Thailand mempunyai gedung mangkrak terkenal yang dijuluki 'Menara Hantu', tepatnya di Bangkok. Proyek gedung pencakar langit itu berhenti sejak 1997 atau hampir 30 tahun.
Dilansir dari Thailand Business News, gedung pencakar langit itu bernama Sathorn Unique Tower. Tinggi bangunan mencapai 49 lantai, tetapi sayang proyeknya batal akibat krisis finansial Asia kala itu.
Meski sudah lama mangkrak, Menara Hantu itu masih berdiri kokoh. Bahkan, bangunan tidak terpengaruh ketika gempa magnitudo 7,7 menghantamnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Menara Hantu di Bangkok bertahan selama ini?
Diketahui konstruksi bangunan dimulai pada awal 1990-an. Bangunan itu menggunakan kerangka beton bertulang.
Gedung pencakar langit ini tadinya mau digunakan sebagai hunian mewah sebelum Thailand menerapkan kode seismik. Para ahli meyakini usia panjang bangunan berkat struktur kerangka yang kokoh.
Kolom bangunan tebal dan memiliki desain yang sederhana. Struktur itu belum selesai menghindari penggunaan sistem flat slab yang konon jadi penyebab bangunan runtuh.
Dikutip dari VNexpress, kondisi bangunan yang belum selesai dan masih terlihat rangka-rangkanya. Bangunan itu tampak mengerikan sehingga disebut Menara Hantu dan menjadi situs yang diincar wisatawan pemberani.
Seorang turis melalui Travelfreak mengaku membayar 200 Baht atau sekitar Rp 104.523 (kurs Rp 522) kepada petugas keamanan untuk akses ke gedung selama 15 menit. Lalu, blogger travel Jack Morris mengaku pernah mengunjungi lantai tertinggi Sathorn pada 2015.
"Setiap kali saya datang ke Bangkok, saya selalu tergoda untuk menaiki gedung 49 lantai yang terbengkalai ini. Menurut saya, ini adalah tempat dengan pemandangan kota terbaik," katanya, dikutip Senin (16/3/2026).
"Penduduk setempat menyebutnya 'Menara Hantu' karena beberapa orang percaya bahwa gedung ini berhantu," tambahnya.
Dilansir dari Business Insider, Sathorn Unique Tower sempat menghadapi masalah hukum dan penyitaan. Pemiliknya, Pansit Torsuwan sempat ingin menjual gedung, tetapi hingga saat ini tidak juga kunjung mendapatkan pembeli.
Bangunan ini semestinya menyediakan 659 unit hunian dan 54 unit ritel. Namun, proyeknya ditinggalkan begitu saja dengan kerangka beton yang belum sama sekali dipoles.
Tempat tersebut pun dilarang untuk dimasuki. Akan tetapi, beberapa orang tetap nekat melihat-lihat bagian dalam gedung.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
