Kontrakan Reyot di Kampung Pelangi, Tersembunyi di Tengah Gemerlap Jaksel

Kontrakan Reyot di Kampung Pelangi, Tersembunyi di Tengah Gemerlap Jaksel

ilham fikriansyah - detikProperti
Senin, 05 Okt 2026 08:05 WIB
Bu Ramah, Salah Satu Warga yang Tinggal di Kampung Pelangi, Jakarta Selatan
Bu Ramah, Salah Satu Warga yang Tinggal di Kampung Pelangi, Jakarta Selatan. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Kampung Pelangi merupakan salah satu permukiman padat penduduk di Jakarta Selatan. Permukiman ini diapit gedung-gedung tinggi dan hunian elite yang dihuni oleh orang-orang kaya.

Pemandangan begitu kontras ketika tim detikcom mengunjungi kampung padat ini. Tampak ada tembok besar yang membatasi antara Kampung Pelangi dengan perumahan mewah persis di sebelahnya.

Mirisnya lagi, permukiman ini tepat bersebelahan dengan lapangan padel yang besar. Sarana olahraga ini tentu ditargetkan untuk orang-orang berduit, bukan untuk mereka yang tinggal di Kampung Pelangi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama menyusuri Kampung Pelangi, tampak sejumlah warga tengah beraktivitas seperti mencuci baju, mencuci piring, hingga memisahkan barang-barang bekas.

Yap, Kampung Pelangi merupakan tempat tinggal bagi pekerja pemilah sampah atau disebut pemulung. Tak heran, ada banyak sekali lapak-lapak semi permanen yang berisi kertas hingga kardus untuk dijual kembali.

ADVERTISEMENT

Salah satu warga yang tinggal di Kampung Pelangi adalah Ramah, seorang pengumpul barang bekas yang mencari nafkah di ibu kota. Ia tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil berukuran 2x3 meter.

Kami diizinkan untuk melihat bagian dalam kontrakan Bu Ramah. Miris, tempat tinggalnya jauh dari kata layak; tidak ada ventilasi, dindingnya dari papan kayu, dan hawanya sangat pengap.

Ramah mengatakan harus membayar uang sewa kontrakan sebesar Rp 500 ribu per bulan. Harga tersebut terbilang 'murah' untuk sebuah kontrakan kecil di bilangan Jaksel.

Namun, harga itu masih terlalu mahal untuk sebuah kontrakan yang fasilitasnya kurang memadai; tidak ada kamar mandi, dapurnya sangat kecil, dan tak ada jendela.

"Segini (harga kontrakannya) Rp 500 ribu sebulan. (Ada apa aja ini bu?) Ini ada kasur, kipas angin, sama TV. Ini aja TV boleh dapet dikasih sama orang," kata Ramah kepada detikcom, Kamis (1/10/2026).

Kontrakan tersebut merupakan bangunan semi-permanen yang di dalamnya dibagi menjadi tiga petak, satu ditempati Ramah, satunya dihuni sang anak, dan satunya lagi ditinggali orang lain.

Harga sewanya pun berbeda-beda, untuk kontrakan yang ditinggali anaknya dibanderol Rp 400 ribu per bulan. Sementara satu petak kontrakan lagi, yang ukurannya sedikit lebih kecil, harga sewanya Rp 300 ribu per bulan.

Kontrakan Semi-permanen yang Sudah Tak Layak Huni

Di tengah gemerlap Jakarta Selatan yang dipenuhi gedung-gedung tinggi dan kawasan hunian elite, Kampung Pelangi menyimpan cerita kehidupan warga yang jauh berbeda. Permukiman padat ini berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan masih menjadi tempat warga menjalani aktivitas sehari-hari.Di tengah gemerlap Jakarta Selatan yang dipenuhi gedung-gedung tinggi dan kawasan hunian elite, Kampung Pelangi menyimpan cerita kehidupan warga yang jauh berbeda. Permukiman padat ini berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan masih menjadi tempat warga menjalani aktivitas sehari-hari. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Selain fasilitasnya yang kurang memadai, kontrakan yang dihuni Ramah kondisinya juga sudah tak layak huni. Banyak material kayunya yang sudah lapuk dan reyot, sehingga rawan sekali ambruk.

Dalam suatu kesempatan, tim detikcom mencoba menaiki lahan tempat menjemur baju di depan rumah Bu Ramah. Baru sekali pijakan, terdengar suara kayu yang menandakan fondasinya sudah tidak kokoh.

"Awas mas hati-hati, bisa jebol itu," ujar salah satu warga yang kebetulan melintas di depan kami.

Ramah berujar memang ada beberapa kayu yang sudah lapuk dan rawan ambruk. Bahkan, ia pernah jatuh ketika melewati bagian sudut rumah, yang kebetulan titik itu adalah yang sebenarnya mau kami lalui.

"Iya ini emang udah pernah jebol, saya aja pernah jatuh di situ," ungkapnya.

Ramah sebenarnya ingin sekali memperbaiki kayu-kayu yang sudah lapuk. Namun, biaya yang dibutuhkan cukup besar sehingga ia memilih bertahan dengan kondisi sekarang.

"Sebenarnya udah mau diperbaikin, tapi biayanya besar, belum harus beli kayu, beli pakunya, bayar tukangnya, sedangkan saya sehari-hari cuma mulung dan dapet (uangnya) nggak banyak," ujar Ramah.

Ramah bercerita sehari-harinya berkeliling dari jalan ke jalan untuk mengumpulkan barang yang bisa dijual. Saat diwawancara oleh kami, ia pun baru pulang mencari nafkah di Jakarta.

Sejak suaminya meninggal dunia, Ramah harus banting tulang sendirian demi memenuhi kebutuhan hidup. Anaknya yang kini sudah dewasa, hanya bekerja sebagai buruh cuci yang upahnya tak sampai Rp 2 juta per bulan.

"Saya bilang sama anak saya, 'Nak kamu nggak usah biayain hidup ibu, biar ibu biayain diri sendiri dari sini, kamu simpan aja uangnya buat kebutuhan diri sendiri, belum lagi harus ongkos pulang pergi kerja'," tuturnya.

Ramah hanya satu dari sekian banyak warga di Kampung Pelangi yang mencari nafkah sebagai pemulung di Jakarta. Meski pendapatan tak menentu, mereka terus semangat merajut asa demi memenuhi kehidupan sehari-hari.

(ilf/das)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads