Renungan Harian Katolik Jumat 20 Februari 2026: Hanya Debulah Aku

Renungan Harian Katolik Jumat 20 Februari 2026: Hanya Debulah Aku

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Jumat, 20 Feb 2026 05:45 WIB
Renungan harian Katolik
Ilustrasi renungan harian (Foto: Roméo A./Unsplash)
Makassar -

Renungan Harian Katolik menjadi salah satu sarana refleksi iman yang membantu umat semakin mendalami Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci dan permenungan yang menyertainya, umat diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup, menyadari kelemahan diri, sekaligus memperbarui komitmen untuk mengikuti kehendak Allah.

Pada Jumat, 20 Februari 2026, kita diajak untuk merenungkan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Manusia sering kali merasa kuat dan mampu, namun pada akhirnya menyadari bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada kasih dan penyelenggaraan-Nya.

Renungan hari ini mengangkat tema "Pertobatan-Hanya Debulah Aku" dikutip dari buku Renungan Tiga Titik yang ditulis oleh Katarina Noviarty. Secara lengkap artikel ini membahas mengenai:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  1. Bacaan dan renungan Katolik Jumat, 20 Februari 2026 berdasarkan kalender liturgi;
  2. Teks mazmur tanggapan;
  3. Teks doa penutup;

Yuk, simak selengkapnya!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 20 Februari 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

ADVERTISEMENT

Bacaan I: Yes 58:1-9a

Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!

Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:

"Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.

Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,5-6a,18-19

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

Bacaan Injil: Mat 9:14-15

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Renungan Hari Ini: Pertobatan-Hanya Debulah Aku

Jawab Yesus kepada mereka, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai itu bersama mereka? Namun, akan datang harinya mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa." (Mat. 9:15)

Mengapa orang-orang Farisi berpuasa sedangkan murid-murid Yesus tidak berpuasa? Itulah pertanyaan murid-murid Yohanes Pembaptis ketika datang kepada Yesus.

Lalu Yesus menjawab dengan perumpamaan 'Mempelai laki-laki'. Kata-Nya, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Namun, akan datang harinya mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa." (Mat. 9:15).

Dalam perumpamaan ini diartikan bahwasanya mempelai laki-laki itu adalah Yesus sendiri, maka kehadiran Yesus adalah sukacita bagi murid-murid-Nya. Ketika Yesus diambil dari mereka, disiksa dan wafat, murid-murid-Nya pun berdukacita, saat itulah mereka berpuasa.

Puasa ini berakhir ketika mereka berjumpa kembali dengan Yesus yang bangkit karena ada sukacita. Pada masa kini, pengikut Kristus terutama Katolik, berpuasa dan berpantang pada masa Prapaskah, masa pertobatan; adalah agar kita yang bak butiran debu ini, kembali kepada Allah dengan segenap hati yang tulus dan melakukan pertobatan.

Saat itu kita tidak hanya melakukan puasa dan berpantang saja, tetapi juga puasa hati untuk pengendalian diri agar dapat menjaga sikap, yaitu perkataan maupun perbuatan, sehingga relasi dengan Allah dan sesama menjadi baik. Kepada jemaatnya di Korintus, Paulus menyatakan bahwa masa puasa adalah masa di mana kita menerima kasih karunia Allah.

Paulus telah mengalami pertobatan dan bertransformasi dari kehidupan lamanya sebelum mengenal Kristus dan menjalani kehidupan baru setelah mengenal Kristus, melalui pengalaman imannya yang begitu luar biasa. Berawal sebagai seorang Farisi yang membenci murid-murid Yesus, hingga pengalaman Paulus bertemu dengan Yesus dalam perjalannya ke Damsyik.

Paulus mengalami kebutaan selama tiga hari karena tak kuat melihat cahaya Yesus yang sangat terang. Setelah bertemu dengan Ananias, Paulus bertobat dan matanya disembuhkan sehingga ia melihat kembali. Paulus dibaptis oleh Ananias, dipenuhi oleh Roh Kudus dan kemudian ia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk Kristus hingga akhir hayatnya.

Dalam masa Prapaskah ini marilah kita memeriksa kehidupan rohani kita, apakah kita sudah berelasi dengan baik dengan Allah dan sesama kita?

Doa Penutup

Bapa Yang Maha Rahim, jauhkanlah kami dari kesesatan dosa dan bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan-Mu agar kami dapat memperbarui hidup kami, dari kehidupan lama menjadi kehidupan baru.

Mampukan kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam perbuatan dan iman kami, sehingga dalam masa puasa dan pantang ini, Engkau juga membuka hati kami agar semakin peka kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan menjadi penyalur berkat bagi sesama kami. Demi Kristus Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Jumat, 20 Februari 2026. Semoga bermanfaat!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads