Kisah Tanah Bangkalae Diberi untuk IKN, Titik Nol Bone-Tempat Raja Dilantik

Agung Pramono - detikSulsel
Senin, 14 Mar 2022 07:01 WIB
Kawasan Tanah Bangkalae di Bone
Foto: Situs kawasan tanah Bangkalae di Bone (Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Situs Tanah Bangkalae yang 2 kilogram tanahnya dikirim ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dikenal sebagai tempat sakral dan merupakan titik nol Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bahkan dikenal sebagai tempat pelantikan raja-raja Bone setelah periode Arung Palakka.

"Tanah Bangkalae biasa disebut tanah ri tappa dewata (tanah diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa). Tanah dari tiga kerajaan besar. Tempat itu sangat disakralkan dan merupakan posi tanah atau titik nol Bone," kata pemerhati budaya Bone, Andi Promal Pawi kepada detikSulsel, Minggu (13/3/2022).

Situs Tanah Bangkalae ini dibangun pada 6 April 1696 atau bersamaan dengan Hari Jadi Bone (HJB), sehingga situs itu sudah ada sejak 326 tahun lalu. Di lokasi inilah setiap Raja Bone (Mangkau) secara turun temurun dilantik oleh Dewan Adat atau Ade Pitue. Mulai dari raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka dilantik di tempat ini pada 6 April 1696 hingga Raja Bone ke-33 La Pabbenteng Petta Lawa dilantik di situs Tanah Bangkalae.


"Tanah Bangkalae merupakan tempat pelantikan raja-raja Bone. Nanti sah diangkat menjadi Raja Bone dengan memakai Lamakkawa, Lateya Riduni, salempang emas, Lasalaga (tombak), payung emas dan menguasai arajang. Periode kedua Andi Idris Galigo dilantik Bupati Bone dilaksanakan di Tanah Bangkalae," tambah Kepala Dinas Pariwisata Bone ini.

Situs Tanah Bangkalae tempat dipersatukannya tiga tanah yang secara adat yang didatangkan dari tiga kerajaan besar di Sulawesi, yaitu kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa. Sebagai simbol persatuan dan perdamaian antar tiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan.

Kawasan situs berlokasi di Jalan Tana Bangkalae, kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Situsnya kini sudah berpagar keliling karena tempatnya berada di pinggir jalan jalur dua jalan poros Bone Wajo. Letaknya hanya sejauh 100 meter dari rumah jabatan Bupati Bone.

Promal menambahkan, sesuai catatan sejarah, Tanah Bangkalae merupakan prasasti persaudaraan tiga kerajaan besar yaitu Bone, Luwu, dan Gowa. Mereka sepakat tidak akan saling menyerang antara kerajaan satu dengan lainnya.

Sebelumnya, ketiga kerajaan ini selalu berselisih, bahkan saling memerangi satu sama lain, yang menimbulkan korban jiwa dan harta. Untuk itu Arung Palakka mengawinkan kemenakannya La Patau Matanna Tikka, dengan We Ummung Datu Larompong, yaitu putri La Settia Raja, Pajunge ri Luwu.

Kemudian pada tahun 1687 Arung Palakka juga mengawinkan kemenakannya La Patau Matanna Tikka dengan We Mariama Karaeng Pattukangan, yaitu putri I Mappadulung Daeng Mattimung, Tumenanga ri Lakiung, Karaenge ri Gowa.

"Dengan dipersatukannya ketiga tanah kerajaan tersebut dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan bersama Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa dalam mewujudkan sebuah bentuk perdamaian dan kerja sama dalam menata kerajaan masing-masing," beber Promal.

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Bone ini menambahkan, hasil penyatuan dan percampuran ketiga tanah tersebut maka terjadilah perubahan warna dari masing-masing warna aslinya. Setelah dipadukan ketiga tanah tersebut serta merta berubah menjadi warna kemerah-merahan dalam bahasa Bugis disebut bangkala, dari sinilah sehingga disebut Tanah Bangkalae sampai sekarang.

"Kawasan ini direncana akan dijadikan sebagai kawasan Kota Tua Bone untuk menjadikan ikon baru Kabupaten Bone," sebut Promal.

Sementara Budayawan Bone, Andi Yushan Tenri Tappu menambahkan, setelah perjanjian Bongaya pada 18 November tahun 1667, Arung Palakka melakukan program Tellu Cappa. Di antaranya, Cappa Lila, cappa kawali, dan cappa lamaraupe.

Filosofinya berarti berjuang dengan tiga ujung prinsip pegangan. Ujung lidah (cappa lila) berjuang menggunakan diplomasi, ujung badik (cappa kawali) yang digambarkan sebagai berjuang dalam bentuk perang, serta ujung kemaluan (cappa lamaraupe) yang berorientasi pada pernikahan politik.

"Langkah ketiga inilah yang dijadikan Arung Palakka untuk menyatukan semua kerajaan Bugis. Strategi pembangunan politik untuk membangun integrasi antar kerajaan di Sulsel," bebernya.

Tali persaudaraan yang disimbolkan adalah tidak ada lagi peperangan antara kerajaan Bugis satu sama lainnya. Sehingga secara sakral dilaksanakan seremonial mempertemukan tiga tanah. Tanah Tompo Tikka dibawa oleh Kerajaan Luwu yang karakternya berwarna putih, tanah Tamalate yang dibawa oleh Kerajaan Gowa berwarna merah kehitam-hitaman, serta tanah Palakka dari Kerajaan Bone berwarna kuning.

Ketiga tanah tersebut lalu dicampur dan dituang dalam satu wadah, lalu terbentuklah warna baru warna jingga. Dari situlah asal mula nama Tanah Bangkalae.

"Dengan dipersatukannya ketiga tanah Kerajaan tersebut dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan menata kerajaan masing-masing dan tidak ada lagi peperangan berikutnya. Perjanjian Tanah Bangkalae tersebut tidak hanya berlaku pada masa itu melainkan sampai ke generasi selanjutnya," sambung Yushan.

Sampel tanah dari situs sejarah Tanah Bangkalae di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan (Sulsel) dikirim Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Tanah itu dipilih karena menjadi simbol perdamaian tiga kerajaan besar di Sulsel, yakni Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa yang pernah terlibat konflik.

Sementara air yang dibawa Gubernur Sulsel adalah air dari Sumur Masjid Al Hilal Katangka Kabupaten Gowa yang dibangun pada tahun 1603 dan merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid menyimpan kisah masa lampau kerajaan Islam di Gowa, yang di dirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin atau I Manggarangi Daeng Manrabbia, pada abad XVII.



Simak Video "Warga Lokal di IKN Bakal Diberi Pelatihan, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/sar)