Karhutla Karst Pangkep Meluas, Sudah Hanguskan 93 Hektare Lahan

Karhutla Karst Pangkep Meluas, Sudah Hanguskan 93 Hektare Lahan

Muhammad Subhan - detikSulsel
Kamis, 15 Okt 2026 14:12 WIB
Petugas berupaya memadamkan karhutla karts Pangkep.
Petugas berupaya memadamkan karhutla karts Pangkep. Foto: (dok. istimewa)
Pangkep -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di pegunungan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), kian meluas. Memasuki hari ketiga operasi penanganan intensif, total luas area yang hangus dilalap si jago merah telah menembus 93,43 hektare.

"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," ungkap Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).

Data resmi Balai TN Babul mencatat adanya lonjakan tajam luas kebakaran. Setelah menghanguskan 34,74 hektare pada Senin (12/10) dan 13,67 hektare pada Selasa (13/10), api kembali melalap lahan seluas 45,02 hektare hanya dalam sehari pada Rabu (14/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abdul Rajab menyebut titik api saat ini terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue, Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi dan Batu Napara Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Pangkep. Seluruh kendali penanganan dipusatkan di Posko Utama Kantor SPTN Wilayah I Minasatene.

"Titik api saat ini terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue Bangkasakeang dan Batu Napara," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pemantauan udara menggunakan drone, Rabu (14/10) memperlihatkan pergerakan api yang terus bertambah. Pada pukul 10.00 Wita, petugas awalnya mendeteksi 4 titik asap. Namun saat pemantauan sore pukul 15.30 Wita, jumlah titik asap membengkak menjadi 7 titik di Wae Sellue dan 2 titik di Batu Napara.

Menanggapi situasi tersebut, sebanyak 37 personel gabungan diterjunkan menusuk ke lokasi. Tim bergerak melokalisasi kobaran api yang mulai mengancam pemukiman warga sekitar.

"Tim berhasil memadamkan 2 titik asap yang berada di tengah tebing karst secara manual menggunakan jet shooter. Salah satu titik api yang berhasil kita padamkan itu berjarak cukup dekat dengan pemukiman warga, sekitar 500 meter," jelas Abdul Rajab.

Abdul Rajab membeberkan, kendala utama petugas di lapangan adalah letak tebing yang sangat terjal hingga sulit dipenetrasi pasukan darat. Angin kencang yang bertiup ke arah barat kian mempercepat perambatan api di atas tebing karst dengan ketinggian 79 hingga 501 Mdpl.

"Beberapa titik asap atau api memang tidak dapat dijangkau petugas karena berada pada puncak karst dengan ketinggian 79 sampai 601 Mdpl serta tebing terjal dengan kemiringan ekstrem mencapai 90 derajat," terangnya.

Selain medan yang sulit, keterbatasan sumber air di area pegunungan karst menjadi pemicu terhambatnya pemadaman. Mesin pompa air tidak dapat difungsikan karena titik air yang terlalu jauh, sehingga petugas terpaksa mengandalkan pundi-pundi air jet shooter yang diangkut secara manual.

"Keterbatasan air jadi kendala utama. Mesin pompa tidak bisa dipakai karena sumber air terlalu jauh, jadi petugas terpaksa angkut jet shooter secara manual," ucapnya.

Pekatnya kabut asap di lokasi kini dilaporkan merusak jarak pandang udara. Bahkan, lokasi timbulan asap tersebut diperkirakan berada di jalur rute lintasan penerbangan pesawat.

Tak hanya itu, dampak karhutla ini dipastikan kian menggerus keanekaragaman hayati karst Maros-Pangkep. Kerusakan rumpun bambu dan pohon jati merusak habitat alami satwa liar.

"Kabut asap semakin pekat dan mengganggu jarak pandang. Kebakaran ini juga berdampak langsung pada keanekaragaman hayati, beberapa satwa liar ditemukan terdampak akibat ruang hidupnya terbakar," pungkas Rajab.



(asm/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads