- Contoh Ceramah Ramadhan 2026 Singkat 1. Mengawali Ramadhan dengan Senyuman 2. Keutamaan Manyiapkan Sahur 3. Puasa Media Sosial: Spirit Hindari Hoaks 4. Bukber Semangat, Tapi Shalat Maghrib Lewat 5. Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba 6. Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui 7. Malu Bertanya Sesat di Jalan 8. Kacang Lupa Kulitnya 9. Cara Berpuasa yang Benar 10. Hikmah dan Manfaat Puasa 11. Puasa dan Persatuan Umat
Ramadhan selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Di bulan yang penuh berkah ini, mendengarkan ceramah maupun menyampaikan tausiyah menjadi salah satu cara untuk menambah ilmu, memperdalam keimanan, serta saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.
Ceramah Ramadhan yang singkat namun menyentuh sering kali lebih efektif dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan bahasa yang sederhana dan penuh makna, nasihat tentang sabar, syukur, taubat, serta pentingnya menjaga amal dapat lebih mudah meresap ke dalam hati para jemaah.
Bagi detikers yang sedang mencari referensi materi ceramah berikut contoh ceramah Ramadhan 2026 singkat, menyentuh hati, dan penuh berkah yang bisa dijadikan referensi ceramah tarawih, bahan kultum, hingga pengajian di bulan Ramadhan ini. Yuk, disimak!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contoh Ceramah Ramadhan 2026 Singkat
1. Mengawali Ramadhan dengan Senyuman
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang Dirahmati Allah
Dalam Islam, ketika kita bertemu atau bersama orang lain, maka kita sangat dianjurkan untuk menampakkan wajah ceria dan senantiasa tersenyum. Sebaliknya, kita dilarang menampakkan wajah cemberut. Hal ini tentu juga berlaku saat kita menyambut dan bertemu kembali dengan Ramadan. Senyum merupakan simbol kebahagiaan. Saat mengawali Ramadan sudah seyogianya seorang muslim dan muslimah bahagia bertemu dengannya. Kita dapat membayangkan bahwa Ramadan itu bagaikan tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita. Laiknya tamu agung, kita pun perlu mempersiapkan jamuan yang pantas atas kedatangan tamu agung yang ditunggu-tunggu itu. Jamuan yang pantas kita sajikan untuk Ramadan berupa amal-amal ibadah, baik yang individual maupun sosial.
Bapak Ibu yang Dimuliakan Allah
Ibadah individual dapat dilakukan dengan cara konsisten menjalankan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, melakukan ibadah umrah pada bulan Ramadan bila memungkinkan, dan terus berupaya memperbaiki diri. Sementara itu, ibadah sosial selama Ramadan dapat ditingkatkan dengan cara menyiapkan takjil untuk masyarakat yang membutuhkan, berderma kepada yang tidak mampu, dan menyantuni anak yatim, duafa, dan para janda.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Saat Ramadan sudah dipastikan karena sudah terlihatnya hilal, sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia, Rasulullah SAW pun memanjatkan doa kepada Allah sebagaimana riwayat dari Thalhah bin Ubaidillah.
اللّٰهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ.
Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. itu ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa; Allahummaahillahu 'alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Hadis ini merupakan hadis hasan Gharib (HR Tirmidzi).
Jamaah rahimakumullah
Saking banyak keberkahan di bulan Ramadan terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud sebagai berikut:
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ مِنَ الْخَيْرِ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ تَكُونَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ.
"Kalau para hamba Allah tahu (secara kasat mata) keberkahan dalam bulan Ramadan, pasti umatku akan berharap supaya setahun penuh itu bulan Ramadan semua." (HR Ibn Abi al-Dunya, nomor 22)
Jamaah yahfazhukumllah
Rasulullah selalu mengabarkan kepada para sahabatnya mengenai datangnya Ramadan sebagaimana riwayat Abu Hurairah berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم "قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكَ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُعْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُعَلُ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرم". (رواه أحمد)
"Dari Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Rasulullah saw. pernah berpesan, "Ramadan itu sungguh telah datang. Ia merupakan bulan berkah. Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada kalian. Saat Ramadan tiba, pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan para setan pun terikat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tak memperoleh kebaikannya itu tak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad; Nomor 7148)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma'arif mengatakan:
قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هَذَا الْحَدِيثُ أَصْل فِي تَفْقَةِ النَّاسِ بَعْضَهُمْ بَعْضًا بشهر رمضان
Nabi Muhammad saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan
قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلُ فِي تَقيقَةِ النَّاسِ بَعْضَهُمْ بَعْضًا
بشهر رمضان
Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis tersebut menjadi dasar dalam mengucapkan "selamat menyambut kedatangan bulan Ramadan" di antara satu sama lain ketika menjelang bulan Ramadan. Di Indonesia tahniah tersebut biasanya diungkapkan dengan kalimat "ahlan wa sahlan ya ramadan". Kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadan harus
ditampakkan satu sama lain.
Semoga kita dapat mengawali Ramadan dengan penuh senyum, suka-cita dan kegembiraan sehingga kita dapat melaksanakan anjuran-anjuran Nabi dan para ulama mengenai memperbanyak ibadah bulan Ramadan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
2. Keutamaan Manyiapkan Sahur
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْقُرْآنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا محَمَّدٍ الَّذِي خلفه القُرْآنُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِي الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Ibadah puasa harus dijalankan dengan penuh ketulusan. Sebagai bentuk ketulusan tersebut, kita harus mempersiapkan ibadah dengan sebaik-baiknya. Persiapan ini dapat berarti persiapan sebelum memasuki bulan puasa. Atau ketika sudah berada di bulan puasa. Islam mengajarkan agar kita menyiapkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa dengan melakukan makan sahur. Makan sahur tidak hanya merupakan persiapan yang bersifat lahiriah, untuk menyimpan energi selama menjalankan puasa. Tetapi, ada nilai keutamaan tersendiri di luar manfaat jasadiyah. Nilai-nilai itu telah dijelaskan dalam sejumlah hadis Nabi SAW dan penjelasan para ulama terhadap hadis tersebut.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Dalam konteks menjelaskan nilai keutamaan sahur ini, Rasulullah SAW menyabdakan:
تَسَخَّرُوا؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
"Makan sahurlah. Karena, dalam makan sahur terdapat keberkahan." (HR. al-Bukhari).
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari. Karenanya, kesahihan hadis tersebut tidak perlu dipertanyakan. Berdasarkan perintah dalam hadis tersebut, para ulama bersepakat disunnahkannya makan sahur. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim, jilid 7 halaman 206, mengatakan;
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ
"Para ulama bersepakat akan kesunnahan makan sahur, dan bahwa makan sahur bukan perkara yang diwajibkan."
Bapak Ibu yang Dirahmati Allah
Arti keberkahan dalam hadis adalah ia mengandung banyak sekali kebaikan. Di antara bentuk kebaikan makan sahur adalah ia dapat membuat orang kuat menjalankan ibadah puasa dan membuat lebih bersemangat. Dengan seperti itu, berpuasa menjadi terasa lebih ringan dijalankan. Ketika puasa terasa ringan, ada keinginan untuk berpuasa lagi. Berbeda dengan orang yang tidak makan sahur, ia akan merasa berat menjalankan puasa. Mungkin ia akan menganggapnya sebagai ibadah yang berat. Demikian penjelasan Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.
Jamaah Hafidzakumullah
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menulis beragam bentuk keberkahan makan sahur:
البركة في السحور تحصل بجهاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ ، وَهِيَ : اتَّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَمُخَالَفَةُ أهل الكتاب ، وَالتَّقَوِي بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ ، وَالزَّيَادَةُ فِي النَّشَاطِ ، وَمُدَافَعَةُ سوء الخَلْقِ الَّذِي يُثِيره الجوع ، وَالتَّسَببُ بِالصَّدَقَةِ عَلَى مَنْ يَسْأَلُ إِذْ ذَاكَ ، أَوْ يَجْتَمِعُ مَعَهُ عَلَى الْأَكْلِ ، وَالتَّسَببُ لِلذِكْرِ وَالدُّعَاءِ وَقْتَ مَظِنَّةِ الْإِجَابَةِ ، وَتَدَارُكُ نِيَّةِ الصَّوْمِ لِمَنْ أَغْفَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ
"Berkah dalam sahur dapat diperoleh dengan beberapa bentuk; mengikuti sunnah Nabi, menyelisihi ahli kitab, mengambil kekuatan untuk ibadah, menambah semangat, menolak perilaku buruk yang timbul akibat rasa lapar, mendorong sedekah kepada orang yang meminta sahur pada waktu sahur, berkumpul untuk makan sahur bersama, mendorong dilaksanakannya zikir dan doa pada waktu yang mustajab, membaca niat bagi orang yang lupa membaca niat sebelum tidur." (Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 4, halaman 140)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Ada poin yang menarik dalam penjelasan Imam Ibnu Hajar di atas. Yaitu, sahur menjadi sebab kita berbagi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan makan sahur pada waktu sahur. Poin ini penting, tidak hanya bagi orang yang bersahur, tetapi bagi orang yang mau menyediakan makan sahur bagi orang lain. Poin ini sering dilupakan masyarakat kita. Memberi atau menyiapkan makan sahur untuk orang lain adalah suatu amalan yang utama. Amalan menyiapkan makan sahur untuk orang lain sering dianggap remeh. Padahal, ia merupakan amalan sosial yang utama. Karena, amalan tersebut merupakan ibadah sosial yang dilakukan di bulan Ramadan untuk membantu orang yang akan menjalankan kewajiban agama. Dalam sebuah kaidah fikih dikatakan, al-muta 'addi afdhalu min al-qashir. Artinya, ibadah yang dapat bermanfaat untuk orang lain lebih utama dibanding ibadah yang hanya kembali kepada pelakunya. Menyiapkan makan sahur adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Al-Qur'an mengatakan, wa ta'awanu 'ala al-birri wa at-taqwa (saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan). Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang lain yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan. Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan, afdhalu as-shadaqah shadaqah fi Ramadan. Artinya, sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan. Berbagi makan sahur atau menyiapkan makan sahur merupakan bentuk sedekah di bulan Ramadan.
Sampai di sini, dapat kita pahami bahwa makan sahur memiliki banyak kebaikan. Salah satu kebaikan itu adalah memberi kesempatan orang berbuat baik kepada orang lain dengan cara berbagi atau menyiapkan makan sahur.
3. Puasa Media Sosial: Spirit Hindari Hoaks
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
الحَمْدُ اللهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang Dirahmati Allah
Dalam era digital yang serba cepat seperti sekarang, media sosial baik itu Instagram, Twitter, TikTok, dan Facebook telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari banyak orang. Namun, seringkali kita melihat penyebaran informasi yang tidak valid atau hoaks melalui platform tersebut.
Hoaks dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti perpecahan, kerusuhan, bahkan kekerasan. Menyadari bahaya tersebut, muncullah gerakan "Puasa Media Sosial" sebagai upaya spiritual untuk melawan hoaks. Puasa media sosial bukan berarti menjauhi media sosial secara total, melainkan mengendalikan penggunaannya dengan lebih bijak. Puasa media sosial merupakan praktik yang dilakukan dengan sengaja mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan platform media sosial untuk jangka waktu tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan pikiran dari informasi yang tidak bermanfaat atau berpotensi merugikan.
Jamaah yang Berbahagia
Dengan melakukan puasa media sosial, seseorang dapat fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidupnya seperti menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga, mengejar hobi, atau meningkatkan keterampilan.
Selain itu, puasa media sosial juga merupakan langkah tepat untuk mencegah penyebaran hoaks. Dengan mengurangi interaksi dengan platform-platform tersebut, seseorang dapat lebih waspada dan kritis terhadap informasi yang diterima. Hal ini dapat membantu mengurangi penyebaran berita palsu atau informasi yang tidak diverifikasi yang dapat merugikan banyak orang.
Dalam konteks ini, puasa media sosial dapat dilihat sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya kebenaran dan integritas informasi. Melalui praktik ini, seseorang tidak hanya menjaga kesehatan mentalnya sendiri, tetapi juga turut berkontribusi dalam memerangi penyebaran hoaks dan menjaga integritas informasi dalam lingkungan digital.
Ma'asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah
Dalam Islam, larangan hoaks tercantum dalam Al-Qur'an Q.S an-Nur [24] ayat 11. Penyebaran informasi yang tidak akurat dan menyesatkan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti perpecahan, konflik, dan keresahan. Allah berfirman;
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوْ بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لكلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.)
Imam Al-Mawardi dalam kitab Adabud Dunya wad Din mengatakan kebohongan atau berita bohong adalah sumber segala kejahatan karena dapat menimbulkan berbagai masalah.
وَالْكَذِبُ جَمَاعُ كُلِّ شَرٍ، وَأَصْلُ كُلِّ ذَمَّ لِسُوْءٍ عَوَاقِبِهِ، وَحُبْثِ نَتَائِجِهِ؛ لِأَنَّهُ يُنْتِجُ النَّمِيمَةَ، وَالنَّمِيمَةُ تُنْتِجُ الْبَغْضَاءَ، وَالْبَغْضَاءُ تَقُوْلُ إِلَى الْعَدَاوَةِ، وَلَيْسَ مَعَ الْعَدَاوَةِ أَمْنٌ وَلَا رَاحَةٌ
"Dan kebohongan adalah sumber segala kejahatan, dan asal segala celaan karena buruknya akibatnya, dan busuknya hasilnya; karena ia menghasilkan fitnah, fitnah menghasilkan kebencian, dan kebencian mengarah pada permusuhan, dan tidak ada keamanan atau ketenangan bersama permusuhan." (Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Basri Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut, Darul Fikr: 1985], halaman 271).
Jamaah yang dimuliakan Allah
Sementara itu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menjelaskan tentang pentingnya bersikap jujur dan bahayanya berdusta. Kejujuran akan membawa seseorang kepada kebaikan dan surga, sedangkan dusta akan membawa seseorang kepada kekejian dan neraka.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُود رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصَّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
"Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpegangteguhlah kalian pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun kepada surga. Seseorang terus menerus berlaku jujur dan berusaha mencari kejujuran sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kekejian, dan sesungguhnya kekejian itu menuntun kepada neraka. Seseorang terus menerus berdusta dan berusaha mencari kedustaan sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."
4. Bukber Semangat, Tapi Shalat Maghrib Lewat
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوَى. أشهد أن لا إله إلا الله وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بِالْمُجْتَنِي، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التَّقَى وَالْوَلِى أَمَّا بَعْدُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ لَهُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ (۷)
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudari,
Bagaimana puasa hari ini?
Semoga selalu lancar Amiin ya Rabbal Alamiin
Tema ceramah hari ini sangat menarik yakni, Bukber semangat, tapi shalat Maghrib terlewat. Ada di sini orang yang pernah seperti itu? Orangnya datang? Jangan diulangi lagi ya.
Sebelum dibahas lebih lanjut, mari kita baca bersama-sama QS. Al-Ma'un ayat 4-7.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُوْنُ (٦) وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُونَ (۷)
"4. Celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat; 5. (yaitu) yang lalai terhadap shalatnya; 6. Yang berbuat riya; 7. Dan enggan (memberi) bantuan."
Hadirin yang dirahmati Allah Swt.
Baca ayat ini jangan hanya sepotong ya Pak, Bu. Jangan hanya fawailul lil mushollin. Jika hanya sepotong, ini bahaya, masak orang yang melaksanakan shalat kok celaka. Kita lihat ayat setelahnya, yaitu orang yang lalai terhadap shalatnya.
Maksud dari lalai itu apa sih? Ini yang mesti dijelaskan. Syekh Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya At-Tahrir wa At-Tanwir menekankan betul bahwa kata sahun itu bukan lalai karena lupa tidak melakukan sunnah ab'ad dalam shalat, seperti lupa tidak tasyahud awal misalnya, atau karena ragu dengan jumlah rakaat shalat. Bukan itu maksudnya. Kalau itu kan kita diminta untuk melakukan sujud sahwi.
Ibnu Asyur menyebutkan bahwa orang lalai itu adalah orang yang melakukan shalat karena riya, tidak ikhlas dan tanpa ada niat yang tulus. Orang ini pun mudah meninggalkan shalat. Ini yang dimaksud sebagai orang yang lalai itu. Imam Jajaluddin As-Suyuthi mengumpulkan beberapa riwayat yang menafsirkan ayat ini. Dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, salah satu riwayat itu adalah:
وأخرج ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ مَرْدُويَة عَنِ ابْنِ عَبَاسٍ وَالَّذِينَ هُم عَنْ صَلَاتِهِمْ ساهون قال: هُمُ المُنافِقُونَ يَتْرُكُونَ الصَّلاةَ في السر ويُصَلُّونَ في العلانية.
"Ibnu Jarir dan Ibnu Marduwiyah dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang meninggalkan shalat saat tidak ada orang dan shalat saat di keramaian."
Dari sini, istilah munafik itu sangat luas artinya. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah dalam kondisi apapun jangan pernah menyepelekan shalat. Wajib is wajib, no debat!!
Hadirin yang dirahmati Allah SWT.
Buka bersama pada dasarnya adalah aktivitas yang boleh dan baik. Karena hadis Nabi sebenarnya menyebutkan bahwa kebahagiaan bagi orang yang berpuasa itu salah satunya karena berbuka.
Rasulullah SAW bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
"Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya," (HR Muslim).
Saya membayangkan betapa nikmatnya berbuka puasa bersama. Di momen tersebut, kita bisa silaturahim mengumpulkan sanak famili, kerabat, tetangga, bahkan kawan lama. Kebahagiaan itu memang sudah Rasulullah Saw. sampaikan. Tetapi, problemnya bukan di buka bersama ya Pak, Bu. Problemnya adalah jika orang-orang yang berbuka puasa itu melewatkan shalat maghrib. Allah Swt, memperingati betul, bahwa orang yang melewatkan puasa ini disebut akan celaka lho. Jadi, kita perlu berhati-hati.
Lantas, bagaimana kita agar tetap tidak melewatkan shalat maghrib. Berikut tipsnya:
1. Kita menyusun agenda shalat berjamaah. Maksudnya, ketika azan maghrib kita hanya membatalkan puasa saja dengan sajian iftar secukupnya. Setelah itu kita shalat berjamaah, baru kemudian kita makan besar.
2. Acara dimulai dari siang atau setelah ashar, bukan dimulai ketika maghrib. Ini menjadi perhatian, karena biasanya bukber ini kemepetan. Sehingga, rata-rata meskipun shalat maghribnya aman tapi shalat tarawihnya bablas.
3. Mencari tempat yang kondusif. Ini sangat penting, kalau buka bersama di tempat umum yang tidak kondusif, maka kemungkinan agenda shalat akan terganggu. Bisa jadi ada rombongan lain yang pada akhirnya gantian dulu untuk bisa shalat.
4. Kepanitiaan dibentuk dengan maksimal. Ini untuk menjaga-jaga, karena shalat maghrib itu waktunya sangat pendek.
Terakhir, izinkan saya berpantun:
Pak camat beli tomat
Yang beli harus Hormat
Boleh saja buka bersama semangat Tapi ingat,
Shalat Maghrib jangan lewat
Terima kasih saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalamu'alaikum Wr.Wb [1]
5. Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا : مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ
Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah rahmati kita semua, tema kita pada saat ini adalah "Pucuk dicinta ulam pun tiba."
Kira-kira apa makna pribahasa itu?
Maknanya adalah "Mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan" atau "Sebuah harapan yang terkabulkan "atau" mendapatkan sesuatu yang diperlukan." Kita sadar bahwa secara manusiawi, orang senang mengerjakan sesuatu yang seringan-ringannya tetapi mau mendapatkan keuntungan atau penghasilan yang sebesar-besarnya, betul?
Para hadirin yang berbahagia, ternyata di bulan Ramadhan mimpi itu bisa kita raih, atau kalau boleh kita pribahasa kan "pucuk dicinta ulam pun tiba." mengapa demikian?
1. Karena bulan Ramadhan kita dimudahkan untuk beramal, pintu-pintu kemaksiatan di tutup, dan setan pun tidak bebas menggoda.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتَحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفَدَتِ الشَّيَاطِينُ
"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu" (HR. Muslim: 1079]
2. Karena di siang harinya kita puasa, yang mana pahalanya berlimpah ruah.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari: 38 dan Muslim: 760)
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
"Semua amalan bani Adam (manusia) akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesung-guhnya puasa itu untuk-Ku, dan aku yang akan membalasnya" (HR. Muslim: 1151)
3. Karena malam harinya kita shalat tarawih, mendapatkan pahala yang banyak.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Al-lah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Muslim: 759)
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامَ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
"Barang siapa yang shalat (tarawih dan witir) bersama imam sampai selesai, maka diberi pahala baginya seperti shalat se-malam penuh" (HR. Tirmidzi: 806)
4. Karena di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.
Artinya kalau beribadah di malam itu maka pahalanya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan (83 tahun 4 bulan).
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan" (QS. al-Qadr: 3]
Dan tentunya masih banyak keutamaan-keutamaan yang lainnya.
Para hadirin yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu, mari kita semangat dan memaksimalkan bulan yang penuh berkah ini dengan amal ibadah; puasa, tarawih, membaca al-quran, sedekah, menghadiri majlis ta'lim, dan menjaga hal-hal dari sesuatu yang mengurangi pahala puasa kita.
Ingat "pucuk dicinta ulam pun tiba."
Jangan sia-siakan Ramadhan tahun ini datang dan pergi begitu saja, karena kita tidak tahu apakah bisa bertemu lagi atau tidak.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
6. Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang semoga Allah rahmati kita semua, tema kita pada saat ini adalah "Sekali dayung dua tiga pulau terlewati."
Kira-kira apa makna pribahasa itu?
Maknanya adalah sekali mengerjakan maka dapat menyelesaikan dua atau tiga pekerjaan sekaligus atau bahkan lebih, dalam satu waktu."
Kaitannya dengan bulan Ramadhan apa?
Jama'ah shalat isya dan tarawih yang dirohmati Allah,
Tentu peribahasa tersebut bisa pula kita kaitkan dengan bulan yang mulia ini, yaitu satu orang, bisa mendapatkan pahala dua atau tiga orang atau bahkan lebih dalam satu waktu.
Amalan apa itu?
Yaitu memberi makan orang yang berbuka puasa. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira dengan sabdanya,
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرُ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Barangsiapa yang memberi makan orang yang (berbuka) pua-sa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa, tanpa dikurangi dari pahala orang yang berpuasa sedikitpun" (HR. At-Tirmidzi: 807 dan Ibnu majah: 1746)
Memberi makan orang yang berbuka puasa ada beberapa bentuk yakni:
1. Mengundangnya untuk makan di rumah, atau
2. Membuatkan makanan dan mengirimkan untuknya, atau
3. Membelikan makanan untuknya.
Kalau kita menjamu satu orang saja untuk berbuka, maka pahala puasanya akan kita dapatkan dan tidak mengurangi pahala orang itu sedikitpun. Lalu, bagaimana kalau yang kita jamu ada 5 orang? Atau satu masjid? Berapa banyak pahala yang didapat.
Hadirin kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati
Mari kita gunakan kesempatan emas ini untuk menjamu berbuka puasa keluarga, kawan, tetangga dan siapa saja. Supaya kita bisa meraih pahala yang berlipat-lipat ganda. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
7. Malu Bertanya Sesat di Jalan
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang berbahagia, tema kita pada saat ini adalah "Malu bertanya sesat di jalan."
Kira-kira apa makna pribahasa itu?
Maknanya adalah "Jangan malu-malu bertanya suatu permasalahan ke orang yang bijaksana" atau "Kalau segan bertanya berarti kita akan rugi sendiri karena masalah yang dihadapi, tidak ditemukan jalan keluarnya."
Hadirin yang dirahmati Allah ada sebuah cerita seperti ini:
Di bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, penulis pernah bertemu dengan seorang nenek yang berumur kira-kira 60-an. Ketika itu dia sering membuang ludahnya. Ditanya mengapa, dia jawab, "Bukannya menelan air ludah membatal-kan puasa."
Di tempat lain penulis menjumpai seorang kakek di masjid, ketika iqomah dikumandangkan, dia keluar membuang air ludahnya dan ketika selesai salam dia melakukan hal yang sama, dan sering penulis melihatnya semacam itu.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia, sebenarnya apa hukumnya menelan air ludah ketika puasa?
Kita lihat jawaban salah satu ulama ahlus sunnah wal jama'ah tentang masalah ini. Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, "Tidak apa-apa menelan ludah ketika puasa. Saya tidak mendapati perselisihan ulama tentang bolehnya, sebab hal itu sulit untuk dihindari
Jama'ah shalat isya dan tarawih yang semoga diberkahi Allah
Jadi menelan air ludah ternyata tidak membatalkan puasa, sebab itu susah untuk dihindari dan agama Islam adalah agama yang mudah (tidak memberatkan). Seandainya membatalkan, maka banyak kaum muslimin yang puasanya batal, karena tidak mampu.
Itulah penting sekali kita bertanya kepada ahlinya (para alim ulama) kalau tidak tahu ilmunya, karena "Malu bertanya akan sesat di jalan."
Allah Subhanahu wata'ala pun memerintahkan kepada kita,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Bertanyalah kepada orang yang mengetahui jika kalian tidak mengetahui" (QS. an-Nahl: 43)
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
8. Kacang Lupa Kulitnya
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang berbahagia, tema kita pada saat ini adalah "Kacang lupa kulitnya."
Kira-kira apa makna pribahasa itu?
Artinya adalah "Orang yang lupa akan asal usulnya."
Seperti orang yang merantau jauh ke negeri antah berantah, tidak pulang-pulang, lupa dengan kampung halaman. Maka masuk dalam pribahasa ini "Seperti kacang lupa dengan kulitnya." Ternyata dalam ibadah pun ada sebagian yang seperti kacang lupa dengan kulitnya.
Kok bisa?
Itulah... ketika bulan Ramadhan, rajin beribadah, shalat, puasa, sedekah, baca al-Qur'an. Lalu selesai Ramadhan sele-sai pula ibadahnya, lupa shalat, al-Qur'an jadi berdebu karena tidak di baca lagi, dan masjid menjadi sepi.
Lihatlah ketika bulan Ramadhan yang shalat isya dan tarawih di masjid, banyakkan?
Coba lihat kembali di malam takbiran, dan malam-malam berikutnya berapa orang yang shalat isya di masjid?
Jama'ah yang semoga di berkahi Allah, apakah dengan berakhirnya bulan Ramadhan, maka berakhir pula ibadah kita kepada Allah?
Apakah ibadah kita kepada Allah hanya dikhususkan pada bulan Ramadhan saja?
Padahal Allah berfirman:
وَاعْبُدُ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Beribadalah kepada Allah sampai kematian menjemputmu" (QS. Al-Hijr: 99)
Ingatlah, bahwa Allah yang kita sembah di bulan Rama-dhan adalah Allah yang kita sembah di bulan-bulan lainnya. Allah yang memerintahkan kita shalat di bulan Ramadhan ada-lah Allah yang memerintahkan kita untuk shalat lima waktu di bulan lainnya.
Benarlah apa yang diucapkan para ulama dahulu:
بِئْسَ الْقَوْمُ لا يَعْرِفُونَ اللَّهَ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
"Alangkah buruknya suatu kaum, mereka tidak mengenal Allah dengan baik, kecuali hanya di bulan Ramadhan." (Lihat Latho'if al-Ma'arif: 244 karya Ibnu Rajab)
Dan bukti bahwa Allah menerima ibadah kita di bulan. Ramadhan adalah dimudahkannya bagi kita untuk melakukan ibadah di bulan yang lainnya, dan begitu pula sebaliknya.
Sebagian ulama berkata:
مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا وَ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
"Balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya dan balasan kejelekan adalah kejelekan setelahnya" (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat Al-lail: 4/761)
Bapak-bapak dan ibu-ibu yang berbahagia, semoga kita semua bisa istiqomah, senantiasa berlanjut shalatnya dan iba-dah lainnya, meskipun di luar bulan Ramadhan sampai malai-kat maut menjemput kita. Terutama yang laki-laki, karena sangat ditekankan sekali bagi laki-laki untuk shalat 5 waktu berjama'ah di masjid.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
[2]
9. Cara Berpuasa yang Benar
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَفَصَّلَ لَنَا أَحْكَامَهُ بِالْبَيَانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى حَبِيْبِ الْمُصْطَفَى صَاحِبِ الشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الْمُصَفَي أَمَّا بَعْدُ
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah berkalam dalam Al-Qur'an, surat al-Baqarah, ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (183)
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Dalam ayat ini, Allah menegaskan kewajiban puasa Rama-dhan bagi umat Islam. Maka barang siapa mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertobat. Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriah. Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah akil balig dan berakal sehat.
Selain syarat kewajiban di atas, puasa dianggap sah jika memenuhi dua hal yang dikenal dengan rukun puasa. Pertama, niat mengerjakan puasa yang ditetapkan pada setiap malam bulan Ramadhan (untuk puasa wajib), atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Sebagian ulama (di antaranya mazhab Maliki) tidak mewajibkan niat di setiap malam bulan Ramadhan. Tetapi cukup di awal malam bulan Ramadhan, dengan niat akan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Waktu berniat adalah mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar. Niat ini tidak perlu disuarakan dengan keras, karena niat tempatnya dalam hati. Selain itu, niat yang dilafalkan dengan suara keras juga tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.
Kedua, meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sehingga terbenamnya matahari. Hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, merokok, memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan, muntah dengan sengaja, dan bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja, kedatangan haid atau nifas, melahirkan anak atau keguguran, gila walaupun sekejap, mabuk ataupun pingsan sepanjang hari, dan murtad atau keluar dari agama Islam. Adapun apabila makan dan minum tidak dengan sengaja, maka hal itu tidak membatalkan puasa. Hal ini tercantum dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Apabila (seorang di antaramu) lupa lalu ia makan dan minum (padahal ia sedang berpuasa), maka hendaklah ia teruskan puasanya karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah yang dimuliakan Allah
Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa sunnah puasa yang perlu dijaga ketika berpuasa. Di antaranya adalah:
1. Makan sahur, Rasulullah bersabda, "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari-Muslim).
2. Mengakhirkan makan sahur, sekitar setengah jam sebelum masuk waku subuh. Ini tersebut dalam riwayat Anas, bahwa Zaid bin Tsåbit bercerita kepadanya, "Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah. Kemudian kami melaksanakan salat." Kemudian saya (Anas) bertanya, "Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan salat)?" Zaid menjawab, "Sekira bacaan lima puluh ayat." (HR. Bukhari).
3. Menyegerakan berbuka, sebagaimana sabda Rasulullah "Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari Muslim).
4. Berbuka dengan korma, kalau tidak ada dengan air putih. Salah satu hikmah berbuka dengan korma, dikarenakan korma mengandung banyak glukosa yang sangat dibutuhkan tubuh yang baru saja berpuasa. Dalam sebuah riwayat diterangkan, "Hendaknya ia berbuka dengan korma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci." (HR. Bukhari Muslim).
5. Berdoa sehabis berbuka, karena saat tersebut termasuk waktu di mana doa mudah dikabulkan. "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika saat berbuka ada doa yang tidak ditolak" (HR. Ibnu Majah). Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
"Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah." (HR. Abu Dawud, an-Nasa'i dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albâni).
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalakan ibadah puasa dengan benar.
10. Hikmah dan Manfaat Puasa
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِنُورِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَرْشَدَنَا إِلَى سَبِيلِ الرُّشْدِ وَالْقَوَامِ، وَ أَهْمَنَا أَنْ نَتَّبِعَ سِيْرَةَ خَيْرِ الْأَنَامِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ
Ma'asyiral muslimîn rahimakumullah,
Sebagai orang mukmin, kita harus percaya bahwa semua yang disyariatkan oleh Allah kepada manusia, pastilah mengan-dung hikmah dan manfaat di dalamnya. Walaupun hikmah ataupun manfaat tersebut belum semuanya dapat diungkap oleh akal manusia yang serba terbatas. Di antara syariat yang diwajibkan atas kita sekarang ini adalah menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam ibadah puasa ini, tentunya terdapat berbagai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Baik secara spiritual, kesehatan, ataupun ekonomi sosial.
Di antara hikmah puasa secara spiritual adalah puasa menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabbul 'alamin. Dengan berpuasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dunia seperti makan, minum, dan menggauli istri. Dengan kata lain, ia lebih mementingkan keinginan Rabbnya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Puncaknya adalahuntuk menggapai derajat takwa. Sebagaimana Allah jelaskan, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (al-Baqarah: 183). Apabila seseorang mam-pu mencapai derajat takwa, maka dengan mudah ia akan men-jalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Itulah sebabnya mengapa pada awal ayat perintah puasa ini dimulai dengan kalimat "Hai orang-orang yang beriman", hal ini menunjukkan bahwa hanya orang yang memiliki keimanan yang benar, yang akan mampu menjalankan perintah puasa Ramadhan dengan benar dan penuh ketakwaan.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Dari segi kesehatan, sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli, puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat untuk tubuh, ketenangan jiwa, dan kecantikan. Saat berpuasa, organ-organ tubuh dapat beristirahat dan miliaran sel dalam tubuh bisa menghimpun diri untuk bertahan hidup. Puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin atau racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh, dan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru serta untuk memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat, dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah.
Di samping itu, dengan puasa, tubuh menjadi lebih energik. Karena pada saat berpuasa, sistem pencernaan beristirahat. Sehingga energi disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh. Energi akan digunakan untuk membersihkan dan detoksifikasi usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit. Puasa meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta meremajakan tubuh.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah
Adapun hikmah atau manfaat puasa secara sosial ekonomi, tentu sangat banyak. Antara lain, puasa dapat mendorong seseorang untuk saling membantu kepada sesama. Karena ketika seseorang berpuasa, ia akan merasakan bagaimana laparnya orang-orang yang tidak mampu makan dengan layak. Sehingga terdorong olehnya untuk berbagi dengan sesama. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah selama bulan Ramadhan. Dalam sebuah atsar sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas , ia berkata, "Rasulullah adalah orang yang paling derma-wan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur'an. Dan kedermawanan Rasulullah melebihi angin yang berhembus." (HR. Bukhari)
Secara ekonomi, manfaat puasa begitu jelas. Dengan datangnya bulan puasa, peredaran uang dan peningkatan perdagangan melonjak tinggi. Apalagi ketika menjelang hari raya. Namun yang patut disayangkan adalah bahwa manfaat puasa secara ekonomi ini ternyata belum bisa dimaksimalkan oleh orang-orang muslim. Karena mayoritas perdagangan yang ada masih banyak dikuasai oleh non muslim. Sedangkan kita, hanya sebatas penggembira atau penonton. Semoga Allah menolong kita semuanya.
Demikianlah berbagai hikmah dan manfaat puasa yang dapat kita sampaikan, semoga dapat menambah keimanan dan keikhlasan kita dalam menjalanakan perintah puasa Ramadhan.
11. Puasa dan Persatuan Umat
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالصِّيَامِ كَمَا أَمَرَنَا بِالْإِعْتِصَامِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفِيَ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى السَّاعَةِ نَرْجُوْ فِيهَا السَّلَامَ أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang dimuliakan Allah
Di bulan puasa seperti ini, rasa kebersamaan dan persatuan umat begitu terasa. Semua berpuasa di siang harinya, berbuka ketika azan magrib, dan bertarawih ketika malam. Suasana semacam itu, seharusnya mendorong umat Islam untuk selalu mengedepankan kebersamaan dan persatuan. Karena kalau dicari antara faktor kesamaan dan perbedaan, sungguh faktor kesamaan jauh lebih banyak daripada perbedaan. Di samping itu, perlu dipahami seluruh umat bahwa kewajiban mewujudkan persatuan umat, sama dengan kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Kalau kewajiban puasa Ramadhan disebutkan dalam surah al-Baqarah: 183, maka kewajiban untuk mewujudkan persatuan, Allah jelaskan dalam surat Ali Imran: 103. Dalam ayat ini, secara tegas Allah sebutkan perintah persatuan dan melarang perpecahan. "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."
Ma'äsyiral muslimin rahimakumullâh,
Kalau kita perhatikan, sebelum memerintahkan umat untuk bersatu, Allah lebih dulu memanggil orang beriman untuk bertakwa (Ali Imran: 102). Ini sama persis ketika Allah memerintahkan umat berpuasa, Allah pun mengawalinya dengan memanggil orang beriman untuk berpuasa yang tujuannya adalah mencapai ketakwaan. Dengan terwujudnya nilai ketakwaan yang diperoleh dalam puasa pada setiap tahun, diharapkan mampu memberikan hasil riil. Di antaranya adalah terwujudnya persatuan di tengah umat. Dengan kata lain, orang yang berhasil meraih ketakwaan di bulan Ramadhan harus mampu menjadi unsur pemersatu umat. Apabila hal ini belum tercapai, maka ketakwaaan seseorang masih dipertanyakan.
Nilai puasa semacam ini yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Jadi bukan hanya sekedar bersama dalam suasana puasa dan buka, yang lebih cenderung mengarah kepada persatuan simbolis, bukan esensi. Ini terbukti ketika menjelang dan berakhirnya bulan Ramadhan. Sebuah ibadah yang seharusnya menjadi alat pemersatu umat, malah menjadi pemicu perseteruan umat. Perbedaan pandangan dalam hal penentuan kapan memulai puasa di bulan Ramadhan dan kapan mengakhirinya dengan perayaan Idul Fitri, tidak jarang menimbulkan perselisihan di antara kelompok umat Islam. Masing-masing pihak mempunyai cara sendiri untuk menentukan jadwal yang mereka anggap tepat, dan mereka bersikap teguh dengan pendiriannya. Belum lagi pandangan luar umat Islam yang negatif terhadap fenomena perbedaan semacam ini.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Bila orang Eropa yang sebagian besar non muslim telah mampu membuktikan diri untuk bersatu dengan wujud pasar bersama dan parlemen bersama Uni Eropa, padahal mereka terdiri dari berbagai bangsa dan golongan yang berbeda, maka mengapa kita tidak sanggup mewujudkan hal serupa? Bukankah unsur kesamaan antar umat Islam jauh lebih banyak dari pada unsur perbedaannya? Bukankah landasan umat Islam itu sama? Bukankah perbedaan yang ada hanyalah sebatas masalah cabang (furu') yang tidak prinsip, namun dianggap prinsip bagi sebagian kelompok? Semua pertanyaan ini tidak mungkin terjawab dengan benar, apabila kesadaran dan kedewasaan antar umat tidak ada. Selama masih ada ego kelompok, fanatisme mazhab, kepentingan politik, dan kedangkalan berfikir, maka persatuan dan kesatuan umat akan tetap menjadi mimpi belaka.
Oleh karena itu, kehadiran bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen penting umat Islam untuk mengatur dan merapatkan kembali barisannya. Perbedaan harus segera dicari solusinya, dan setiap kelompok harus mampu bersikap dewasa untuk melepas pendapatnya demi keutuhan dan kemaslahan umat secara umum. Makna semacam inilah yang Rasulullah inginkan. Sebagaimana dalam sabdanya, "Puasa adalah hari di mana kalian berpuasa, al-Fithr adalah hari di mana kalian berbuka, sedang al-Adha adalah hari di mana kalian menyembelih kurban." (HR. at-Tirmidzi, dan dia menilai, "Hadis ini gharib hasan.")
Dalam hadis ini, Rasulullah menegaskan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Itu terlihat salah satunya dalam kebersamaan pelaksanaan ibadah seperti puasa dan hari raya. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk mampu melahirkan persatuan dan kesatuan di antara umat. Wallâhul muwaffiq. [3]
Itulah kumpulan ceramah Ramadhan singkat yang bisa menjadi referensi. Semoga bermanfaat ya, detikers!
Referensi:
- Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan terbitan Tim Layanan Syariah Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag,
- Buku Kultum Ramadhan dengan Pribahasa Sehari-hari oleh Lucky Juniardi Abu Yusuf al-Id al-Ma'muri,
- Buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun tulisan Dr Hasan el-Qudsy
(urw/urw)











































