Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menerjang kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Api yang belum juga padam selama empat hari terakhir menghanguskan habitat satwa endemik seperti tarsius.
Kebakaran terjadi di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci sejak Minggu (11/10/2026) pukul 21.00 Wita. Hingga hari keempat, kebakaran kini meluas ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru, Pangkep.
"Yang jelas kalau dari kami, yang paling parah kerusakan vegetasi dan gangguan fauna. Tempat hidupnya fauna kan banyak yang rusak, burung, makaka, ular, banyak reptil-reptil yang bermasalah," ungkap Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab kepada detikSulsel, Rabu (14/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rajab mengungkapkan salah satu satwa endemik yang paling rentan terdampak adalah Tarsius. Primata kecil ini kerap beraktivitas di rumpun bambu dan pohon jati yang tumbuh di dasar hingga tebing karst.
"Kalau Tarsius itu kan tempat mainnya di bambu, jadi banyak terganggu. Apalagi sampai di karst terbakar, jadi banyak jatuh batu-batu dari atas," tuturnya.
Rajab belum merinci lahan dampak lingkungan akibat kebakaran karena petugas masih fokus melakukan pemadaman. Namun tim di lapangan sudah menemukan sejumlah satwa yang terdampak kebakaran.
"Kemarin yang kita temukan ada burung, ada bunglon. Ada ular juga, tapi kemarin masih hidup waktu ditemukan," imbuh Abdul Rajab.
Hingga saat ini tim gabungan masih berjibaku memadamkan titik api di medan yang terjal dan sulit dijangkau. Api yang semula muncul di kawasan Bangkasakian kini telah merembet hingga ke wilayah Batu Naparak.
"Ini masih sementara pemadaman teman-teman. Titik api awal di Bangkasakian, sekarang sudah ke Batu Naparak juga. Api yang sama," kata Rajab.
"Luasan belum bisa kita taksir ini karena sementara teman-teman masih pemadaman. Biasanya sore kita petakan lagi, tapi drone tidak bisa terbang memotret dekat karena kabut asap," terangnya.
Dia mengaku upaya pemadaman terkendala medan karena lokasi kebakaran berada di puncak-puncak tebing karst. Lokasi itu terisolasi dari akses kendaraan.
"Kendalanya teman-teman, angin kencang biasa seperti itu. Terus yang terbakar di puncak karst kita tidak bisa jangkau," ungkap Rajab.
Tak hanya itu, keterbatasan sumber air di sekitar lokasi menjadi kendala vital. Jarak titik api yang jauh dari permukiman warga membuat unit armada pemadam kebakaran tidak dapat menyemprotkan air secara langsung.
"Teman-teman terpaksa mengambil air dari mobil damkar untuk mengisi jet shooter saja. Untuk disemprot langsung tidak bisa karena jauh sekali," pungkasnya.
