Malam 1 Suro merupakan salah satu malam yang dianggap sakral dan istimewa oleh masyarakat Jawa. Malam ini bertepatan dengan datangnya 1 Muharram dalam kalender Hijriah yang menandai pergantian Tahun Baru Islam.
Menjelang pergantian tahun tersebut, malam 1 Suro biasanya diisi dengan berbagai amalan-amalan. Di samping itu, terdapat pula sejumlah mitos dan pantangan yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat hingga kini.
Seperti penanggalan Hijriah, kalender Jawa pun dimulai sejak Matahari terbenam atau masuknya waktu Maghrib sehingga tahun ini 1 Suro jatuh pada Senin, 15 Juni 2026 setelah Maghrib. Dengan demikian, masyarakat dapat melaksanakan berbagai amalan malam 1 Suro pada waktu tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, amalan apa saja yang biasa dilakukan pada malam 1 Suro? Yuk, simak amalan malam 1 Suro lengkap mitos dan pantangannya berikut ini!
Amalan Malam 1 Suro
1. Membaca Doa Akhir Tahun
Membaca doa akhir tahun merupakan salah satu amalan yang banyak dikerjakan menjelang malam 1 Suro. Doa ini dipanjatkan sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas kesalahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Selain itu, amalan ini juga diyakini dapat menjadi ikhtiar untuk memperoleh perlindungan dari godaan setan dan meraih ampunan Allah SWT.
Doa akhir tahun dianjurkan dibaca setelah sholat Asar hingga sebelum masuk waktu Maghrib. Pada tahun 2026, doa ini dapat dibaca pada Senin, 15 Juni 2026, menjelang waktu Maghrib sebagai penutup tahun Hijriah 1447 H.[1]
Berikut bacaan doa akhir tahun lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan artinya:
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَانَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْ لِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْتَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيمُ.
Arab Latin: Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatik. Fa innistaghfartuka faghfir-lii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa kariim.
Artinya: "Ya Allah, segala perbuatan yang telah aku lakukan sepanjang tahun ini yang Engkau larang dan belum sempat aku sesali, sementara Engkau tetap menunjukkan kemurahan-Mu padahal Engkau berkuasa untuk menghukumku, serta segala dosa yang telah aku lakukan meski Engkau memerintahkanku untuk bertobat darinya, maka aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku. Dan segala amal yang Engkau ridai serta telah Engkau janjikan pahala atasnya, aku memohon agar Engkau menerimanya. Janganlah Engkau memutus harapanku kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah."[2]
2. Membaca Surah Yasin 3 Kali
Amalan utama yang juga dapat dikerjakan di malam 1 Suro adalah membaca surah Yasin. Di malam pergantian tahun tersebut, surat Yasin dianjurkan dibaca sebanyak 3 kali.
Membaca surah Yasin sendiri memang sudah menjadi tradisi di masyarakat muslim Indonesia. Biasanya surat Yasin dibaca di masjid secara berjemaah selepas menunaikan sholat Maghrib.[3]
3. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an
Amalan lain yang dapat dilakukan pada malam 1 Suro atau 1 Muharram adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk muhasabah sekaligus upaya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT di awal tahun Hijriah.[4]
4. Membaca Doa Tobat Nabi Adam AS
Amalan lain yang dapat dilakukan pada malam 1 Muharram adalah membaca doa tobat Nabi Adam AS. Para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak istighfar dan bertobat di bulan Muharram agar dapat menyambut tahun yang baru dengan hati yang bersih serta memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Berikut bacaan doa tobat Nabi Adam AS:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَسِرِينَ.
Arab Latin: Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam tagfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.
Artinya: "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS Al-A'raf: 23).
5. Membaca Doa Asmaul Husna
Membaca doa Tawasul Ismul A'zham atau doa yang mengandung pujian kepada Allah SWT melalui nama-nama-Nya yang mulia juga termasuk amalan yang dapat dikerjakan pada malam 1 Muharram atau malam 1 Suro.
Terkait keutamaan doa ini, Rasulullah SAW pernah mendengar seseorang berdoa dengan lafaz tersebut. Beliau kemudian bersabda:
Artinya: "Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung. Apabila seseorang memohon kepada-Nya dengan menyebut nama itu, niscaya akan diberi. Dan apabila berdoa dengan menyebutnya, niscaya akan dikabulkan." (HR Ibnu Majah No. 3857).
Berikut bacaan doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَ لَكَ بِأَنَّكَ أَنتَ اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.
Arab Latin: Allaahumma innii as-aluka bi-annaka antallaahul ahadus shamadu, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul lahu kufuwan ahad.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, karena Engkaulah Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."[4]
6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Memperbanyak dzikir dan istighfar menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada malam 1 Muharram atau 1 Suro. Momen pergantian tahun dapat dimanfaatkan untuk bermuhasabah, memohon ampunan atas kesalahan yang telah lalu, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT agar memasuki tahun baru dengan hati yang lebih tenang dan bersih.[4]
Salah satu bacaan dzikir yang dapat diamalkan adalah Sayyidul Istighfar, yang dikenal sebagai penghulu istighfar dan memiliki keutamaan besar dalam memohon ampun kepada Allah SWT.
Berikut bacaan Sayyidul Istighfar:
اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.
Arab Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A-'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini'matika 'alayya wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha menepati janji dan ikrar kepada-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu, ampunilah aku, sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau."[2]
7. Melaksanakan Sholat Tasbih dan Wirid
Salah satu amalan yang juga dianjurkan pada malam 1 Muharram adalah melaksanakan sholat tasbih dan memperbanyak wirid tasbih. Pengasuh Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (LP3iA), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menjelaskan bahwa amalan ini memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang turut dijelaskan dalam kitab I'anatuth Thalibin.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW menawarkan kepada Abbas bin Abdul Muthalib sebuah amalan yang dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja, serta yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi. Amalan tersebut adalah sholat tasbih yang dikerjakan sebanyak empat rakaat.
Menurut Gus Baha, amalan tersebut dapat menghapus dosa yang lalu dan akan datang. Sebab, pada awal dan akhir tahun Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya.
"Awwalu wa akhiru, qadimahu wa haditsahu, sirrahu wa alaniyatahu."
Artinnya: "Yang awal dan akhir, yang lama dan yang baru, yang tanpa disengaja maupun yang terang-terangan".
Pada dasarnya, gerakan dan bacaan dalam sholat tasbih tidak banyak berbeda dengan sholat pada umumnya. Hanya saja, ada beberapa bacaan khusus di gerakan-gerakan tertentu.
Begini tata cara pelaksanaannya yang dijelaskan oleh Gus Baha:
Setelah membaca surat Al-Fatihah dan masih dalam keadaan berdiri, kita membaca tasbih sebanyak 15 kali. Bunyinya, Subhânallah, wal hamdu lillah, wa lâ ilâha illallah, wallahu akbar.
Lalu rukuk, dan menambah bacaan rukuk dengan membaca tasbih 10 kali.
Ketika sujud membaca bacaan tasbih sebanyak 70 kali. Adapun rinciannya menurut Gus Baha sebagai berikut: Ketika sujud baca 10 kali. Kemudian berdiri dari sujud, baca 10 kali. Lalu lakukan sujud, dalam keadaan sujud baca 10 kali. Bangkit dari sujud, baca 10 kali.[5]
8. Melaksanakan Sholat Sunnah Tobat
Sholat sunnah lainnya yang juga bisa dikerjakan pada malam 1 Suro adalah sholat Tobat. Sholat Taubah dikerjakan untuk bertobat atau memohon ampunan kepada Allah SWT, terutama bagi mereka yang merasa telah berbuat dosa. Sholat ini dikerjakan untuk menyesali perbuatan maksiat (dosa) dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
9. Melaksanakan Sholat Hajat
Sama seperti sholat Tobat, sholat Hajat dapat dikerjakan kapan saja, termasuk pada malam hari. Artinya, umat muslim juga boleh mengerjakan sholat Hajat pada malam 1 Suro.
Sholat Hajat dikerjakan umat muslim ketika mempunyai keinginan tertentu atau sedang mencari jalan keluar atas masalah yang tengah dihadapi. Sholat ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan sebanyak 12 rakaat dengan salam di setiap 2 rakaat.[6]
Pantangan Malam 1 Suro
Sebagian masyarakat Jawa juga mengenal sejumlah pantangan yang dipercaya berlaku pada malam 1 Suro. Pantangan-pantangan ini merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat.
Berikut beberapa pantangan yang kerap dikaitkan dengan malam 1 Suro:
1. Tidak Mengadakan Hajatan Besar
Sebagian masyarakat Jawa menghindari penyelenggaraan acara besar seperti pernikahan, khitanan, atau pesta lainnya pada bulan Suro. Bulan ini dianggap lebih tepat digunakan untuk berdoa, bermuhasabah, dan meningkatkan laku spiritual dibandingkan menggelar perayaan yang meriah.
2. Menghindari Konflik dan Pertengkaran
Malam 1 Suro juga dimaknai sebagai waktu untuk menjaga ketenangan batin dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Karena itu, masyarakat dianjurkan menghindari perselisihan, pertengkaran, maupun perilaku yang dapat memicu konflik.
3. Tidak Melakukan Perjalanan Jauh
Dalam sebagian tradisi Jawa, bepergian jauh pada malam atau bulan Suro dipercaya sebaiknya dihindari. Kepercayaan ini berakar dari pandangan bahwa bulan Suro merupakan waktu yang sakral dan perlu diisi dengan kegiatan spiritual.
4. Menjauhi Kesenangan yang Berlebihan
Bulan Suro sering dijadikan momentum untuk memperbanyak ibadah dan pengendalian diri. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas yang berlebihan dalam hal hiburan dan kesenangan duniawi.
5. Tidak Keluar Rumah Tanpa Keperluan Penting
Ada pula kepercayaan yang menyebutkan bahwa malam 1 Suro sebaiknya diisi dengan doa dan perenungan di rumah. Karena itu, sebagian masyarakat menghindari bepergian pada malam hari kecuali untuk keperluan yang dianggap penting.
6. Menghindari Keramaian dan Kebisingan
Pantangan ini berkaitan dengan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang masih dijalankan di lingkungan keraton. Pada malam 1 Suro, suasana hening dan khidmat dianggap lebih sesuai dengan semangat perenungan serta introspeksi diri.
7. Menjaga Perkataan
Masyarakat juga dianjurkan menjaga ucapan selamat malam 1 Suro. Berkata kasar, mengumpat, atau mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti orang lain dianggap tidak sejalan dengan nilai pengendalian diri yang dijunjung pada momen tersebut.
8. Tidak Pindah atau Membangun Rumah
Sebagian masyarakat Jawa menghindari pindah rumah maupun memulai pembangunan pada bulan Suro. Pantangan ini berasal dari kepercayaan tradisional yang meyakini bahwa kegiatan tersebut berpotensi mendatangkan hambatan atau kesialan di kemudian hari.[7]
Pendapat Para Ulama tentang Bulan Suro
Prof KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah berpendapat mengenai mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai bulan Suro.
Dalam salah satu kajian yang tayang di kanal Youtube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, kerap menganggap bulan Muharram atau Suro sebagai bulan yang keramat. Karena anggapan tersebut, sebagian orang memilih untuk tidak mengadakan hajatan besar, melakukan perjalanan jauh, atau aktivitas tertentu yang dianggap hari nahas atau sial.
Menurut Buya Yahya, keyakinan bahwa suatu waktu atau bulan tertentu membawa kesialan perlu disikapi secara hati-hati. Dalam ajaran Islam, tidak ada bulan yang membawa sial atau musibah. Muharram justru termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
"Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena keributan bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu". kata Buya Yahya yang dikutip detikSulsel, Senin (16/6/2026).
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ustaz Muhammad Abduh. Ia menjelaskan bahwa menganggap suatu waktu sebagai penyebab datangnya kesialan termasuk bentuk keyakinan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Menurutnya, segala peristiwa yang terjadi merupakan ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak mengaitkan datangnya musibah dengan bulan tertentu, melainkan memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan bertawakal kepada Allah SWT.
Referensi
[1] Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid
[2] Buku Doa & Zikir Sepanjang Tahun oleh H Hamdan Hamedan, MA
[3] Akun Instagram Alumnus Pesantren Darul Zahra Tarim Hadramaut, Yaman, Ustazah Halimah Alaydrus (@halimahalaydrus)
[4] Laman Badan Amil Zakat Nasional yang berjudul "Amalan Malam 1 Muharram: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Ibadah"
[5] Laman Nahdlatul Ulama (NU Online) yang berjudul "Gus Baha Berikan Amalan Penghapus Dosa di Malam Tahun Baru Islam"
[6] Laman Kementerian Agama (Kemenag) RI, "Cara Shalat Hajat Lengkap dengan Niat dan Doanya"
[7] Jurnal "Larangan beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta" oleh Riskha Nadia Ayuputri
(urw/alk)
