Perbedaan Metode Hisab dan Rukyatul Hilal dalam Sidang Isbat

Perbedaan Metode Hisab dan Rukyatul Hilal dalam Sidang Isbat

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Sabtu, 16 Mei 2026 22:30 WIB
Perbedaan metode hisab dan rukyatul hilal dalam sidang isbat.
Foto: Ilustrasi. (Gilang Faturahman/detikFoto)
Makassar -

Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia selalu menjadi perhatian menjelang hari-hari besar keagamaan Islam. Pemerintah biasanya menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri, hingga Idul Adha.

Melansir laman resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI, terdapat dua metode utama dalam menentukan awal bulan dalam penanggalan Hijriah. Dua metode tersebut ialah hisab dan rukyat, yang cukup familiar di tengah masyarakat.

Meski sama-sama digunakan dalam sidang isbat, hisab dan rukyatul hilal memiliki pendekatan yang berbeda. Perbedaan metode tersebut juga kerap memunculkan perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa perbedaan metode hisab dan rukyatul hilal dalam sidang isbat? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Perbedaan Metode Hisab dan Rukyatul Hilal

Menyadur laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), "rukyat" secara bahasa berarti "melihat". Dalam penentuan awal bulan Hijriah, metode rukyatul hilal dilakukan dengan melihat atau mengamati kemunculan hilal atau Bulan baru di ufuk, baik secara langsung maupun menggunakan alat bantu seperti teropong.

ADVERTISEMENT

Melalui metode rukyat, hilal harus benar-benar terlihat untuk menjadi penanda masuknya awal bulan Hijriah. Karena itu, proses pengamatan biasanya dilakukan pada waktu tertentu menjelang pergantian bulan.

Sementara itu, "hisab" secara bahasa berarti "menghitung". Metode hisab dilakukan dengan menggunakan perhitungan ilmu falak atau ilmu astronomi untuk menentukan posisi hilal dan menetapkan awal bulan Hijriah.

Berbeda dengan rukyat, metode hisab tidak mengharuskan pemantauan hilal secara langsung. Penentuan awal bulan Hijriah cukup dilakukan melalui perhitungan matematis dan astronomis yang sudah dapat diprediksi jauh hari sebelumnya.

Awal Mula Perbedaan Ulama Memilih Metode Rukyat dan Hisab

Masih dari laman MUI, Ibnu Rusyd dalam bukunya berjudul Bidayat al- Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid menyebutkan bahwa perbedaan penggunaan metode rukyat dan hisab dalam menentukan awal bulan Hijriah telah terjadi sejak era sahabat dan tabiin.

Sahabat Nabi, Ibnu Umar, dikenal berpegang pada metode rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah. Sementara itu, seorang tabiin senior bernama Mutharrif bin Syikhir disebut lebih memilih menggunakan metode hisab.

Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan pemahaman terhadap hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:

Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ‘Ω Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ£ΩŽΩˆΩ’ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ أَبُو Ψ§Ω„Ω’Ω‚ΩŽΨ§Ψ³ΩΩ…Ω Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ΅ΩΩˆΩ…ΩΩˆΨ§ Ω„ΩΨ±ΩΨ€Ω’ΩŠΩŽΨͺِهِ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΩΩ’Ψ·ΩΨ±ΩΩˆΨ§ Ω„ΩΨ±ΩΨ€Ω’ΩŠΩŽΨͺِهِ فَΨ₯ِنْ ΨΊΩΨ¨Ω‘ΩΩŠΩŽ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω’ ΩΩŽΨ£ΩŽΩƒΩ’Ω…ΩΩ„ΩΩˆΨ§ ΨΉΩΨ―Ω‘ΩŽΨ©ΩŽ Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ¨ΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ«ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψ«ΩΩŠΩ†ΩŽ

Artinya: "Nabi SAW bersabda, atau Abul Qasim SAW telah bersabda, "Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan (mendung), maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Syaban menjadi tiga puluh." (HR Bukhari)

Sebagian ulama memahami hadits tersebut sebagai anjuran melihat hilal secara langsung melalui rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah. Namun, sebagian ulama lainnya menilai perhitungan astronomi atau hisab dapat digunakan untuk menentukan awal bulan, terutama seiring berkembangnya ilmu falak dan astronomi.

Kedua metode tersebut sama-sama berasal dari hasil ijtihad ulama dalam memahami dalil mengenai penentuan awal bulan Hijriah. Karena itu, hisab maupun rukyatul hilal sama-sama memiliki dasar dan perbedaannya dipandang sebagai bagian dari ijtihad para ulama.

Tujuan Adanya Sidang Isbat

Di Indonesia, terdapat perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) cenderung menggunakan metode rukyatul hilal, sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode hisab.

Perbedaan pendekatan tersebut terkadang menghasilkan penetapan awal bulan yang berbeda. Meski demikian, perbedaan pendekatan tersebut bukanlah sebuah pertentangan, melainkan bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Karena itu, sidang isbat digelar sebagai forum musyawarah yang mempertemukan ulama, ahli astronomi, dan perwakilan organisasi Islam. Melalui sidang tersebut, pemerintah menetapkan awal bulan Hijriah dengan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyat guna menjaga harmoni di tengah masyarakat.

Itulah penjelasan mengenai perbedaan metode hisab dan rukyatul hilal dalam sidang isbat. Semoga bermanfaat!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads