8 Pantangan Malam 1 Suro dalam Tradisi Jawa

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Senin, 01 Jun 2026 22:59 WIB
Ilustrasi Malam 1 Suro (Foto: Kementerian Kebudayaan)
Makassar -

Malam 1 Suro merupakan salah satu momen penting dalam tradisi masyarakat Jawa yang menandai pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Malam ini lekat dengan berbagai ritual, tradisi, serta sejumlah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga kini.

Melansir jurnal berjudul "Larangan beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta", dalam tradisi Jawa bulan Suro dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual. Banyak masyarakat Jawa memanfaatkan malam ini dengan melakukan refleksi, doa, bahkan ritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan membersihkan diri dari aura negatif.

Karena kesakralannya, terdapat beberapa pantangan yang diyakini perlu dihindari atau dilarang untuk dilakukan. Apa saja pantangan malam 1 Suro tersebut?

Di bawah ini detikSulsel menyajikan informasi lengkapnya yang dirangkum dari jurnal "Larangan beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta". Yuk, simak selengkapnya!

Pantangan Malam 1 Suro dalam Tradisi Jawa

1. Tidak Menggelar Hajatan Besar

Masyarakat Jawa umumnya menghindari menggelar hajatan besar pada bulan Suro, seperti pernikahan, khitanan, atau pesta lainnya. Bulan Suro dipandang sebagai waktu untuk introspeksi, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga dianggap kurang tepat untuk mengadakan perayaan yang meriah.

2. Menghindari Konflik dan Pertengkaran

Bulan Suro diyakini sebagai waktu yang sarat nilai spiritual. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga hubungan baik dengan sesama, menghindari perselisihan, serta memperbanyak refleksi diri dan pengendalian emosi.

3. Tidak Melakukan Perjalanan Jauh

Sebagian masyarakat percaya bahwa bepergian jauh pada malam atau bulan Suro dapat membawa risiko yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini berkaitan dengan tradisi dan pandangan masyarakat Jawa yang menganggap Suro sebagai bulan yang sakral.

4. Menjauhi Kesenangan Duniawi yang Berlebihan

Bulan Suro sering dimaknai sebagai waktu untuk laku spiritual, seperti berpuasa, bermeditasi, berzikir, atau berdoa. Karena itu, kegiatan yang terlalu berorientasi pada hiburan dan kesenangan duniawi dianggap kurang selaras dengan makna spiritual bulan tersebut.

5. Tidak Keluar Rumah pada Malam Hari

Sebagian masyarakat meyakini bahwa malam 1 Suro sebaiknya diisi dengan doa dan perenungan di rumah. Keluar rumah tanpa keperluan penting dipercaya dapat mendatangkan kesialan atau hal-hal yang tidak diinginkan menurut kepercayaan setempat.

6. Tidak Berisik atau Membuat Keramaian

Pantangan ini berkaitan dengan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang dijalankan di lingkungan Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta. Pada malam 1 Suro, masyarakat dianjurkan menjaga ketenangan dan mengurangi aktivitas yang menimbulkan kebisingan.

7. Menjaga Ucapan dan Tidak Berkata Kasar

Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang sakral sehingga masyarakat dianjurkan menjaga tutur kata. Berbicara kasar, mengumpat, atau mengucapkan kata-kata buruk diyakini tidak sesuai dengan semangat perenungan dan pengendalian diri yang dijunjung pada malam tersebut.

8. Tidak Pindah atau Membangun Rumah

Dalam tradisi Jawa, pindah rumah atau memulai pembangunan pada bulan Suro sering dihindari. Sebagian masyarakat percaya bahwa kegiatan tersebut dapat mendatangkan kesialan atau hambatan di kemudian hari.

Sejarah Tradisi Malam 1 Suro

Masih dari sumber yang sama, sejarah tradisi malam 1 Suro dapat ditelusuri hingga masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Tradisi ini muncul setelah Sultan Agung Hanyokrokusumo menggabungkan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah pada abad ke-17.

Sejak saat itu, tanggal 1 Suro menjadi penanda Tahun Baru Jawa yang memiliki makna penting bagi masyarakat Jawa. Berbagai ritual dan tradisi pun berkembang sebagai bagian dari peringatan malam tersebut.

Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah kirab pusaka yang diselenggarakan oleh keraton. Di lingkungan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, pusaka-pusaka kerajaan diarak dalam prosesi khusus sebagai simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus bentuk pelestarian budaya Jawa.

Selain itu, sebagian masyarakat juga melakukan ziarah ke makam leluhur atau tokoh-tokoh yang dihormati. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu serta sarana untuk mendoakan mereka.

Selain itu, Malam 1 Suro juga kerap dikaitkan dengan berbagai kisah dan mitologi yang berkembang dalam budaya Jawa, termasuk cerita tentang Nyi Roro Kidul yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Namun, kepercayaan terhadap tokoh tersebut berbeda-beda di setiap daerah dan tidak menjadi bagian dari ajaran agama.

Hingga kini, berbagai tradisi Malam 1 Suro masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur. Meskipun mengandung unsur tradisi dan kepercayaan lokal, peringatan Malam 1 Suro pada dasarnya menjadi momen untuk refleksi diri, memperkuat nilai-nilai spiritual, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Itulah beberapa pantangan pada Malam 1 Suro. Semoga menambah wawasan ya, detikers!



Simak Video "Video: Mengenal Tradisi Ngembang Jelang Ramadan di Ciamis"

(alk/alk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork