KAI Properti mengembangkan lahan seluas 2.500 meter persegi menjadi empat lapangan padel. Pembangunan ini menjadi bagian dari langkah strategi mereka dalam mengoptimalkan aset yang disesuaikan dengan karakter kawasan dan potensi pasar di sekitarnya.
Lokasi lapangan padel bernama Railley Padel Jakarta Juanda tersebut berada di Jalan Ir. H. Djuanda No. 1 C, Jakarta Pusat. Lokasi mudah dijangkau karena dekat dengan aktivitas perkantoran dan mobilitas masyarakat. Aset tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang komersial guna mendukung aktivitas masyarakat melalui fasilitas olahraga
Manager Corporate Communication KAI Properti, Bramantya Candrika, mengatakan bahwa pemanfaatan aset dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi, karakter kawasan, hingga perkembangan kebutuhan pasar.
"Pengembangan aset perlu melihat aktivitas yang tumbuh di sekitarnya. Di Juanda, kami melihat kawasan dengan aktivitas perkantoran yang tinggi dan perkembangan komunitas olahraga yang cukup kuat. Potensi tersebut kemudian kami terjemahkan menjadi fungsi komersial yang relevan sekaligus dapat meningkatkan produktivitas aset yang kami kelola," ujar Bramantya dalam keterangannya, dikutip Kamis (8/10/2026).
Pembangunan Railley Padel Jakarta Juanda telah berlangsung dari 18 Januari hingga 30 Agustus 2026. Kini, bangunan tersebut sudah dibuka sejak 6 Oktober 2026. Di dalamnya tersedia 4 lapangan padel yang dilengkapi VIP Room, musala, locker, toilet dan area mandi, front desk, layanan penyewaan raket, serta area parkir mobil dan sepeda motor.
Masyarakat bisa berkunjung mulai dari puku 06.00-22.00 WIB. Rentang waktu operasional tersebut memungkinkan fasilitas digunakan sebelum maupun setelah jam kerja, sekaligus mengakomodasi aktivitas individu dan komunitas.
"Bagi KAI Properti, aset memiliki peluang untuk terus dikembangkan mengikuti dinamika kawasan dan kebutuhan pasar. Karena itu, kami ingin setiap pengembangan memiliki fungsi yang jelas, memiliki pengguna yang relevan, dan mampu menciptakan aktivitas ekonomi dari aset yang sebelumnya dapat dioptimalkan lebih lanjut," lanjut Bramantya.
Pendekatan serupa terus dilakukan terhadap aset-aset potensial lainnya dengan mempertimbangkan karakter lokasi, kebutuhan masyarakat, serta peluang bisnis yang dapat dikembangkan.
"Ke depan, kami akan terus melihat potensi setiap aset secara lebih spesifik. Juanda menjadi salah satu contoh bagaimana lokasi, pasar, dan kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dalam satu pengembangan sehingga aset memiliki aktivitas dan nilai ekonomi yang semakin baik," tutup Bramantya.
(aqi/das)