Arkeolog menyoroti kebakaran kawasan pegunungan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kebakaran tersebut dikhawatirkan berdampak pada situs-situs prasejarah hingga lukisan purba yang berada di kawasan konservasi tersebut.
Arkeolog dari Universitas Griffith Australia, Basran Burhan mengatakan, salah satu situs arkeologi yang posisinya paling mengkhawatirkan adalah Situs Sabila di kawasan Pangkep. Situs itu berada di kaki bukit karst, sedangkan kobaran api berada tepat di tebing bagian atas gua tersebut.
"Situs Sabila itu posisinya pas di bawahnya, titik kebakaran ada di atasnya, kira-kira beberapa meter di atas site. Tapi api belum sampai masuk ke dalam situs," kata Basran Burhan kepada detikSulsel, Kamis (15/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Basran menjelaskan, Situs Sabila bukan situs dinding bergambar (rock art), melainkan situs deposit permukaan tanah berupa artefak alat batu dan sisa-sisa makanan purba. Meski demikian, potensi kerusakan tetap membayangi jika suhu panas ekstrem terus terpancar dari atas tebing.
"Kalau untuk dampak langsungnya dari kebakaran baru-baru ini kita memang masih belum bisa memastikan sejauh mana, karena belum ada observasi mendalam di lapangan," jelasnya.
Meskipun belum ada laporan kerusakan pada dinding gua berlukisan, Basran mewanti-wanti bahaya laten perubahan iklim mikro di sekitar situs karst. Menurutnya, lukisan cadas (rock art) purba sangat rentan terhadap paparan asap dan fluktuasi suhu udara akibat kebakaran hutan.
"Yang pasti lukisan tua itu sangat sensitif dengan perubahan iklim mikro. Itu berpengaruh sekali pada ketahanan gambar," katanya.
Dia menegaskan, jelaga asap hitam yang terbawa angin dapat menempel kuat pada pigmen lukisan prasejarah. Hal ini berpotensi mengaburkan atau bahkan merusak nilai estetika dan keilmuannya secara permanen.
"Dampak umumnya bisa memicu pengelupasan dinding atau efek jelaga asap yang menutupi dan merusak lukisan," ujar Basran.
Basran menyoroti fenomena karhutla di kawasan karst Pangkep yang terkesan berulang. Berdasarkan catatannya, pola kebakaran serupa pernah melanda kawasan Minasatene hingga Liang Kasti pada kurun waktu 2014-2015 lalu.
"Wilayah kebakaran baru-baru ini sebenarnya pernah terbakar tahun 2014-2015 di lokasi yang sama, Minasatene. Ini kejadian berulang, harusnya bisa dimitigasi. Sumber kebakarannya sering kali dari aktivitas warga di titik pengambilan air," paparnya.
Basran mendorong Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) serta pengelola TN Babul segera melakukan evaluasi. Dia mendorong pengawasan ekstra di area situs usai api benar-benar padam.
"Upaya jangka panjangnya tentu saja menjaga kondisi iklim mikro di tiap situs dan meningkatkan kesadaran warga agar tidak menyalakan api atau membuang puntung rokok sembarangan di area rawan," imbuhnya.
Diketahui, kebakaran terjadi di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci sejak Minggu (11/10) pukul 21.00 Wita. Kebakaran belum juga padam hingga api meluas ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru, Pangkep.
Data resmi Balai TN Babul mencatat adanya lonjakan tajam luas kebakaran. Setelah menghanguskan 34,74 hektare pada Senin (12/10) dan 13,67 hektare pada Selasa (13/10), api kembali melalap lahan seluas 45,02 hektare hanya dalam sehari pada Rabu (14/10).
"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," ungkap Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab kepada wartawan, Kamis (15/10).
