Udara Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dalam beberapa hari terakhir tampak berbeda. Udara terlihat berkabut dan jarak pandang seorang diselimuti lapisan tipis asap.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut karena terdapat peningkatan konsentrasi partikel halus khususnya PM2.5 sehingga udara tampak kelabu dan berkabut. Paparan polutan tersebut menyebabkan kualitas udara di Makassar dan sekitarnya menurun.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yuda mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat terutama PM2.5 mulai terpantau sejak 30 September 2026.
"Iya, memang berdasarkan pengamatan kami dari BMKG yang ada di Maros terkait pengamatan kualitas udara, memang sejak tanggal 30 September (2026) itu terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang mengakibatkan penurunan kualitas udara di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk di wilayah Makassar," Kata Rizky Yuda saat ditemui detikSulsel di kantor BMKG Wilayah IV Sulawesi Selatan, Senin (5/10/2026).
Rizky menjelaskan kondisi udara yang tampak berkabut tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai sumber polutan seperti partikel-partikel kering yang bisa berasal dari emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri. Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah berkontribusi besar terhadap peningkatan konsentrasi partikulat di udara Makassar.
Dia mengatakan, BMKG mendapat laporan dari BPBD bahwa beberapa wilayah di Sulawesi Selatan mengalami karhutla dalam beberapa hari terakhir. Di antaranya Kabupaten Pangkep, Bantaeng, Pinrang, dan Enrekang.
"Contohnya untuk di wilayah Sulsel ini terjadi di wilayah Kabupaten Pangkep, kemudian di Bantaeng, di Pinrang, di Enrekang. Ini dalam beberapa hari terakhir laporannya terjadi kebakaran hutan yang cukup masif hingga beberapa hektar," jelasnya.
Angin Membawa dan Menahan Asap di Makassar
Meski karhutla tidak terjadi di Kota Makassar, asap dan partikel hasil pembakaran dari wilayah lain dapat terbawa hingga ke wilayah tersebut. Arah dan pola pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang menentukan dari mana partikulat datang maupun ke mana sebarannya bergerak.
Rizky menjelaskan, ketika angin bertiup dari arah barat, partikel yang berasal dari karhutla di Sulsel cenderung tertahan sehingga tidak mudah keluar dari wilayah tersebut. Pada saat yang sama, angin dari arah barat juga dapat membawa partikel dari Kalimantan menuju Sulsel.
"Nah, berdasarkan arah angin juga, memang terjadi arah angin berasal dari barat sehingga udara-udara ataupun partikel-partikel yang berasal dari kebakaran ini tidak bisa keluar dari wilayah Sulawesi Selatan," lanjutnya.
Sebaliknya, ketika angin bergerak dari arah timur, partikel dari wilayah yang mengalami karhutla seperti Maluku dan Papua berpotensi terbawa menuju Sulsel, termasuk Makassar.
"Jadi saat arah angin bertiup dari arah barat, maka asap-asap dari Kalimantan ataupun asap-asap dari Sulawesi Selatan sendiri itu tidak bisa keluar dari wilayah Sulawesi Selatan. Sedangkan saat anginnya itu bertiup dari arah timur, maka kondisi kebakaran hutan yang ada di Papua maupun Maluku itu bisa sampai ke wilayah Sulawesi Selatan," imbuhnya.
Pergerakan angin dari Barat dan Timur tersebut membuat partikulat dari berbagai sumber berkumpul dan memengaruhi kualitas udara di Makassar.
Kualitas Udara Makassar Kini Kategori Sedang
Setelah sempat mengalami penurunan kualitas, udara Makassar kini mulai membaik. Berdasarkan data terbaru BMKG, konsentrasi PM2.5 telah turun ke kategori sedang dengan nilai berada di bawah 55 mikrogram per meter kubik.
Namun, membaiknya kualitas udara tersebut belum berarti kondisi akan terus stabil. BMKG masih melihat adanya potensi udara kembali berkabut apabila kebakaran hutan dan lahan di Sulsel maupun wilayah sekitarnya masih berlangsung.
"Jadi kalau misalkan kebakaran lahannya yang ada di Sulsel maupun di sekitaran Sulsel ini masih ada dan masih intens, maka potensi terjadinya udara kabut di Kota Makassar juga bisa kembali terjadi," lanjutnya.
Oleh karena itu, masyarakat tetap diminta memperhatikan kualitas udara, terutama ketika kondisi udara kembali terlihat berkabut atau konsentrasi partikel meningkat. BMKG mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Langkah tersebut penting karena PM2.5 memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga dapat dengan mudah terhirup ketika bernapas.
"Iya, jadi konsentrasi tinggi dari PM2.5 ini bisa salah satunya mengganggu kesehatan, karena memang partikelnya sangat kecil dan mudah sekali terhirup ke saat kita bernapas. Jadi disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, kemudian memakai masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan, seperti itu," pungkasnya.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(urw/urw)