Antrean kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) kini banyak menghiasi jalanan Kota Makassar dan sekitarnya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Pengendara rela mengantre panjang selama berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), juga di tingkat pengecer meski dibanderol dengan harga yang lebih tinggi.
Kondisi ini dimulai dari antrean kendaraan mengisi Solar di sejumlah SPBU di Makassar dan sekitarnya. Truk hingga bus sudah merasakan antrean panjang di SPBU itu selama beberapa bulan terakhir.
Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa menginap di jalanan demi menunggu giliran mengisi BBM. Antrean itu pun kerap memicu kemacetan panjang di sejumlah jalan protokol di Kota Makassar, terutama pagi dan sore hari.
Beberapa hari terakhir, antrean kendaraan di SPBU itu meluas hingga pada kendaraan pribadi. Motor maupun mobil kini ikut mengantre panjang untuk mengisi Pertalite. Antrean itu terjadi sejak pagi bahkan dini hari.
Tidak hanya di SPBU, antrean kendaraan berburu BBM juga terjadi di tingkat pengecer alias pertamini, khususnya bagi sepeda motor. Baik Pertalite maupun Pertamax tidak menjadi masalah bagi mereka, asalkan BBM kendaraannya terpenuhi agar tetap bisa beraktivitas.
Di tingkat pengecer, hargaBBM dijual bervariatif. Warung kelontong alias warung Bugis yang memiliki dispenser bak diSPBU misalnya, menjualPertalite mulai dari harga Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per liter.
Tidak sedikit pula warung Bugis yang memiliki stok Pertamax dan dijual menggunakan dispenser bak di SPBU. Untuk jenis ini, harganya dibanderol jauh lebih mahal yakni Rp 20 ribu per liter.
Ada juga pengecer yang menjualnya dengan menggunakan botol bekas air mineral berukuran sekitar 1,5 liter. Harganya berbeda-beda, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per botol untuk jenis Pertalite.
Pertamax Eceran Dijual Rp 20 Ribu/Liter
Salah seorang pengendara, Abadi mengaku terpaksa mengisi BBM jenis Pertamax di tingkat pengecer karena kesulitan mendapatkan stok di SPBU. Kondisi itu terjadi pada penjual eceran di Jalan Asal Mula, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.
"Mau bagaimana kita ini kalau bensin motor sudah mau habis, nanti mogok, kita mendorong. Di SPBU juga antrenya sudah panjang sekali. Itupun belum tentu kita antre bisa kebagian stok," kata Abadi kepada detikSulsel, Jumat (11/9/2026).
Abadi menuturkan, kondisi itu memaksa dirinya mengisi BBM di tingkat pengecer. Sekalipun dia harus merogoh kocek lebih besar ketimbang mengisi BBM di SPBU.
"Saya isi di pertamini, tapi bukan Pertalite, dia jualnya Pertamax. Itu Pertamax dijual harga Rp 20 ribu per liter. Mahal tapi tidak tahu mau bagaimana lagi," cetusnya.
Dia berharap kondisi ini bisa segera kembali stabil. Sebab susahnya mendapatkan BBM sangat memengaruhi aktivitasnya termasuk masyarakat lain yang menggunakan kendaraan pribadi.
"Kita ini pakai kendaraan dan mengisi BBM karena memang sudah mau habis. Jadi kalau susah dapat BBM-nya pasti mengganggu pekerjaan kita karena mobilitas jadi berkurang," ucap Abadi.
Simak Video "Video: Cekcok gegara Antrean SPBU, Sopir Angkot Tewas Ditembak Pemobil"
(asm/asm)