bisa memicu pengelupasan dinding atau efek jelaga asap yang menutupi dan merusak lukisan," beber Basran.

Basran berharap agar kebakaran di kawasan tersebut harus mendapat perhatian serius. Apalagi fenomena karhutla di kawasan karst Pangkep tersebut sudah berulang kali terjadi.

"Wilayah kebakaran baru-baru ini sebenarnya pernah terbakar tahun 2014-2015 di lokasi yang sama, Minasatene. Ini kejadian berulang, harusnya bisa dimitigasi. Sumber kebakarannya sering kali dari aktivitas warga di titik pengambilan air," paparnya.

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) serta pengelola TN Babul diminta segera melakukan evaluasi agar kebakaran tidak lagi terjadi. Basran mendorong pengawasan ekstra di area situs sampai api benar-benar padam.

"Upaya jangka panjangnya tentu saja menjaga kondisi iklim mikro di tiap situs dan meningkatkan kesadaran warga agar tidak menyalakan api atau membuang puntung rokok sembarangan di area rawan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads