- Kultum Ramadhan 2026 #1 Judul: Menyambut Ramadhan
- Kultum Ramadhan 2026 #2 Judul: Keistimewaan dan Keutamaan Puasa
- Kultum Ramadhan 2026 #3 Judul: Ingin Hasil Ramadhan Berkualitas? Ibda' Binafsika
- Kultum Ramadhan 2026 #4 Judul: Mulut, Perut, dan Kemaluan
- Kultum Ramadhan 2026 #5 Judul: Cinta dan Dzikir Kepada Sang Khaliq
- Kultum Ramadhan 2026 #6 Judul: Belajar Jujur dari Momentum Puasa
- Kultum Ramadhan 2026 #7 Judul: Refleksi Diri, Raih Kemenangan Hakiki
- Kultum Ramadhan 2026 #9 Judul: Selalu Ada Solusi pada Setiap Kesulitan Hidup
- Kultum Ramadhan 2026 #10 Judul: Memperbaiki Diri di Bulan Suci
- Kultum Ramadhan 2026 #11 Judul: Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar
Kultum Ramadhan menjadi salah satu sarana dakwah dalam menyampaikan pesan kebaikan di bulan suci. Ada berbagai materi yang dapat disampaikan kepada umat secara singkat dan padat melalui kultum.
Meskipun singkat, menyusun kultum tentunya harus dilakukan dengan cermat dan terstruktur agar pesan yang disampaikan jelas dan menyentuh. Pemilihan tema yang relevan dengan suasana Ramadhan, penyusunan alur yang runtut, serta penyertaan ayat Al-Qur'an maupun hadits akan membantu penceramah menyampaikan materi secara efektif dalam waktu 7-10 menit.
Nah, sebagai referensi bagi detikers yang tengah mencari referensi untuk menyusun materinya, berikut ini detikSulsel menyajikan kumpulan contoh Kultum Ramadhan 2026 singkat untuk 7 hingga 10 menit lengkap judul dan dalilnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuk simak selengkapnya!
Kultum Ramadhan 2026 #1
Judul: Menyambut Ramadhan
Assalamualaikum Wr Wb
Alhamdulillahi robbil alamin. Wabihi nastain ala umuri dunya wadin. Assholatu wassalamu ala nabiyina muhammadin SAW. Amma ba'du.
Puji serta syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat-Nya yang luar biasa. Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada junjungan alam, nabi kita Muhammad SAW.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT.
Ramadhan. Bulan suci ini menyapa kembali. Kemuliaan di hadapan. Kedatangannya disambut beraneka rasa oleh orang-orang.
Pertama. Ada orang yang menyambutnya biasa-biasa saja. Ramadhan baginya tak lebih dari rutinitas tahunan. Tak ada perubahan apa-apa. Biasa saja. Hadirnya bulan kemuliaan baginya tak memberikan pengaruh sedikit pun, selain kenyataan ia harus berpuasa. Menahan lapar dahaga. Bagi orang seperti ini apa yang akan dilewatkan selama Ramadhan ini takkan membekas makna, takkan memberi pengaruh setitik pun.
Kedua. Orang yang menanggapi secara sinis. Orang ini merasa berat ketika datangnya bulan suci. Ia malas melakukan ibadah. Baginya puasa itu berat. Ramadhan itu bikin enek. Karena selama Ramadhan ia tak lagi bisa makan-makan secara bebas dan berbuat sesuka hati. Orang menganggap datangnya Ramadhan adalah musibah. Naudzubillahimindzalik.
Ketiga. Orang yang begitu antusias menyambutnya. Ia begitu merasa istimewa di bulan berkah ini. Ia menyapa Ramadhan dengan kegembiraan. Meski begitu, nyatanya ada dua golongan atas sambutan penuh kegembiraan ini. Ada yang antusias menyambut, sekadar karena Ramadhan serasa seru. Ada pesta petasan. Ada ngabuburit. Ada sahur bareng keluarga. Berbuka dengan makanan yang enak. Puasa dijadikan ajang diet, melangsingkan perut, dll. Golongan ini menyambut antusias Ramadhan karena suasana menyenangkan. Golongan kedua, antusias menyambut Ramadhan karena keimanan dan keilmuan. Ia senang karena paham Ramadhan adalah bulan keberkahan. Bulan kemuliaan. Saat ganjaran kebaikan dilipatgandakan. Ia menyambutnya dengan khusyuk. Bukan sekadar karena banyak "hal menarik" selama Ramadhan. Baginya itu hanya sebagai tambahan. Yang terutama adalah karena keinsyafan betapa berharganya bulan ini, sayang jika terlewatkan tanpa makna yang terhadirkan.
Termasuk manakah kita? Semoga termasuk yang menyambut Ramadhan dengan antusias berlandas keimanan dan keilmuan. Pada gilirnanya semoga kita bisa mengisi Ramadhan ini dengan banyak kebajikan. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Rabbana aatina fidunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzabannar.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
Wassalamu 'alaikum Wr Wb
Oleh: Prito Windiarto
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Berkaca Pada Jiwa 2
Kultum Ramadhan 2026 #2
Judul: Keistimewaan dan Keutamaan Puasa
Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk-Nya. Penguasa alam semesta. Karunia-Nya tak terhingga.
Sholawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengikuti sunnahnya.
Tak terasa, hari ini kita sudah berada di masa bulan kemuliaan. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih utama dari 1000 bulan. Inilah saat salah satu ibadah teragung, yakni puasa, wajib dikerjakan.
Kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Di bulan nan indah ini kita diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa spesial karena ia benar-benar jalur langsung antara seorang hamba dengan Rabb nya. Ibadah ini langsung dinilai oleh Allah Sang Maha Kuasa. Rasulullah SAW. meriwayatkan firman Allah SWT. Dalam hadits Qudsi yang artinya, "Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya." (HR Ahmad dan Muslim).
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk memaparkan ulang keutamaan puasa yang dihimpun dari berbagai sumber.
Pertama. Puasa sebagai penghapus dosa-dosa.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, karena penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni" (HR Bukhori dan Muslim)
Selain itu, dalam hadits lain disebutkan bahwa, "Shalat wajib lima waktu, (dari) satu jumat ke jumat selanjutnya, (dari) Ramadhan ke Ramadhan, akan dapat menghapuskan dosa-dosa, selama dia tidak melakukan dosa besar." (HR Muslim)
Dua hadits di atas jelas menunjukan bahwa jika kita berpuasa dengan sebenar-benarnya penuh keimanan, ikhlas demiNya dan mengharap ganjaran dariNya, maka dosa-dosa kita akan diampuni.
Kedua, Puasa adalah perisai (penghalang).
Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan, "Puasa itu perisai (penghalang), yang akan menghalangi seorang hamba dari api neraka." Hadits itu dikuatkan oleh hadits riwayat Imam Nasa'i, "Puasa itu penghalang, selagi ia tidak dirusak."
Berdasarkan hadits itu kita meyakini bahwa puasa yang kita lakukan, selagi tidak dirusak, akan menjadi penghalang (perisai) dari api neraka kelak. Adapun hal-hal yang merusak puasa diantaranya adalah dusta, menggunjing, memfitnah, dan kemaksiatan lainnya. Karena itu sudah selazimnya kita menjaga puasa kita agar tetap bermakna.
Rasulullah mengingatkan, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang shalat malam, tapi tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali hanya begadang." (HR Ibnu Majah)
Demikianlah, dua dari banyak keutamaan puasa ini semoga menjadi motivasi bagi kita agar bisa menjalankan puasa sebaik-baiknya.
Allohumma ainna 'ala dzkirika wasykrika wahusni ibadatika. Aamiin ya robbal alamin.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
Oleh: Prito Windiarto
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Berkaca Pada Jiwa 2
Kultum Ramadhan 2026 #3
Judul: Ingin Hasil Ramadhan Berkualitas? Ibda' Binafsika
Beragama itu mudah, semudah menjalankan apa yang telah di syariatkan dalam Islam dengan baik, wajar dan ikhlas. Alat ukurnya adalah mengetahui dan memahami ajaran dan nilai agama Islam dengan baik, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena alat ukurnya adalah memahami tuntunan atau perintah Allah SWT dan Rasul-Nya beserta larangan-Nya, sehingga di dalam melaksanakan ibadah sehari-hari seorang muslim memiliki kejelasan orientasi "mengapa dan untuk apa saya beribadah?".
Sedangkan ikhlas, alat ukurnya adalah memastikan bahwa sesuatu yang baik dan wajar itu dilakukan dengan senang hati, sepenuh hati dan fokus di dalam berusaha mendapatkan ridha Allah SWT semata. Semua tindakan ibadah yang dilakukan berdasarkan tuntunan tersebut, pada dasarnya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan bersosial, berbudaya dan bermasyarakat.
Karena pada dasarnya, kebaikan sekecil apapun akan mendapat pahala kebaikan dari Allah SWT, dan begitu pula sebaliknya. Al-Qur'an surat ke 99, Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 yang berbunyi:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula."
Ramadhan mengajarkan kepada umat manusia (khususnya orang yang beriman), tentang pentingnya membangun sikap jujur di dalam kehidupan. Terminologi "jujur" menjadi kata kunci di dalam menjalankan perintah puasa.
Berikutnya mari kita simak secuil cerita yang penting bagi kita, yakni peristiwa tentang orang yang ingin memeluk agama Islam.
Orang tersebut menyatakan kepada Nabi SAW bahwa dia mempunyai kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkannya, yaitu mencuri. Orang tersebut menyatakan bahwa di samping keinginannya yang begitu kuat untuk memeluk agama Islam, dia masih merasa kesulitan untuk menghindari kebiasaan mencuri tersebut. Untuk memecahkan persoalan tersebut, Nabi SAW hanya meminta supaya orang itu berjanji untuk tidak berbohong (an laa takdzib).
Janji untuk tidak berbohong tersebut tampaknya begitu merasuk di hati orang tersebut, sehingga sangat berpengaruh dalam kehidupan orang tersebut. Tatkala hendak mencuri, dia senantiasa teringat janji yang dibuatnya dengan Nabi SAW. Seandainya dia masih mencuri, kemudian Nabi SAW bertanya ihwal hal tersebut, apa yang harus dijawabnya. Jika dijawab "tidak", berarti dia telah berbohong. Akhirnya "kontrak sosial" atau yang disebut dengan "an laa takdzib" menjadi dasar moral bagi orang tersebut untuk berbuat baik, sehingga memudahkan prosesnya dalam memeluk agama Islam.
Kata kunci "tidak berbohong" dari cerita di atas, pada hakikatnya berimplikasi ke berbagai sektoral kehidupan kita. Dikatakan demikian, karena sikap tersebut merupakan bentuk pengejawantahan riil dari kata "iman dan taqwa". Seseorang yang mampu menahan diri untuk tidak berbohong, berarti dia telah mampu mengendalikan diri dari keputusan tindakan yang merugikan dirinya dan orang lain, meskipun dia tidak mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan implikasi dari iman dan taqwanya di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang perlu kita lakukan, agar dalam menjalani kehidupan (khususnya di bulan suci Ramadhan) dapat memberikan keberkahan dari efek kebaikan yang kita lakukan. Pertama, mulai dari diri sendiri, yaitu memastikan bahwa kebaikan yang telah terencana agar segera direalisasikan. Sebab, tertundanya niat baik, biasanya akan cenderung membuat kebaikan gagal terealisasi. Kedua, mulai dari yang kecil dan sederhana, maksudnya tindakan-tindakan seperti menyingkirkan duri di jalan, atau menyegerakan sesuatu yang baik ketika terbersit di hati kita tentang kebaikan. Ketiga, mulai dari sekarang, yakni menyegerakan diri ikut mengambil bagian menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan.
Inilah yang disebut Ibda Binafsika, mulailah dari diri sendiri. Semoga di Ramadhan tahun ini, kita bisa melakukan hal-hal baik di bulan Ramadhan, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan sederhana serta mulai dari sekarang. Semoga!
Oleh: Andy Dermawan
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan
Kultum Ramadhan 2026 #4
Judul: Mulut, Perut, dan Kemaluan
"Perbuatan yang paling banyak menyebabkan masuk surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik, sementara yang paling banyak menyebabkan masuk neraka adalah mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah [2]: 183 bahwa puasa sebagai sarana latihan yang diharapkan menghasilkan peserta atau pelaku yang berpredikat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Ini sebagai isyarat bahwa diwajibkannya puasa bukan untuk puasa itu sendiri.
Puasa adalah media pembelajaran yang disediakan Allah bagi manusia yang bukan saja sebagai makhluk individual tapi juga sebagai makhluk sosial. Dalam kedudukannya itu, maka manusia yang bertaqwa adalah mereka yang bukan saja baik secara individual tapi juga baik secara sosial. Karenanya puasa memiliki dua dimensi yang integratif, seperti dua sisi mata uang, yaitu dimensi individual vertikal dan dimensi sosial horizontal. Tidak terpenuhinya dua dimensi puasa itu secara bersamaan, menjadikan pelakunya kehilangan relevansi dan puasanya menjadi meaningless (tidak bermakna).
Taqwa menjadi standar moral tertinggi dalam Islam dan atas dasar taqwa itu pula seseorang dinilai baik, karena taqwa sebagaimana dijelaskan HR. Thabarani merupakan simpul segala kebaikan (jaami'u kulli khair). Hal ini dapat dimengerti, karena dengan taqwa, seseorang akan berlaku adil terhadap diri dan orang lain, tidak diskriminatif baik atas dasar agama, ras, etnik, suku maupun gender, dapat selalu menghidupkan tali kasih antar sesama dan lain-lain. Pantas kalau Allah menyatakan bahwa hamba yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertaqwa (QS. al-Hujurat [49]: 13).
Melalui puasa yang benar diharapkan lahir sikap-sikap tersebut, sehingga berbagai bentuk kekerasan sosial seperti marginalisasi, stereotipe, subordinasi, dan ketidakadilan berkurang atau bahkan hilang.
Secara literal, taqwa adalah menjaga, memelihara dan melindungi diri dari segala hal yang akan menyakiti, merusak dan menghancurkan diri baik langsung atau tidak, dan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Makna taqwa seperti ini paralel dengan sabda Nabi yang menyatakan bahwa puasa adalah benteng (HR. Bukhari dan Muslim) yang akan melindungi pelakunya dari perilaku negatif.
Di antara tubuh kita yang perlu dijaga, lebih-lebih pada saat puasa adalah mulut, perut dan kemaluan. Mengapa ketiganya perlu dijaga dan dipelihara, karena ternyata ketiganya merupakan sumber penyakit individual dan sosial. Betapa banyak penyakit dan persoalan sosial yang muncul akibat ketiganya tidak terjaga.
Langkah-langkah menjaga, memelihara dan melindungi ketiganya adalah dengan menekan agar orientasi hidup kita tidak hanya pada pemenuhan kepentingan makan, menumpuk kekayaan dan menuruti kebutuhan seksual. Bila kita yang puasa saja masih terjebak pada orientasi tersebut, maka hakikatnya kita mengalami fiksasi atau hambatan kepribadian.
Akibat mengalami hambatan kepribadian, maka pemiliknya akan kehilangan kepekaan sosialnya, kurang peduli terhadap penderitaan sesama, tidak empatik dan lebih parah lagi cenderung sulit mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. Orang seperti ini, hakekatnya belum dewasa secara psikologis apalagi secara spiritual. Ia-dalam bahasanya Sigmund Freud-masih terhitung sebagai anak kecil, meski mungkin sudah tua usia. Puasa mendidik pelakunya untuk menjadi manusia dewasa.
Kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkan puasa kita membuat kita menjadi dewasa? Secara teoritis, semakin dewasa seseorang, maka orientasi hidupnya beranjak dari yang konkrit ke yang abstrak, dari mulut, perut dan kemaluan ke penghambaan, pengabdian dan pengetahuan.
Oleh: Waryono Abdul Ghafur
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan
Kultum Ramadhan 2026 #5
Judul: Cinta dan Dzikir Kepada Sang Khaliq
"Shalat, puasa, dan bersedekah akan dibawa pada hari kebangkitan dan ditempatkan pada mizan (timbangan). Tetapi ketika cinta yang dibawa, ia tidak akan bisa ditimbang dan timbangan (mizan) tak akan muat. Maka hal yang paling utama adalah CINTA." (Jalaluddin Rumi).
Dengan mengamalkan tarekat maka janji Allah dalam Al-Qur'an tentang keutamaan ibadah dan dzikir akan terealisasi. Salah satu sekian janji itu, jaminan Allah akan keutamaan dzikir adalah barangsiapa yang berdzikir dengan khidmat, maka niscaya hatinya akan tenang dan damai. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat al-Baqarah (2: 152) berikut ini:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu."
Dzikrullah atau mengingat Allah adalah amalan yang tidak terhingga nilainya, bagi siapapun yang senantiasa mengingat-Nya di setiap waktu, niscaya amalan dan perbuatan apapun di dunia yang belum tercapai akan dengan mudah terwujud, itulah janji Sang Maha Pencipta. Setiap hembusan nafas, denyut nadi bergetar, derasnya darah mengalir sekujur tubuh, hingga untaian tutur kata yang terucap manakala kita mengingat Allah, senantiasa diilhami dan mendapat petunjuk-Nya.
Begitu juga dengan mengucapkan shalawat Nabi SAW, sebagaimana dalam sabdanya:
"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat, maka Allah memberi rahmat kepadanya sepuluh kali." (HR Muslim)
Bershalawat pun tidak hanya sekedar mengucap dengan kata-kata, tetapi harus dibarengi dengan metode yang tepat. Kalau direnungi secara dalam, untuk apa kita mendoakan Nabi, bukankah Beliau sudah mendapatkan jaminan Allah atas keselamatan dan surga baginya. Padahal, yang belum tentu selamat itu kita sebagai makhluk biasa. Disinilah rahasia penting yang patut kita gali secara mendalam, mengapa kita penting mengucapkan shalawat kepada Nabi.
Ibarat kabel listrik, apabila arus secara langsung dialirkan kepada kita, maka akan terasa dentuman nadir dari setrum itu kepada sekujur tubuh ini. Begitu pula dengan ucapan shalawat kita kepada Nabi, bila secara istiqomah menjalankan amalan ini, niscaya akan mendapatkan syafaat kelak di akhir zaman, ketika manusia dibangkitkan kembali dari liang lahat (kubur).
Bukankah kita-sebagai manusia biasa-akan menghadap sang Maha Sempurna? Bukankah janji Allah tatkala melihat manusia-bukan dilihat dari mana asalnya, apa jabatannya, apakah manusia itu kaya atau miskin, dan lainnya-yang pertama kali dihitung adalah amalannya dengan ketaqwaan. Maka dari itu, taqwa tidak hanya sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi bagaimana kita menjalankan amaliyah yang termaktub dalam rukun Islam; syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.
Semua amaliyah yang wajib harus dijalankan oleh umat muslim. Namun, bila kita ingin meningkatkan dan memperbanyak pahala di hadapan Allah SWT, harus bekerja ekstra keras untuk meraihnya. Salah satu amaliyah ini adalah dengan berdzikir, mengingat Allah, dan memuji Nabi kita. Maka dari itu, melalui momentum bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita senantiasa ber-khalwat kepada Sang Khaliq dengan asma-Nya. Sebagaimana janji-Nya, bahwa ketika insan bermunajat kepada Allah dengan penuh cinta, dengan sendirinya akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
Oleh: Ahmad Izudin
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan
Kultum Ramadhan 2026 #6
Judul: Belajar Jujur dari Momentum Puasa
Di antara hikmah ibadah puasa Ramadhan adalah melatih D kejujuran. Siapakah yang bisa menjamin bahwa seseorang yang mengaku berpuasa itu benar-benar melakukan puasa? Siapa yang tahu kalau sesungguhnya dia hanya berpura-pura, atau paginya berpuasa tetapi siang hari sudah membatalkan diri-namun tetap mengaku berpuasa? Di sinilah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi:
"Setiap amal manusia (anak Adam) adalah milik dirinya sendiri, kecuali puasa; maka amal itu untuk Aku (Allah), dan Aku langsung yang akan memberinya pahala." (HR. Bukhari)
Puasa merupakan ibadah yang khusus dan istimewa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lainnya. Bila seseorang mengerjakannya maka akan dengan mudah diketahui pihak lain. Misalnya sholat, maka kita akan terlihat orang lain ketika datang ke masjid, berwudhu', bagaimana kita melakukan gerakan dan membaca do'a, dan sebagainya. Demikian juga membayar zakat, ada orang lain yang mengetahui perbuatan kita-setidaknya orang yang kita beri zakat tersebut. Apalagi menunaikan ibadah umrah dan haji. Satu orang yang naik haji, maka orang satu kampung, dan bahkan satu desa akan dipamiti dan dimintai doa restunya.
Berbeda dengan puasa (Ramadhan) hanya diri kita dan Allah yang tahu, apakah kita benar berpuasa atau tidak. Puasa adalah janji antara diri kita dengan Allah. Bayangkan, ketika di siang hari yang sangat panas, sementara kita di rumah seorang diri. Di situ ada minuman segar, banyak makanan yang serba mengundang selera. Kita yakin, Allah melihat apa saja yang kita perbuat. Di sinilah kejujuran itu di uji.
Nilai kejujuran itulah yang semestinya untuk terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Alangkah indahnya bila sifat jujur dimiliki oleh setiap muslim dan seluruh umat Islam di negeri ini. Rasulullah SAW menunjukkan arti pentingnya kejujuran:
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang shidiq (jujur). Dan jauhilah perilaku dusta, sebab dusta itu akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka. Orang yang selalu berdusta dan mencari kedustaan akan ditulis oleh Allah sebagai pendusta". (HR. Bukhari)
Mengapa demikian? Negeri ini sangat membutuhkan kehadiran orang-orang yang jujur. Maka muncullah slogan yang dicanangkan KPK: Jujur itu Hebat! Hal ini menandakan perilaku jujur di tengah masyarakat kita ini begitu mahal dan langka. Buktinya, dari waktu ke waktu kita masih saja mendengar adanya berita korupsi yang merasuk ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Permainan suap jabatan, money politic dalam pemilu atau pilkada. Dan sederet perilaku ketidakjujuran lainnya.
Tetapi bagaimana mau mengikisnya, sementara nilai ketidakjujuran juga sudah mulai dihembuskan sejak dini, melalui dunia pendidikan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan sesaat. Banyaknya perilaku menyontek, pembocoran soal ujian dan jawaban, joki ujian dan sebagainya. Sampai kapankah mata rantai kebohongan semacam ini akan bisa diputus.
Momentum puasa Ramadhan inilah semestinya digunakan untuk membuktikan diri, bahwa ibadah puasa yang kita tunaikan benar-benar mampu mengubah diri kita menjadi orang yang bertakwa, yang salah satu sendinya memiliki sifat jujur. Seorang anak jujur kepada orang tuanya. Suami isteri jujur dalam rumah tangganya. Siswa jujur kepada guru. Pegawai jujur pada atasan. Pejabat jujur kepada rakyatnya, dan seterusnya. Maka, pastilah berbagai krisis negeri ini akan bisa segera diatasi. Mari kita mulai bersama!
Oleh: Slamet
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan
Kultum Ramadhan 2026 #7
Judul: Refleksi Diri, Raih Kemenangan Hakiki
Ramadhan menjadi bulan yang dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia merupakan negara yang secara mayoritas berpenduduk muslim, tak ayal bila bulan suci menjadi penantian panjang bagi masyarakat negeri ini. Penantian panjang dalam menyambut bulan suci bukan sekedar omong kosong belaka, karena berbagai tradisi muncul di negeri ini tatkala menyambut bulan Ramadhan.
Tradisi ini memunculkan keragaman unik di tengah masyarakat. Keunikan tradisi terus bertransformasi menuju perubahan sosial yang tetap dijaga baik dan sejalan dengan agama. Mulai dari tradisi belah ketupat, mudik lebaran, dan sebagainya.
Namun dengan sekian perkembangan yang semakin maju, apakah keragaman tradisi ini mampu mendekatkan diri kepada Allah. Jika tidak, patut kiranya kita melakukan refleksi diri. Contohnya, tradisi unik di negeri ini adalah menyoal tentang mudik lebaran. Dari tradisi mudik ini, apakah kita mampu mendekatkan diri dengan Sang Pencipta? Jika belum, segera kita evaluasi diri jangan sampai terlena.
Karena itu, menyongsong mudik lebaran, perlu kita mempersiapkan diri baik secara materi, mental, maupun buah tangan untuk disedekahkan kepada sanak keluarga tatkala berada di kampung halaman. Melalui momentum mudik lebaran ini seyogyanya kita lebih dekat dengan Allah SWT.
Jika kita berkaca pada tradisi mudik lebaran yang selalu hadir dari tahun ke tahun, banyak masyarakat yang memiliki sikap hedonis dan pragmatis. Pertama, sikap hedonis bisa dilihat dari maraknya masyarakat pada saat menjelang berakhirnya Ramadhan ramai memburu diskon di Mall, supermarket, toko pakaian, dan lainnya. Mereka seakan terlena dengan kondisi ini.
Kedua, sikap pragmatis dapat kita lihat pada saat masyarakat menjalankan ibadah di bulan suci. Di mana mereka menjalankan ritual ibadah hanya sesaat ketika di bulan Ramadhan. Tapi coba tengok, apakah masyarakat masih menjalankan ibadah di luar bulan suci secara simultan-melaksanakan solat, sekedah, infaq, dan ibadah lainnya. Inilah realitas yang sedang kita hadapi.
Artinya, keimanan kita masih belum terjaga dengan maksimal di luar bulan suci. Seharusnya, usai bulan suci Ramadhan, kita tetap dekat dengan Allah SWT, menjalankan ritual ibadah dengan khusuk'.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 186 berikut ini:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah [2]: 186)
Dalam ayat di atas jelas, sesungguhnya Allah itu dekat dengan semua insan. Apabila kita ingin menjaga kualitas keimanan maka sempurnakanlah ibadah, baik dalam perbuatan, tindakan, ucapan, maupun penglihatan. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim harus senantiasa menjaga keimanan dimanapun berada, baik ketika sedang bekerja maupun tatkala menjalankan praktik ibadah mahdoh (ibadah wajib umat Islam-solat, zakat, puasa, haji, sedekah, infaq, dan lainnya). Untuk itu, di luar bulan suci, jika kita ingin mendapat maghfirah (ampunan) dan kemuliaan di hadapan Allah, harus senantiasa mendekatkan diri dalam setiap hembusan nafas dan langkah kaki kita.
Dengan demikian, arti bulan suci Ramadhan harusnya dijadikan momentum yang lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Khaliq. Sebab, melalui bulan suci setiap amal perbuatan yang kita lakukan akan berlipat ganda. Ladang amalan ini sangat nyata disekitar kita, bagaimana cara berpuasa dengan baik, tadarus al-Qur'an, shalat sunnah, sodaqoh, dan lainnya. Janganlah momentum Ramadhan ini dijadikan sebuah tindakan yang riya' dihadapan orang lain, tetapi harus menjadi sebuah momen intropeksi diri dari tindakan-tindakan tersebut. Maka dari itu, momentum bulan suci harus dijadikan refleksi secara mendalam agar kita tergolong umat yang kembali suci (fitri) di saat menyambut lebaran tiba. Semoga!
Oleh: Moh Khoerul Anwar
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan
====================================================
Kultum Ramadhan 2026 #8
Judul: Tolonglah Saudaramu, Maka Allah akan Menolongmu
Dalam ilmu sosiologi, manusia dapat disebut sebagai makhluk individu dan sosial. Sebagai makhluk individu, manusia dikaruniai unsur jasmani dan rohani, serta memiliki ciri khas dengan corak kepribadiannya sendiri. Sedangkan, sebagai makhluk sosial, keberadaan manusia tidak dapat lepas antara satu dengan yang lain atau saling membutuhkan.
Oleh karena itu, dengan kodrat tersebut, di dalam agama Islam kita juga diajarkan untuk saling menolong satu sama lain, terlebih dalam hal kebaikan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS Al-Maidah ayat 2)
Demikianlah, perintah tolong-menolong berkaitan erat dengan ketakwaan. Imam Asy-Sya'rawi dalam Khawathirusy Sya'rawi, juz 5, halaman 2907 menjelaskan bahwa hal tolong menolong ini merupakan perkara yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan dunia. Selain itu juga harus dilakukan pada aspek kebaikan.
Maka, sudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.
Semisal, sebagai seorang ahli ilmu, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Mengajarkan ilmu kepada orang yang ada di sekitarnya. Kemudian, jika diberikan kelebihan rezeki, dapat pula kita menolong saudara atau tetangga kita yang tengah kesusahan, dengan bantuan harta benda yang kita miliki.
Apabila kita tidak memiliki keduanya, setidaknya kita masih memiliki anggota badan atau tenaga, yang dapat kita pergunakan untuk menolong orang lain. Dalam kitab Syu'abul man dijelaskan perbuatan tolong-menolong ini menjadi salah satu dari cabang-cabang iman.
Terlebih apabila kita memiliki kelebihan atau kekuasaan untuk memberikan pertolongan. Sebab Allah Ta'ala akan meminta pertanggungjawaban seseorang atas kedudukan dan harta yg telah di karuniakan kepadanya.
Di dalam kitab Risalatul Mu'awanah (hal 138), Syekh Abdullah bin Alawi Al Haddad menjelaskan agar kita selalu menggembirakan dan membahagiakan hati orang-orang mukmin dengan cara apapun tanpa adanya unsur dosa di dalamnya. Beliau menjelaskan:
(وَعَلَيْكَ) بِالشَّفَاعَةِ لِكُلِّ مَنْ سَأَلَكَ أَنْ تَشْفَعَ لَهُ فِي حَاجَةٍ إِلَى مَنْ لَكَ عِنْدَهُ جَاهٌ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَسْأَلُ الْعَبْدَ عَنْ جَاهِهِ كَمَا يَسْأَلُهُ عَنْ مَالِهِ
Artinya, "Hendaklah engkau memberi syafaat (pertolongan) kepada setiap orang yang memintamu untuk menolongnya dalam suatu keperluan kepada seseorang yang engkau memiliki kedudukan di sisinya. Sebab, Allah akan menanyai seorang hamba tentang kedudukannya sebagaimana Dia menanyainya tentang hartanya."
Jangan ragu untuk mengulurkan tangan dan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama dalam urusan dengan orang lain. Selain itu, agar kita semakin bersemangat dalam tolong-menolong, perlu kita sadari bahwa Allah dan Nabi Muhammad SAW sangat mengapresiasi perbuatan mulia ini. Terlebih lagi, jika pertolongan tersebut berkaitan dengan agama-Nya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad ayat 7)
Sedangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diterangkan:
وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
Artinya, "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya." (HR Muslim).
Kemudian Nabi Muhammad SAW juga menegaskan orang yang yang gemar menolong atau bermanfaat untuk sesama, maka ia akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab al-Mu'jamul Kabir, juz 12, halaman 453.
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Artinya, "Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat kepada sesama dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang kamu bagikan kepada sesama muslim atau kamu gunakan untuk meringankan kesulitannya atau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari rasa lapar. Sesungguhnya aku lebih menyukai untuk berjalan bersama (menolong) saudaraku yang membutuhkan bantuan dari pada beritikaf di masjid ini, yaitu masjid Madinah selama satu bulan."
Begitulah, manfaat tolong-menolong ini ternyata tidak hanya berdampak kepada orang yang ditolong, yang mendapatkan bantuan kebaikan. Akan tetapi juga kepada orang yang menolong, dia mendapatkan balasan pahala yang besar dan bahkan mendapatkan predikat yang istimewa dari Allah dan Nabi Muhammad.
Maka, di Bulan Ramadhan ini kita jadikan momen yang tepat untuk menambah kebaikan kita, dengan menolong sesama. Terlebih kepada mereka yang tengah mengalami kesulitan. Harapannya, agar kita kelak kita sendiri juga mendapatkan pertolongan pula ketika di Hari Akhir nanti. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ
Artinya, "Siapa pun yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat," (HR Muslim).
Semoga kita dijadikan Allah sebagai orang yang memiliki hati dan laku untuk saling menolong. Dan kita dimudahkan dalam setiap langkah kebaikan yang kita lakukan. Amin ya Rabbal Alamin.
Oleh: Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
Kultum Ramadhan 2026 #9
Judul: Selalu Ada Solusi pada Setiap Kesulitan Hidup
Siklus hidup manusia tentu tak lepas dari aspek emosional dan spiritual. Seperti halnya Allah SWT menciptakan kesulitan dan kemudahan yang membaur dengan hal ihwal manusia di dunia. Namun, semua hal di dunia akan berubah dan sirna kecuali dzat Allah SWT yang Maha Agung.
Setali tiga uang dengan pepatah "hidup bagaikan roda yang berputar." Ada kalanya suatu hal berada di atas, sementara yang lain di bawah. Begitulah siklus kehidupan yang terus berulang.
Begitu pula kesulitan dan kemudahan. Keduanya merupakan ciptaan Allah yang bertolak belakang namun beriringan adanya. Sebagaimana firman Allah SWT:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
Fa inna ma'al-'usri yusrâ. Inna ma'al-'usri yusrâ.
Artinya, "Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (5) sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (6)"
Al-Qur'an mengulang kata 'usr (kesulitan) sebanyak tiga kali bersamaan dengan kata yusr (kemudahan). Kata al-'usr berasal dari akar kata 'asara yang berarti sulit atau berat. Adapun kata "yusr" berasal dari akar kata "yasara" yang berarti mudah.
Dalam kajian semiotik, konotasi makna al-'usr merujuk pada kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan atau musibah secara umum, baik yang bersifat material maupun abstrak. Sementara itu, yusr bermakna kemudahan yang luas, dengan makna yang dapat bervariasi.
Selanjutnya, kata ma'a dalam ayat tersebut bermakna bersama, yang menunjukkan keterikatan antara kesulitan dan kemudahan. Manusia yang bertahan dengan kesulitan perlahan akan menemui kemudahan.
Jadi istilah kemudahan datang setelah kesulitan menjadi kurang tepat dalam hal ini. Karena kesulitan dan kemudahan beriringan dan berkaitan erat. Untuk itu, lafaz ma'a sangat ideal untuk mendeskripsikan kelekatan keduanya, bukan ba'da (setelah) atau bahkan bayna (di antara).
Hakikatnya, sebuah kesulitan terasa pahit karena adanya kemudahan yang pernah dirasakan manusia, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam potongan ayat surat At-Takatsur, digunakan diksi "bersama" untuk menunjukkan bahwa keduanya saling berkesinambungan.
Refleksi Surat Al-Insyirah Ayat 5-6
Ayat ini menunjukkan sisi spiritualitas mendalam, bahwasanya sebenar-benarnya support system terbaik hanyalah Allah SWT. Asbabun nuzul atau sebab turunnya surat ini juga untuk menghibur Nabi Muhammad SAW menghadapi beratnya lika-liku dakwah. Selain itu, Allah juga ingin menunjukkan kasih sayang-Nya kepada seluruh umat manusia.
Allah SWT tidak diam melihat hamba-Nya berada dalam kesulitan. Maka, Ia ciptakan pula kemudahan sebagai penyeimbangnya. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa adanya pengulangan pada ayat 5-6 surat Al-Insyirah mengarah kepada bentuk tegas Allah terhadap apa yang disampaikan. (Al-jami' li ahkam al-Qur'an, [Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyah, 2014], hlm. 73).
Allah menegaskan bahwa kepastian datangnya kemudahan selalu menyertai setiap kesulitan yang dialami manusia. Hal ini dapat dilihat dari kisah para nabi yang menghadapi ujian dan cobaan luar biasa, namun selalu mendapatkan pertolongan dari Allah.
Misalnya, Allah menguji Nabi Adam AS melalui perselisihan kedua putranya, Qabil dan Habil, yang berujung pada pertumpahan darah akibat dengki. Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS pun menghadapi ujian berat dengan istri-istri mereka yang durhaka.
Nabi Ibrahim AS diuji dengan siksaan penguasa zalim yang membakarnya di hadapan kaumnya. Nabi Musa AS dalam perjalanan dakwahnya harus berhadapan dengan Fir'aun, seorang penguasa tiran yang bahkan mengaku sebagai Tuhan. Begitu pula Nabi Muhammad SAW yang menghadapi berbagai hinaan dan penolakan dari kaum kafir Quraisy dalam menyebarkan risalah Islam.
Allah SWT Maha Berkehendak dan Berkuasa atas segala sesuatu. Dia tidak menciptakan kesulitan tanpa tujuan. Bahkan, sebelum menghadirkan cobaan, Allah telah menenangkan hamba-Nya dengan firman-Nya: Laa yukallifu Allahu nafsan illa wus'aha-Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Allah SWT juga menurunkan syariat rukhshah (keringanan) bagi umat Islam yang berada dalam kondisi sulit. Di sela-sela kewajiban yang telah ditetapkan, terdapat kemudahan yang menunjukkan kelembutan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya.
Kemudahan-kemudahan ini menunjukkan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada solusi yang diberikan oleh Allah. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, setiap ujian dan tantangan yang datang pasti diiringi dengan jalan keluar. Allah tidak membiarkan hamba-Nya terjebak dalam kesulitan tanpa memberi celah kemudahan.
Karena itu, dalam menghadapi berbagai problem kehidupan, kita tidak boleh berputus asa. Alih-alih berlarut dalam kesedihan, kita perlu meyakini bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi mereka yang bersabar dan berusaha. Dengan keimanan yang kokoh serta keyakinan terhadap rahmat-Nya, kita akan lebih mudah menghadapi ujian hidup dengan penuh ketabahan dan optimisme.
Semoga kita selalu termasuk dalam golongan orang-orang yang mampu melihat kemudahan di balik setiap kesulitan, serta senantiasa berpegang teguh pada petunjuk Allah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Wallahu a'lam.
Oleh: Ustadz Sayyida Naila Nabila, Pegiat Kajian Keislaman.
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
Kultum Ramadhan 2026 #10
Judul: Memperbaiki Diri di Bulan Suci
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri - memperbaiki hati, ibadah, dan akhlak kita. Karena sejatinya, tujuan utama puasa bukan hanya menahan fisik, tetapi membentuk pribadi yang bertakwa.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa, dan takwa hanya bisa diraih dengan perubahan dan perbaikan diri.
Jamaah sekalian,
Memperbaiki diri setidaknya bisa kita mulai dari tiga hal:
1. Memperbaiki Hubungan dengan Allah
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah: shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, dan dzikir.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)
Ini kesempatan besar bagi kita untuk memulai lembaran baru. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa perubahan dalam ibadah kita.
2. Memperbaiki Akhlak dan Perilaku
Puasa juga melatih kita menahan emosi, menjaga lisan, dan memperbaiki sikap terhadap orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)
Artinya, nilai puasa bukan hanya pada lapar, tetapi pada perubahan sikap.
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai latihan menjadi pribadi yang sabar, jujur, dan lembut terhadap sesama.
3. Memperbaiki Diri dengan Taubat
Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk kembali kepada Allah.
Taubat bukan hanya ucapan, tetapi tekad memperbaiki diri - meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ukuran keberhasilan Ramadhan bukan seberapa banyak menu berbuka yang kita nikmati, tetapi seberapa besar perubahan dalam diri kita. Jika setelah Ramadhan kita lebih rajin shalat, lebih lembut hati, dan lebih dekat kepada Allah - itulah tanda Ramadhan kita berhasil.
Seorang ulama berkata:
"Orang yang cerdas adalah yang memperbaiki dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati."
Jangan tunggu Ramadhan berikutnya - karena kita tidak tahu apakah masih diberi kesempatan.
Mari kita manfaatkan bulan suci ini untuk benar-benar memperbaiki diri - meningkatkan ibadah, menjaga akhlak, dan memperbanyak taubat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang mendapatkan ampunan dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya.
Wallahu a'lam bishawab
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kultum Ramadhan 2026 #11
Judul: Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Seringkali kita memahami puasa hanya sebagai kegiatan menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam Matahari. Padahal, makna puasa jauh lebih dalam daripada itu. Puasa adalah latihan pengendalian diri, baik lahir maupun batin.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa, bukan sekadar lapar. Takwa berarti menjaga diri dari dosa, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Jamaah sekalian,
Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa nilai puasa tidak hanya pada menahan makan:
"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga." (HR Ibnu Majah)
Hadits ini menjadi peringatan bagi kita. Jika selama berpuasa kita masih mudah marah, berkata kasar, berbohong, atau melakukan hal yang dilarang, maka kita belum memahami hakikat puasa.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mengganggunya, katakan: sesungguhnya aku sedang berpuasa."
(HR Bukhari & Muslim)
Ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan menjaga lisan, emosi, dan perilaku.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Puasa seharusnya mendidik kita dalam beberapa hal:
1. Menjaga lisan - dari ghibah, fitnah, dan kata-kata kasar.
2. Menjaga hati - dari iri, dengki, dan prasangka buruk.
3. Menjaga perbuatan - dari maksiat dan hal sia-sia.
4. Menumbuhkan empati - merasakan penderitaan orang yang kekurangan.
Jika nilai-nilai ini tumbuh dalam diri kita, maka puasa kita tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki kualitas puasa kita - bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari dosa dan memperbanyak kebaikan.
Semoga Allah menerima ibadah puasa kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.
Wallahu a'lam bishawab
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Demikian kumpulan contoh kultum Ramadhan singkat yang bisa dijadikan referensi dan inspirasi. Semoga bermanfaat!
(alk/alk)











































