Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan memberikan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sehingga bisa maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut Bahlil, keputusan itu sesuai dengan mekanisme dan hak prerogatif ketua umum yang diatur dalam aturan partai.
Hal itu disampaikan Bahlil saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulsel di Hotel Claro Makassar, Sabtu (18/7/2026). Dalam pidatonya, Bahlil juga menyinggung status IAS yang sempat meninggalkan Golkar sebelum kembali bergabung.
"Banyak orang mengatakan kepada saya, Pak Aco pernah pindah partai. Partai Golkar adalah partai yang dewasa. Partai Golkar adalah partai yang penuh dengan fatsun, mekanisme, serta aturan-aturan kepartaian," kata Bahlil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil mengatakan Golkar memiliki Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), peraturan organisasi, petunjuk pelaksanaan, hingga petunjuk teknis yang mengatur seluruh mekanisme kepartaian. Menurutnya, Golkar juga telah melalui berbagai dinamika, termasuk ditinggalkan kader yang kemudian mendirikan partai politik lain.
"Bahkan membuat partai. Banyak jempolan Partai Golkar yang membangun partai. Contoh NasDem, Bang Surya Paloh, dulu Ketua Dewan Pertimbangan, jadi ketua umum partai. Kemudian Gerindra, Hanura, Demokrat. Ya tidak apa-apa," ujarnya.
Menurut Bahlil, Golkar tidak pernah memandang kader yang hengkang sebagai musuh politik. Dia mengibaratkan seluruh kader yang pernah berada di Golkar sebagai satu keluarga yang hanya berbeda kamar.
"Jadi kader Partai Golkar hari ini sedikit berhijrah, mungkin dia mau cek dulu mana yang baik. Ya tidak apa-apa. Kita tidak pernah marah. Silakan mengecek," ucapnya.
Bahlil menegaskan pintu Golkar tetap terbuka bagi kader yang ingin kembali. Menurutnya, terdapat mekanisme yang memungkinkan hal tersebut dilakukan, yakni melalui diskresi ketua umum.
"Kalau sudah merasa bahwa sekalipun sudah hijrah, yang dicek di rumah (partai) lain tidak pas, mungkin balik, ya kita buka pintu. Tidak masalah," katanya.
"Begitu ketika mau kembali, ada aturan yang memungkinkan untuk bisa. Aturan itu disebut dengan diskresi, dan itu dibenarkan dalam Anggaran Dasar yang namanya hak prerogatif ketua umum," sambung Bahlil.
Bahlil kemudian secara khusus menyinggung IAS yang pernah keluar dari Golkar. Menurutnya, kepergian IAS saat itu merupakan bagian dari dinamika politik yang lumrah.
"Jadi kayak Pak Aco pergi, mungkin dia lihat-lihat dulu. Waktu itu mungkin dia mencari udara segar. Ya tidak apa-apa," ujarnya.
Baca juga: IAS Tanpa Beban di Musda Golkar Sulsel |
Bahlil mengaku telah lama mengenal IAS dan menilai mantan Wali Kota Makassar dua periode itu memiliki pengalaman panjang di Golkar. Dia berharap pengalaman IAS menjadi modal untuk mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulsel.
"Saya mengenal Pak Aco sudah sangat lama, senior saya. Saya berharap betul ilmu pengalaman ketika beliau menjadi pengurus Golkar dari bawah, pernah jadi Ketua AMPI, pernah menjadi Ketua Golkar provinsi, pernah menjadi wali kota 10 tahun, dijadikan sebagai bekal untuk mengembalikan kejayaan Partai Golkar," pungkasnya.
Diketahui, Musda ke XI ini hanya diikuti IAS sebagai kandidat calon Ketua Golkar Sulsel. Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' yang sebelumnya digadang-gadang akan maju memilih mundur dari pencalonan jelang pelaksanaan Musda.
