Kumpulan Teks Ceramah Nuzulul Qur'an Singkat dan Penuh Hikmah

Kumpulan Teks Ceramah Nuzulul Qur'an Singkat dan Penuh Hikmah

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Kamis, 05 Mar 2026 22:00 WIB
Umat Islam melakukan salat sunnah, mendengarkan ceramah di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta, Rabu (13/4/2024).
Ilustrasi ceramah Nuzulul Qur'an (Foto: Ari Saputra)
Makassar -

Nuzulul Qur'an merupakan salah satu momen bersejarah yang sangat bermakna bagi umat Islam. Peristiwa ini merujuk pada malam turunnya Al-Qur'an untuk pertama kalinya yang terjadi pada bulan Ramadan.

Melansir laman Nahdlatul Ulama, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Berdasarkan konversi kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, tanggal 17 Ramadhan jatuh pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Namun, karena pergantian hari pada kalender Hijriah dimulai setelah Magrib, maka malam Nuzulul Qur'an dimulai pada Jumat, 6 Maret 2026 setelah Maghrib.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada peringatan Nuzulul Qur'an, biasanya di berbagai masjid, sekolah, hingga majelis taklim para penceramah akan membawakan ceramah yang mengangkat tema Nuzulul Qur'an. Ceramah tersebut diharapkan dapat mengingatkan umat Muslim untuk semakin mencintai Al-Qur'an, membacanya, memahami maknanya, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi detikers yang membutuhkan referensi ceramah di peringatan Nuzulul Qur'an. Berikut kumpulan teks ceramah Nuzulul Qur'an yang singkat dan penuh hikmah yang bisa menjadi referensi.

ADVERTISEMENT

Yuk, disimak!

Kumpulan Teks Ceramah Nuzulul Qur'an Singkat dan Penuh Hikmah

1. Nuzulul Qur'an, Momen Mengenal Keagungan Al-Qur'an

Nuzulul Qur'an yang lazim diperingati umat Islam di seluruh penjuru negeri ini. Pada umumnya peringatan ini fokus pada sejarah turunnya Al-Qur'an. Akan tetapi, peringatan tersebut akan terasa lengkap, ketika umat Islam juga sebaiknya diajak untuk mengingat kembali apa al-Qur'an itu, bagaimana al-Qur'an diturunkan, serta mengingat kembali keagungan Al-Qur'an

Secara bahasa, Al-Qur'an memiliki persamaan kata, yakni al-qiraah yang memiliki arti bacaan. Hal ini terungkap dalam QS. Al-Qiyamah ayat 17-18 berikut ini :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ . فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya, "Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya. Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu."

Kemudian para ulama mendefinisikannya dalam ilmu al-Qur'an, bahwa al-Qur'an :

الْكَلَامُ الْمُعْجِزُ الْمُنَزَّلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ الْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ

Artinya : "Kalam (Allah SWT) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf yang dikutip secara mutawatir (berturut-turut dan dilakukan oleh banyak orang) serta dianggap beribadah dengan membacanya". (Muhammad Abdul 'Adhim Az-Zarqani, Manahilul 'Irfan Fi Ulumil Qur'an, [Beirut: Darul Kitab Al-'Arabi, 1995], Juz II, hal. 21).

Menurut pendapat yang masyhur, pada bulan Ramadhan, Al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz (pusat informasi semesta) ke Baitul 'Izzah (rumah ibadah penduduk langit) di langit dunia. Hal ini merujuk pada QS. Al-Baqarah: 185, QS. Ad-Dukhan: 3, dan QS. Al-Qadar: 1. Setelah itu, malaikat Jibril AS menurunkannya secara bertahap, yang berisi perintah, larangan, dan berbagai sebab. Proses penurunan Al-Qur'an secara bertahap ini berlangsung selama sekitar dua puluh tahun (Muhammad Bin Ahmad Bin Abu Bakar al-Qurthubi, al-Jami' Li Ahkamil Qur'an, [Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006], Jilid III, hal. 160-161).

Kalam Allah SWT pada definisi di atas merupakan penegasan, bahwa tidak ada kalam manusia, jin dan malaikat di dalam Al-Qur'an. Dan sejalan dengan keagungan Allah SWT, kalam-Nya juga merupakan hal yang agung. Sehingga hal ini menarik minat umat Islam yang ingin diajak bicara oleh Allah SWT. Baik dengan membacanya maupun menghafalnya.

Bagi mereka yang sekedar membaca Al-Qur'an, pahala berlipat Allah SWT janjikan setara dengan sepuluh kebaikan. Hal ini terungkap dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud RA, bahwa nabi SAW bersabda:

مَنْ قَرَأْ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَزْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya : "Rasulullah SAW bersabda : Siapapun yang membaca satu huruf dari kitab Allah SWT, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan setara dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf." (Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, [Cairo: Dar At-Ta'shil, 2016], Jilid IV, hal. 38).

Lebih lanjut, At-Tirmidzi menyampaikan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib RA, yang ditujukan kepada mereka yang menghafal Al-Qur'an dan mendalami isinya. Dalam hadits tersebut, disebutkan bahwa berdasarkan Al-Qur'an, seseorang yang memahami dan mengamalkan ajarannya akan mengetahui mana yang halal dan mana yang haram.

Selain dijanjikan masuk surga, orang tersebut juga akan diberikan kewenangan untuk memberi syafaat sepuluh orang dari keluarganya yang divonis masuk neraka agar dapat masuk surga. Nabi SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُزآنَ فَاسْتَظْهَرَهُ فَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ أَدْخَلَهُ اللّهُ بِهِ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ

Artinya, "Siapa saja yang membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya, kemudian menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Al-Qur'an, dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Al-Qur'an, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan Al-Qur'an tersebut dan memberi syafaatnya kepada sepuluh orang dari keluarganya, yang semuanya [pada awalnya] telah ditetapkan masuk neraka." (Sunan At-Tirmidzi, Jilid IV, hal. 31).

Keagungan Al-Qur'an tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca dan menghafalnya, tetapi juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam menjawab berbagai tantangan manusia yang mengingkarinya.

Di sisi lain, Al-Qur'an juga mampu melemahkan tantangan-tantangan tersebut. Kemampuan ini dikenal dengan istilah i'jazul Qur'an, yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat, bahkan menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.

Menurut As-Suyuthi, kebesaran mukjizat Al-Qur'an dapat dilihat dari sisi rasionalitasnya. Jika mukjizat para nabi terdahulu bersifat indrawi, seperti unta Nabi Shalih AS dan tongkat Nabi Musa AS, maka seiring wafatnya para nabi tersebut, mukjizat mereka hanya tinggal cerita.

Tidak ada satu pun manusia yang dapat melihatnya, apalagi menirunya. Sedangkan mukjizat Al-Qur'an tetap ada sepanjang masa, seiring perkembangan rasionalitas manusia itu sendiri. (Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Qur'an, [Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2008], hal. 645).

Salah satu contoh mukjizat Al-Qur'an yang mengajak manusia modern berpikir secara serius adalah proses perkembangan janin manusia yang terungkap dalam QS. Al-Mu'minun ayat 12-14.

Ayat ini disampaikan pada masa ketika belum ada ilmu kedokteran modern seperti saat ini. Selain itu, ayat tersebut disampaikan oleh sosok yang tidak mampu membaca dan menulis.

Berdasarkan fakta ini, para dokter modern termotivasi untuk mengembangkan ilmu kedokteran hingga muncul cabang spesialisasi dokter kandungan. Motivasi inilah yang menurut Manna'ul Qathan disebut sebagai i'jazul ilmi (Manna'ul Qathan, Mabahits fi Ulumil Qur'an, hal. 270).

Pada akhirnya, memperingati Nuzulul Qur'an pada bulan Ramadhan tidak sekadar mengenang bagaimana Al-Qur'an diturunkan, tetapi juga menjadi media untuk memantapkan keyakinan umat Islam terhadap keagungannya. Hal itu dapat dilakukan dengan membaca, mempelajari, dan mengamalkan isi Al-Qur'an. Wallahu A'lam.

Oleh: Ustadz Muhammad Tantowi, Koordinator Ma'had MTsN 1 Jember
Sumber: NU Online

2. Memaknai Nuzulul Qur'an

Pertama sekali marilah kita bersyukur kehadirat Allah, yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan sholat Jumat di masjid yang mulia ini.

Sholawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad. Nabi yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bersholawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di Hari Akhir nanti, amin.

Hadirin, kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepadaNya Amin.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sehingga Ramadhan juga disebut Bulan Al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan pertama kali di Gua Hira oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Yang berupa Surat al-Alaq dari ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Al-Qur'an merupakan kitab petunjuk yang memiliki keistimewaan. Al-Qur'an merupakan kitab penyempurna daripada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Selain itu, Al-Qur'an juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad.

Tak heran banyak masyarakat yang memperingatinya dengan cara beragam. Mulai kegiatan bersama di masjid atau musala, buka bersama, hingga mengkhatamkan Al-Qur'an.

Semua itu dilakukan dalam rangka menghormati turunnya Kalamullah berupa Al-Qur'an. Kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mengingat sejarah dan menanamkan nilai-nilai Islam, khususnya pada anak-anak sebagai generasi selanjutnya.

Banyak sekali keistimewaan yang bisa kita dapatkan dari Al-Qur'an. Apalagi seseorang mau membaca dan mengamalkannya di Ramadhan. Di antara empat keistimewaan Al-Qur'an yaitu:

1. Menjadi Pedoman, petunjuk, dan rahmat bagi manusia

Di dalam menjalani kehidupan, agar manusia berada dalam kebenaran, maka manusia butuh pedoman dan petunjuk. Al-Qur'an adalah petunjuk Allah, oleh karenanya manusia harus menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupannya agar bisa hidup dengan baik dan nyaman. Allah berfirman:

هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya: "(Al-Qur'an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS Al Jasiyah Ayat 20)

2. Menjadi obat bagi manusia

Bahwa dalam waktu tertentu, terkadang manusia merasa kurang nyaman dalam hidupnya. Baik secara dhahir maupun batin. Ketidaknyamanannya itu membutuhkan pengobatan sesuai dengan penyakitnya. Al-Qur'an diturunkan Allah untuk menjadi obat bagi manusia yang merasa dalam hidupnya mengalami ketidaknyamanan. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. A-Isra/17: 82)

3. Menjadi pemelihara dan mempertahankan martabat kemanusiaan

Al-Qur'an mengajarkan manusia bagaimana cara untuk mempertahankan martabat yang tinggi. Yakni, memelihara dan mempertahankannya dengan iman dan kebajikan. Hal ini diajarkan dalam ayat berikut:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Artinya: "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya." (QS At-Tin Ayat 6)

4. Pelajaran dan penerangan

Al-Qur'an juga menjadi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai kitab untuk memberi penerangan bagi manusia. Berikut Surat Yasin Ayat 69:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

Artinya: "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas," (QS. Yasin/36: 69)

5. Solusi masalah masyarakat

Al-Qur'an juga diturunkan sebagai pemutus hukum dan pengangkat perselisihan serta pembeda antara yang hak dan batil. Mengingat banyaknya masalah yang muncul di kalangan masyarakat dari zaman Nabi sampai sekarang. Allah berfirman:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: "Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur'an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Surat An Nahl Ayat 64)

Demikianlah ceramah yang singkat ini, semoga kita selalu berusaha dekat dengan Al-Qur'an dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman seumur hidupnya sehingga Allah ridha dan menjadikan kita orang-orang yang mendapatkan keberkahan dari Al-Qur'an, di dunia dan akhirat, amin.

Oleh: K.H Ahmad Misbah
Sumber: NU Banten

3. Nuzulul Qu'ran

Melalui ceramah singkat ini marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT dan kita tinggalkan segala larangan-Nya. Betapa bahagianya orang yang mendapatkan predikat takwa kepada Allah SWT.

Karena mereka yang bertakwa kepada Allah akan mendapatkan kebaikan baik itu dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.

Ketahuilah bahwa di dalam bulan Ramadhan ini semakin menjelang akhir maka semakin besar keutamaannya. Karena semakin akhir keutamaan di bulan Ramadhan ini banyak sekali mengandung keistimewaan dan keutamaan yang besar.

Salah satu peristiwa yang terjadi pada malam Ramadhan yang tidak boleh kita lupakan adalah Nuzulul Qur'an. Yakni peristiwa pertama kali turunnya Al-Qur'an.

Al-Qur'an ini diturunkan saat perang dunia pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur. Sebagaimana sabda Nabi SAW Dan hadits riwayat Imam Thabrani :

"Riwayat dari Ibnu Abbas RA berkata: Al-Qur'an diturunkan pada malam Al-Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur-angsur."

Hadirin yang berbahagia,
Perlu kita ketahui, bahwa Al-Qur'an mulai diturunkan kepada Nabi ialah ketika Nabi berkhalwat di Gua Hira pada malam Senin, malam ke-17 Ramadhan tahun 41 dari tahun kelahiran Nabi SAW bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. Penetapan malam Nuzulul Qur'an tanggal 17 Ramadhan ini berdasarkan keterangan Firman Allah SWT Surat Al-Anfal ayat 21:

إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

"Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan".

Yang dimaksud hari bertemu dua pasukan adalah bertemunya tentara Islam dengan tentara Quraisy dalam pertempuran Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Adapun ayat yang pertama kali turun ialah surat Al-'Alaq ayat 1-5 yang berbunyi

إِقْرَأْ بِسْمِ رَبِكَ الَّذِى خَلَقَ , خَلَقَ الِإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ , إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ , الَّذِى عَلَّمَ بِالقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ ,

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Setelah kita mengetahui proses dari Nuzulul Qur'an, maka hendaknya kita mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT limpahkan kepada kita yakni kenikmatan berupa petunjuk ke arah kebenaran dan semuanya telah terkandung di dalam al-Qur'an yang mulia itu.

Ketahuilah bawa Rasulullah SAW selalu menaruh perhatian kepada Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Terutama pada bulan Ramadhan, Rasulullah SAW semakin tekun di dalam memperhatikan Al-Qur'an, mempelajari Al-Qur'an dan membacanya merupakan pendekatan kepada Allah yang paling tinggi dan ibadah yang paling berharga.

Seperti yang dijelaskan dalam sabda Nabi SAW:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya"

Juga Nabi SAW bersabda:

"Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak terdapat sedikitpun dari Al-Qur'an, maka bagaikan rumah yang runtuh"

Sungguh perlu diketahui bahwa tatkala kita mempelajari dan membaca Al-Qur'an pahalanya begitu berlimpah ruah. Bayangkan saja dalam satu huruf dari Al-Qur'an bernilai satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan bernilai berlipat sepuluh kali. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu sabda nabi SAW:

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." (HR At Tirmidzi dan berkata, "Hadits hasan shahih").

Akhirnya dengan mengetahui betapa besar keutamaan membaca Al-Qur'an maka marilah kita tingkatkan perhatian kita terhadap Al-Qur'an dengan jalan mempelajari dan mengajarkannya kepada generasi penerus kita.

Oleh: Ustadz Nur Fathoni
Sumber: Laman Pondok Pesantren Darunnajah

4. Menyemarakkan Malam Nuzulul Qur'an dengan Iman dan Al-Qur'an

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga kita termasuk umat beliau yang mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak.

Hadirin yang berbahagia,

Tak terasa, bulan suci Ramadan telah berada di pertengahannya. Waktu berjalan begitu cepat. Karena itu, marilah kita memanfaatkan sisa Ramadan yang penuh kemuliaan ini dengan meningkatkan kualitas ibadah kita. Jangan lupa pula untuk senantiasa berdoa agar Allah SWT mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Salah satu doa yang dianjurkan adalah:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِي مَرْحُومًا وَلَا تَجْعَلْنِي مَحْرُومًا

Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan Ramadhan ini sebagai Ramadan terakhir bagi kami. Jika Engkau mentakdirkan demikian, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau rahmati dan jangan Engkau jadikan aku termasuk orang yang merugi."

Jangan pernah ragu untuk berdoa, terlebih di bulan Ramadhan. Karena Allah SWT telah berfirman dalam QS. Ghafir ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina."

Hadirin yang dirahmati Allah,

Di bulan Ramadan ini terdapat satu peristiwa agung yang sangat mulia, yaitu Nuzulul Qur'an, malam ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira melalui perantara Malaikat Jibril.

Ketika itu, Nabi Muhammad SAW sedang bertahanuts, menyendiri untuk beribadah dan merenung. Malaikat Jibril datang dan berkata, "Iqra'!" - Bacalah!

Nabi menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Perintah itu diulang hingga akhirnya turun wahyu pertama, QS. Al-'Alaq ayat 1-5:

إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ... عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya membaca, belajar, dan menuntut ilmu. Perintah pertama dalam Islam bukanlah salat atau puasa, melainkan membaca. Ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan.

Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun-13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Penurunan secara bertahap ini mengajarkan kepada kita pentingnya proses dalam kehidupan.

Hadirin yang berbahagia,

Lalu bagaimana cara kita menyemarakkan malam Nuzulul Qur'an di zaman sekarang?

Pertama, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika dahulu Nabi bertahanuts di Gua Hira, maka hari ini kita bisa melaksanakannya dengan memperbanyak ibadah, beriktikaf di masjid, memperbanyak doa dan zikir. Rasulullah SAW senantiasa beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Kedua, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur'an. Membacanya, mentadaburinya, menghafalnya, serta mengamalkannya. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an akan diganjar sepuluh kebaikan. Di bulan Ramadan, pahala itu dilipatgandakan.

Para ulama menganjurkan agar umat Islam mengkhatamkan Al-Qur'an minimal satu kali selama Ramadan. Caranya dengan menargetkan satu juz setiap hari agar di akhir Ramadhan genap 30 juz.

Hadirin sekalian,

Semoga momentum Nuzulul Qur'an ini menjadi pengingat bagi kita untuk semakin dekat dengan Al-Qur'an, bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang kehidupan kita.

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencintai Al-Qur'an, membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sumber: PPPA Daarul Qur'an

5. Rahasia dan Keistimewaan Nuzulul Qur'an

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wasalatu wasalamu 'ala an-nabiyil karim, nabiyyina wa sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in.

Saudara-saudariku sebangsa setanah air, di antara peristiwa teragung dan istimewa yang berlangsung di bulan Ramadhan adalah peristiwa diturunkannya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai wahyu utama. Peristiwa ini bahkan tegas diungkapkan oleh Al-Qur'an, mengiringi paket rangkaian ayat-ayat puasa. Bila kita baca paket rangkaian ayat puasa ini, kita temukan dari ayat 183, 184, 185, 186, dan 187 di Surah Al-Baqarah, surah ke-2 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Maka penegasan ini kita temukan di ayat pertengahannya, yaitu ayat 185. Allah Subhanahu wa Ta'ala tegas menyampaikan, berfirman: Syahru Ramadhan... Di bulan Ramadhan yang diwajibkan engkau menjalani ibadah puasa itu, saat itulah diturunkan Al-Qur'an.

Al-Qur'an diturunkan bukan sekadar menjadi kitab bacaan untuk sekadar kita tilawahi, kita baca, kemudian kita lantunkan dalam keseharian. Tujuan utama Al-Qur'an diturunkan, kata Allah, adalah sebagai pedoman berkehidupan untuk seluruh manusia tanpa kecuali. Dan penjelas dari pedoman itu dijelaskan bagaimana kita terlahir, untuk apa kita berkehidupan, bagaimana perkembangan dan tumbuh kita dari kecil sampai dengan dewasa, bagaimana kita memilih di dunia yang kita huni ini, apa yang harus dikerjakan, apa yang digali, bagaimana kita menjalani hidup sampai ke ujung waktu kita meninggalkan dunia, peristiwa yang terjadi ketika meninggalkan dunia, saat sakaratul maut, apa yang dialami di kubur, serta di mana manusia dikumpulkan setelah kebangkitan, hingga pada puncaknya adalah penghisaban dan penentuan: apakah mendapatkan ridha dan rahmat Allah dengan surga itu, ataukah bertempat di tempat hukuman yang kita kenal dengan neraka. Itulah Al-Qur'an.

Jadi saat kita diperkenalkan oleh Allah dengan Al-Qur'an, mukjizat teragung yang melekat pada kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, saat yang bersamaan kita diajar tentang cara berkehidupan. Al-Qur'an bukan sekadar mukjizat. Al-Qur'an adalah manhaj. Al-Qur'an adalah pedoman yang mengeluarkan kita dari segala macam kerumitan dan kesulitan hidup, menjadi cahaya yang mengiringi kita pada kemudahan dan kenyamanan dalam berkehidupan.

Itulah sebabnya Allah memberikan satu contoh yang menggugah pada diri kita dan mengajak akal kita dalam saat yang bersamaan untuk berpikir. Saat Al-Qur'an diturunkan di komunitas yang begitu dalam tingkat kriminalitasnya, semua ragam keburukan nyaris sempurna dilakukan pada komunitas dimaksud, sehingga disebutlah masyarakat ini dengan nama jahiliah. Rampokan, perzinaan, mabuk, pembunuhan, tipu-menipu, pembegalan, komplit terjadi di lingkup masyarakat ini.

Lantas apa yang terjadi? Allah tidak mengembalikan tongkatnya Musa 'alaihi salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau menitipkan mukjizatnya Nabi Isa 'alaihi salam pada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirimkan satu pedoman tata cara berkehidupan yang elegan, yang ideal, sehingga mampu merubah tatanan masyarakat yang berada di titik nadir keburukan itu berubah menjadi contoh teladan pada masyarakat terbaik yang pernah hidup di muka bumi. Jahiliah berubah menjadi khairu ummah.

Diturunkan Al-Qur'an menjadikan hati yang keras dan kasar menjadi lembut dan begitu baik. Pencuri berubah menjadi orang yang sangat dihormati. Orang yang rakus berubah menjadi orang yang begitu dermawan. Orang-orang pecundang berubah menjadi pemenang. Orang-orang pemukul berubah menjadi perengkuh. Semua jenis kebaikan yang dibawa oleh Al-Qur'an berhasil merubah masyarakat itu dari sekadar jahiliah menjadi istimewa yang pernah lahir dan berkehidupan di bumi, diakui persaksian Allah pada transformasi perubahan masyarakat jahiliah yang terjadi.

Dan menariknya, kurikulum ini tidak hanya berlaku sampai semua kita kembali pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan Al-Qur'an menjadi saksi untuk kita, pemberat nizan kita, syahidun lana syahidun 'alaina. Ia bahkan menjadi syafaat bagi orang-orang yang mau mencintai, mendekat, berinteraksi, dan mengamalkan kandungannya. Syafi'an li ashabihi. Nabi menegaskan, ia bisa menjadi syafaat untuk sahabat-sahabatnya, untuk yang gemar mencintai dan mengamalkan isinya.

Itulah Al-Qur'an. 114 surah, 30 juz, 6236 ayat, kurang lebih 52.000 kosakata keseluruhannya. Bukan sekadar kalimat-kalimat yang dibacakan. Betul, membaca mengantarkan kita pada kedamaian, ketenteraman. Itulah Al-Qur'an. Membaca sesungguhnya adalah gerbang untuk mendalami makna. Kita membaca untuk tahu isinya. Kita baca Al-Qur'an untuk mendalami maknanya. Dan seluruh makna Al-Qur'an dari Al-Fatihah sampai dengan An-Nas adalah kurikulum kehidupan. Sekali lagi, tidak hanya berlaku di era Nabi, tapi era setelahnya sampai kita kembali kepada Allah.

Itulah sebabnya kemajuan Islam itu dicapai ketika umatnya mampu dekat, memahami, dan mau mengamalkan isi Al-Qur'an. Silakan kita bisa cek bagaimana Islam bisa berkembang sampai dengan ke Afrika, sampai dengan ke Eropa di Andalusia, bahkan sampai dengan ke Nusantara, datang tanpa ada peperangan, dengan penuh kedamaian dan memberikan satu perubahan pada kehidupan masyarakat di tatanan Nusantara.

Semua berkeadilan sosial. Yang tadinya didapati ada kasta-kasta, tingkatan-tingkatan dalam berkehidupan, masyarakat sungkan untuk bergaul satu dengan yang lainnya karena ada sekat dan batas-batas. Islam datang memberikan sifat berkeadilan sosial untuk semua. Islam datang mengajarkan berketuhanan Yang Maha Esa yang benar. Islam datang memanusiakan manusia, sehingga konsepnya datang dengan keadilan dan penuh dengan keadaban. Islam datang menyatukan, sehingga persatuan itu dirasakan begitu baik. Islam datang dengan suasana kerakyatan yang begitu baik, yang dipimpin oleh hikmat yang melahirkan kebijaksanaan, yang bermusyawarah dalam setiap persoalan, dan mewakilkan persoalan kepada pakar-pakar di bidangnya, sehingga terjadi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat yang dapat menikmatinya. Itulah fungsi Al-Qur'an. Itulah Al-Qur'an.

Ramadan, khususnya saat kita masuk ke tanggal 17, sebagian ulama memberikan penjelasan bahwa ini di antara momentum awal diturunkannya Al-Qur'an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia. Dari langit dunia baru ditebarkan kepada perjalanan masyarakat Islam di era Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui Nabi agung yang sangat mulia itu. Turunnya Al-Qur'an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia yang diketahui oleh semua bagian penduduk langit, itulah yang disebut dengan nuzul Al-Qur'an, yang memberikan gambaran besar yang terdapat di dalamnya kemuliaan di satu malam, yaitu malam Al-Qadar.

Sedangkan turunnya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kebutuhan masyarakat pada saat itu, sehingga menjadi kurikulum bagi kita sampai dengan saat ini. Ini diberikan oleh Allah dalam durasi waktu yang sesuai dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kurang lebih 22 tahun beliau berkehidupan dan menjalani masa dakwah.

Untuk itu, teman-teman semua, sekarang saatnya kita mengeluarkan kembali kurikulum itu. Yang menjadi pelajar, keluarkan ayat-ayat yang membimbing kita bagaimana cara belajar yang baik, tidak mudah lupa, memahami dengan benar, mengamalkan apa yang kita pahami, dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ayat-ayat tentang penyelenggara negara, bagaimana menjadi pemimpin yang adil yang baik. Ayat-ayat tentang kehakiman, bagaimana menjadi hakim yang jujur yang mulia sehingga dipanggil dengan kalimat yang mulia. Ayat-ayat tentang keamanan saat bertugas di TNI, di Polri. Ayat-ayat tentang parlemen, bagaimana menjadi utusan yang baik, bagaimana menjaga amanah masyarakat, bagaimana seorang anggota dewan akan dihisab. Ayat-ayat tentang bisnis, bagaimana berbisnis yang benar, yang tidak merugikan, tidak memonopoli, mensejahterakan, membangun kemakmuran untuk sesama. Ayat-ayat tentang kerakyatan, bagaimana menjadi rakyat yang baik, bagaimana menjadi rakyat yang kompak, bagaimana menjadi rakyat yang akur, yang bersatu, terjauh dari perpecahan. Ayat-ayat yang membimbing para ustaz, para agamawan, untuk menjadi pencerah, menghindari diri dari berbagai tipu daya tarikan dunia, bukan menjual diri, menjual ayat-ayat kepentingan-kepentingan materi.

Semua tuntunan itu mengantarkan kita pada kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Itulah Al-Qur'an.

Saatnya untuk merenung kembali. Saatnya untuk berinteraksi dengan serius dan mengamalkan isinya. Setidaknya kita bisa amalkan di tempat yang kita cintai ini, di negara yang kita pijak, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ahli Al-Qur'an yang diterangi di dunia, diberikan cahaya di alam kubur, dan mendapat syafaat saat di akhirat kelak.

Akhirul kalam, aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh: Uztadz Adi Hidayat
Sumber: YouTube Adi Hidayat Official

6. Kemuliaan Nuzulul Qur'an

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wasalatu wasalamu 'ala an-nabiyil karim, nabiyyina wa sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT

Dari dua belas (12) bulan yang ada dalam kalender agama Islam, Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa. Karena keistimewaannya, Ramadhan mendapat julukan sebagai sayyidus syuhur-raja atau pemimpin seluruh bulan. Atas julukan ini, ada beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain, antara lain: Pertama, karena Ramadhan dipilih sebagai bulan diturunkannya ayat pertama al-Qur'an (QS. al-Baqarah: 185). Oleh karena itu, salah satu ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca al-Qur'an. Kedua, dalam bulan Ramadhan, ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan yang disebut malam lailatul qadar. Nilai ibadah yang dilaksanakan di malam ini, lebih baik daripada nilai ibadah seribu bulan. Ketiga, ramadhan merupakan bulan istimewa, karena kebaikan-kebaikan yang dikerjakan bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda.

Pada kesempatan ini penting bagi kita mengingat kembali peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Islam, yaitu malam pertama diturunkannya al-Qur'an oleh Allah Swt melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, tepat pada malam Jum'at bertepatan dengan hari ke tujuh belas Ramadhan, dan akhirnya kita kenal dengan malam Nuzulul Qur'an. Bila kita mengkaji kembali tentang peristiwa ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah agar ketaqwaan kita semakin kuat dan keyakinan kita semakin mantap terhadap kitab suci al-Qur'an yang isinya memberi petunjuk bagi umat manusia serta pembela di antara perkara yang haq dan bathil. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil), Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. al-Baqarah [2]: 185)

Adapun ayat al-Qur'an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-'Alaq ayat 1 sampai 5. Al-Qur'an diturunkan ke bumi tidak sekaligus tetapi berangsur angsur, sedikit demi sedikit, bertahap, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Israa, ayat 106:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَلْنَاهُ تَنْزِيلًا

"Dan al-Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur angsur agar kamu membacakannya perlahan lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian". (QS. al-Israa [17]: 106

Dengan bertahap ini, maka al-Qur'an lebih mudah diterima dan mudah dihafal. Dan waktu itu, faktanya, banyak dari para sahabat Nabi yang hafal al-Qur'an. Namun di fase berikutnya, terjadi pertempuran antara orang Islam dengan kaum kafir dan musyrik yang menentang serta menghalangi dakwah Nabi hingga akhirnya banyak para sahabat Nabi yang gugur di medan perang sebagai syuhada', tak terkecuali para sahabat penghafal al-Qur'an. Oleh karena itu, muncul sebuah gagasan untuk membukukan al-Qur'an sebagai suatu kitab, hingga pada gilirannya dapat dinikmati sampai sekarang ini, dan Allah senantiasa menjaga keaslianya.

Setelah mengetahui secara sekilas tentang proses turunya al-Qur'an, maka hendaknya kita mensyukuri kenikmatan luar biasa yang dilimpahkan oleh Allah kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW yang berupa al Qur'an yang berisi petunjuk-petunjuk yang benar. Dari itulah, kita sebagai umat Nabi Muhammad, patut kiranya hunjuk syukur yang senantiasa tercurahkan kepada Allah Swt, karena hingga kini masih menikmati keimanan dan keislaman kita.

Wujud terima kasih dan rasa syukur atas turunya al-Qur'an ini harus direalisaikan dalam kehidupan umat Islam sehari hari, yaitu dengan perlakuan yang sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh, baik dalam membaca, memahami makna, mengamalkan isinya, mengajarkan dan mendakwahkan isi kandungan al-Qur'an, dengan harapan kelak di hari kiamat mendapat syafa'atnya. Sebagaimana hadist Nabi yang artinya: "Bacalah Al Qur'an, karena ia pada hari kiamat nanti akan datang untuk memberikan syafaat (pertolongan) kepada para nemhacama" (HR. Muslim)

Begitu besarnya fadhilah membaca al-Qur'an bagi para pembacanya. Terlebih lagi pada bulan ramadhan, bulan yang dipilih oleh Allah menjadi bulan diturunkanya ayat pertama al Qur'an, ibadah yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca al-Qur'an, di samping memperbanyak melakukan kebaikan yang lainnya.

Dalam hadist yang lain Rasulullah menjelaskan: "Seorang mukmin yang membaca al-Qur'an dan mengamalkan isinya ibarat buah jeruk manis, rasanya enak dan baunya harum. Sedangkan, orang mukmin yang tidak membaca al-Qur'an tetapi mengamalkan isinya, ibarat buah kurma, rasanya enak dan manis tetapi tidak ada baunya. Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur'an maka ibarat minyak wangi, baunya harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan, orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an ibarat buah kamarongan, rasanya pahit dan baunya busuk" (Hadist Shahih riwayat al Bukhari, Muslim, Al Tirmidzi, Abu Dawud, Al Nasai, Ibnu Majah, Al Darimi dan Ahmad).

Allah sangat memuliakan orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan Allah mengakuinya sebagai Ahlullah (keluarga Allah) di dunia, dan Allah memberi kedudukan yang sangat mulia kepada para penghafal al-Qur'an, sebagaimana hadist riwayat Abu Hurairah r.a: "Barang siapa berharap bisa bertemu dengan Allah maka hendaknya menghormati keluarga Allah" Seseorang bertanya Ya Rasul Allah, apakah Allah Azza wa Jalla mempunyai keluarga? Beliau menjawab Keluarga Allah di duni adalah mereka yang membaca Al Qur'an ketahuilah, barangsiapa menghormati merek, maka dia dihormati Allah dan diberi surga. Dan barangsiapa menghina mereka, maka dia dihinakan Allah dan dimasukan ke dalam neraka. Hai Abi Hurairah, tidak ada seorangpun di sisi Allah yang lebih mulia daripada penghafal Al qur'an. Dan ketahuilah, sesungguhnya penghafal Al Qur'an di sisi Allah adalah lebih mulia daripadasiapapun, selain para Nabi (HR. Bukhari)

Dengan begitu, semangat Ramadhan dengan sekian kemuliaan di dalamnya, rasa-rasanya kita harus senantiasa berkhitmad atas diturunkannya al-Qur'an ini. Momentum Ramadhan, sebagai bulan turunnya al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) pertama kali ke bumi, patut bersyukur, membaca, dan mengamalkan isi kandungannya.

Oleh: Sriharini
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan

7. Nuzulul Qur'an

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Teman-teman sekalian, malam ini adalah malam 17 Ramadan. Di Indonesia, kita biasa memperingatinya sebagai peringatan Nuzulul Qur'an.

Ada satu paragraf kecil di Surat Taha, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

"Ma anzalna 'alaikal-Qur'ana litasyqa."

Allah tidak menurunkan Al-Qur'an ini untuk menyusahkan kita.

Ini mirip dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah tentang ayat puasa:

"Syahru Ramadhanal ladzi unzila fihil Qur'an hudan lin-nasi wa bayyinatin minal huda wal furqan."

Di tengah ayat tersebut Allah juga mengatakan:

"Yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul 'usra."

Allah ingin memudahkan kalian dan tidak ingin menyusahkan kalian. Berkali-kali Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan untuk menyusahkan manusia.

Teman-teman yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Peringatan Nuzulul Qur'an bukan hanya sebuah acara seremonial, bukan sekadar peristiwa sejarah. Peristiwa ini harus menjadi sebuah renungan bagi kita tentang hubungan kita dengan Al-Qur'an. Apakah kita merasa bahwa Al-Qur'an hanyalah beban yang memberatkan hidup kita? Apakah kita merasa bahwa Al-Qur'an adalah sesuatu yang menyusahkan sehingga kita merasa berat untuk mempelajarinya?

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan untuk membebani manusia. Sebaliknya, Allah mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah rahmat, anugerah, dan hadiah dari Allah.

Al-Qur'an adalah obat dari Allah.

Karena itu, dengan peristiwa Nuzulul Qur'an, saya ingin mengajak teman-teman semuanya untuk mengubah mindset dan perasaan kita tentang Al-Qur'an. Bisakah kita menjadikan Al-Qur'an sebagai obat? Bukan obat fisik, tetapi obat hati. Bukankah semua kita pernah merasa memiliki penyakit hati? Sakit hati kepada seseorang, atau sakit hati kepada takdir dan keadaan.

Lalu bagaimana cara mengobati hati kita? Dengan Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an adalah obat.

Bukankah di antara kita pernah merasa sempit dadanya? Lalu bagaimana cara melapangkan dada kita? Dengan Al-Qur'an. Ketika kita bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai obat bagi hati, berarti Al-Qur'an telah menjadi rahmat dan kebaikan bagi kita. Namun jika kita masih merasa bahwa Al-Qur'an adalah beban, sesuatu yang berat dan sulit, berarti kita belum benar-benar mengerti Al-Qur'an. Karena itu, mulai bulan Ramadan tahun ini, dengan momentum Nuzulul Qur'an, mari kita belajar memahami isi Al-Qur'an lebih dalam. Semakin kita mengerti isi Al-Qur'an, maka kita akan semakin merasa butuh kepada Al-Qur'an. Semakin kita memahami Al-Qur'an, kita akan merasakan bahwa Al-Qur'an bukanlah beban, melainkan solusi bagi kehidupan.

Kenapa?

Karena Al-Qur'an bukan makhluk, tetapi kalam Allah, firman Allah. Artinya, Allah berbicara langsung kepada kita melalui Al-Qur'an. Coba bayangkan, Allah berbicara kepada kita sepanjang ini untuk menuntun kehidupan kita. Karena itu, jika kita ingin menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang indah dalam hidup kita, maka belajarlah memahami Al-Qur'an. Jika kita ingin menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, maka jangan hanya membacanya, tetapi pelajari juga maknanya semampu kita.

Allah juga berfirman:

"La yukallifullahu nafsan illa wus'aha."

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Jika kita tidak memahami sesuatu, maka bertanyalah kepada orang yang berilmu. "Fas'alu ahlaz-zikri in kuntum la ta'lamun." Belajarlah dari para ulama, dari kajian-kajian Al-Qur'an, dari tafsirnya, sejarahnya, tajwidnya, qira'atnya, dan berbagai ilmu tentang Al-Qur'an. Sehingga akhirnya kita menyadari bahwa Al-Qur'an adalah sesuatu yang indah.

Dulu ada sahabat Nabi yang ketika sakit, ia membaca Al-Qur'an. Setelah membaca Al-Qur'an, ia merasa lebih nyaman dan bahkan merasa sembuh. Hari ini pun kita sering melihat video tentang anak-anak di Suriah atau Palestina yang terluka karena perang. Ketika lukanya diobati tanpa obat bius, mereka menahan rasa sakit itu dengan membaca Al-Qur'an.

Kenapa ada orang yang bisa merasakan nikmatnya Al-Qur'an sampai seperti itu? Karena mereka mengerti Al-Qur'an. Jika kita ingin merasakan Al-Qur'an sebagai obat, rahmat, dan kebaikan, maka caranya adalah belajar mentadabburi Al-Qur'an. Mulailah dari surat-surat yang paling sering kita baca, seperti Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Kenapa ada sahabat yang setiap shalat selalu membaca Surat Al-Ikhlas? Mungkin kita juga sering membacanya, tetapi alasannya berbeda. Kita membaca Al-Ikhlas karena suratnya pendek dan ringan. Sedangkan sahabat tersebut membaca Al-Ikhlas karena ia memahami maknanya. Kenapa ada sahabat yang ketika membaca Al-Qur'an lututnya gemetar dan menangis sepanjang malam, padahal ia adalah seorang pejuang yang sangat ditakuti musuh seperti Khalid bin Walid? Karena ia memahami ayat yang ia baca.

Allah juga menggambarkan orang-orang beriman dalam Al-Qur'an:
"Idza tutla 'alaihim ayatur-Rahman kharru sujjadan wa bukiyya."

Ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tersungkur sujud dan menangis. Karena itu, Al-Qur'an adalah hadiah dari Allah, obat dari Allah, dan petunjuk dari Allah. Allah memberikan Al-Qur'an karena Allah sayang kepada kita. Maka siapa pun yang merasa hidupnya berat, hatinya sempit, dan banyak kesulitan, mari kita belajar memahami isi Al-Qur'an dengan ikhlas karena Allah.

Semoga Allah menuntun hati kita untuk menikmati dan mencintai Al-Qur'an dalam kehidupan kita. Barakallahu fiikum.

Oleh: Ustaz Hanan Attaki

8. Ramadhan adalah Waktu Terbaik Mendekatkan Diri dengan Al-Qur'an

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri setiap amal hamba-Nya. Dialah yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat yang tidak terhitung jumlahnya kepada kita.

Di antara nikmat tersebut adalah nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan sehingga pada malam ini kita dapat berkumpul di tempat yang insya Allah penuh dengan keberkahan dari Allah SWT.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah sosok mulia yang kehadirannya membawa perubahan besar bagi alam semesta. Semoga shalawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, serta kepada kita semua sebagai umatnya yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah beliau, sehingga kelak memperoleh syafaatnya di hari kiamat.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Alhamdulillah, hingga saat ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tentu hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita karena masih dapat menunaikan kewajiban tersebut.

Selain itu, kita juga patut bersyukur karena Ramadhan merupakan bulan yang mulia dan penuh dengan berbagai keutamaan. Pada bulan ini terdapat banyak amalan yang dianjurkan untuk dilakukan. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kesempatan yang berharga ini kita lewatkan begitu saja.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Bulan Ramadan memiliki kedudukan yang istimewa karena pada bulan inilah Al-Qur'an pertama kali diturunkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ

Artinya: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil." (QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itulah, Ramadan menjadi bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Peristiwa turunnya Al-Qur'an seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk semakin memuliakan Al-Qur'an dengan cara memperbanyak tadarus serta merenungi makna yang terkandung di dalamnya.

Hal lain yang dapat memotivasi kita untuk lebih sering membaca Al-Qur'an adalah teladan dari Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwa beliau senantiasa bertadarus Al-Qur'an bersama Malaikat Jibril pada setiap malam di bulan Ramadan.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ...

Artinya: "Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menemuinya setiap malam untuk mempelajari Al-Qur'an bersama beliau." (HR. Bukhari)

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah yang sangat bernilai. Setiap huruf yang dibaca akan diganjar dengan sepuluh kebaikan. Selain itu, memperbanyak membaca Al-Qur'an juga menjadi salah satu jalan untuk meraih kebahagiaan hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

إِقْرَأُوا الْقُرْاٰنَ فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى الْقُرْاٰنَ

Artinya: "Bacalah Al-Qur'an. Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa hati yang di dalamnya terdapat Al-Qur'an."

Selain itu, membaca Al-Qur'an juga termasuk amalan yang sangat utama di antara berbagai bentuk ibadah lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Artinya: "Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an." (HR. Al-Baihaqi)

Tidak hanya itu, Al-Qur'an juga akan menjadi pemberi syafaat bagi orang yang membacanya pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِصَاحِبِهِ

Artinya: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya." (HR. Ahmad)

Jamaah shalat Isya dan Tarawih yang dirahmati Allah

Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan bahwa orang yang sibuk membaca Al-Qur'an hingga tidak sempat memperbanyak doa dan dzikir lainnya, Allah akan memberikan balasan yang sangat besar kepadanya.

Allah berfirman:

مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ثَوَابِ السَّائِلِينَ

Artinya: "Siapa yang disibukkan dengan membaca Al-Qur'an hingga ia tidak sempat berdzikir dan memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya balasan yang lebih baik daripada orang-orang yang meminta." (HR. Al-Baihaqi)

Demikianlah ceramah singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga pada Ramadhan tahun ini kita semua diberi keistiqamahan oleh Allah SWT dalam menjalankan berbagai ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah, termasuk dalam memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Semoga Al-Qur'an selalu menjadi petunjuk bagi kita dalam meraih keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Itulah 8 teks ceramah Nuzulul Quran yang bisa menjadi inspirasi ceramah pada 17 Ramadhan. Semoga bermanfaat ya, detikers!



(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads