Di tengah padatnya ibu kota, ternyata masih ada kontrakan yang harganya murah meriah. Bahkan, kontrakan itu berada di pusat kota yang aksesnya sangat mudah dijangkau.
Kontrakan tersebut berada di Kampung Bali, Tanah Abang. Ada sederet kontrakan yang dibangun di tepi Kali Krukut dengan harga sangat murah, yakni Rp 20 ribu per hari.
Tim detikcom berkesempatan untuk mengunjungi kontrakan yang ada di Kampung Bali. Karena dibangun di tepi kali, kontrakannya merupakan semi permanen yang menggunakan kayu triplek.
Salah satu penghuni kontrakan di Kampung Bali bernama Vira. Bersama suami dan anaknya, ia menghuni kontrakan petak berukuran sekitar 2 x 3 meter.
Kontrakan itu berada di lantai 2 sebuah rumah, yang mana lebar rumahnya sendiri sangat sempit. Lantai bawahnya dibuat permanen dengan material bata ringan atau hebel, sedangkan lantai duanya pakai kayu triplek.
Kami diberi kesempatan untuk melihat langsung kontrakan milik Vira. Di dalamnya hanya ada ruangan sepetak, tidak ada kamar mandi, dan sebuah jendela kecil dengan memotong kayu triplek.
Di kontrakan ini Vira menyambung hidup bersama keluarganya. Ia mengatakan kontrakan ini dibanderol Rp 30 ribu per harinya.
"Kalau saya Rp 30 ribu per hari, nggak perlu bayar listrik, nggak bayar air lagi karena udah termasuk," kata Vira saat diwawancara detikcom di Kampung Bali, Selasa (13/10/2026).
Vira menyebut kontrakan di Kampung Bali biasanya dibayar per hari. Apabila ada rezeki, penghuni bisa langsung membayarnya secara lunas dalam hitungan bulan.
Adanya sistem pembayaran harian cukup membantu penghuni yang tak punya penghasilan tetap setiap bulan. Supaya pembayaran tidak menunggak, beberapa warga ada yang membayar harian.
"Ada mereka (penghuni kontrakan) yang nabungnya per hari, jadi kayak nabung gitu. Tapi ada juga yang bulanan bayarnya, beda-beda," tutur Vira.
Vira tak tinggal sendirian, ia bertetangga dengan Eva yang menempati kontrakan petak di sebelahnya. Harga sewanya lebih murah, yakni Rp 20 ribu per hari.
Namun, murahnya harga sewa disesuaikan dengan lebar kontrakan. Tempat tinggal Eva hanya selebar 1 x 2 meter, dindingnya dilapisi triplek, dan terdapat jendela kecil yang kurang efektif mengalirkan sirkulasi udara.
Eva tinggal bersama mantu, anak, dan cucunya. Saat tidur di malam hari, mereka harus mengatur posisi yang pas supaya tidak saling bersenggolan.
"Kalau saya tinggal di sini sewanya Rp 20 ribu per hari, tinggal berlima sama mantu, anak, dan cucu. Kadang kalo nggak ada duit, nggak bisa bayar uang sewanya," ungkap Eva.
Tak Pernah Kebanjiran Meski Tinggal di Pinggir Kali
Walau tinggal di pinggir Kali Krukut, Vira mengaku tak pernah mengalami kebanjiran saat hujan. Sejak penataan Banjir Kanal Barat dalam beberapa tahun terakhir, banjir tak pernah menyentuh Kampung Bali lagi.
Meski begitu, tantangan yang dihadapi Vira dan keluarga adalah bau sampah yang menyengat. Terkadang, sampah rumah tangga kerap menumpuk di dekat pintu air.
"Nggak pernah kebanjiran di sini, nggak pernah naik juga airnya sampai tinggi, tapi kalau misalkan sampah sih wajar ya, karena di mana-mana juga pasti ada sampah kan."
"Tapi setiap hari dibersihin sama petugas, setiap pagi mereka bersihin terus angkut-angkutin sampahnya," ungkap Eva.
Kontrakan Murah Meriah Baru Ada Sejak 2022
Erwin selaku Ketua RW 04 Kampung Bali mengatakan kontrakan yang dibayar per hari ini baru muncul sekitar 2022. Pemiliknya pun adalah warga setempat yang dibangun untuk para pendatang.
"Baru, belum lama ini. Kontrakan-kontrakan ini baru ada sekitar 2022 atau 2023 dan pemiliknya warga kita juga," papar Erwin.
Menurut Erwin, merebaknya kontrakan-kontrakan yang bisa dibayar harian ini memudahkan para penghuni yang tinggal. Di sisi lain, Ketua RT setempat sedikit kesulitan dalam mendata para pendatang yang tinggal di Kampung Bali, khususnya di RW 04.
"Tadinya emang mau bulanan gitu kan, tapi ya sudah diganti jadi harian aja. Pemiliknya sih yang punya ide ini, kalau kita sih nyaraninnya memang lebih bagus bulanan kan jelas datanya, kalau masuk di harian harus ngecek datanya lagi," jelasnya.
Namun, tidak semua kontrakan di RW 04 Kampung Bali terbuat dari triplek. Beberapa kontrakan di RT 06 misalnya, disebut lebih bagus karena merupakan bangunan permanen.
Sedangkan kontrakan di beberapa RT lain merupakan bangunan semi permanen dari material kayu, sehingga tidak kokoh dan rawan roboh.
"Kontrakannya ada banyak, di setiap RT hampir ada kontrakan. Kalau di RT 06 lebih bagus kontrakannya karena memang rumah semi permanen, tapi kalau di RT 01, 02, 04 itu bangunannya dari kayu," pungkas Erwin.
(ilf/das)