Setiap membangun permukiman baru, infrastruktur jalan merupakan fasilitas utama yang harus dibangun. Sayangnya, hal itu tidak berlaku di desa kecil di Belanda karena tidak ada jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan roda empat.
Desa bernama Giethoorn ini sama sekali tidak punya jalan raya, depan rumahnya adalah kanal panjang dan berkelok. Warganya sudah biasa mobilisasi dengan perahu, jalan kaki, dan sepeda.
Uniknya lagi, sepanjang kanal tersebut terdapat gambar rambu-rambu lalu lintas layaknya di daratan. Ada tanda panah menunjuk ke samping, lurus, bahkan kaca cekung di tikungan. Rambu-rambu itu dipasang di pinggiran daratan dan sisi jembatan yang mengarah ke perairan sehingga pengemudi perahu dapat melihatnya.
Bisa dibayangkan bagaimana sunyinya desa tersebut setiap hari, tidak akan terganggu dengan suara knalpot bersuara terompet. Selain itu, jika jumlah wisatawan masih wajar, tidak ada kemacetan di perairan, semua bisa berkeliling desa dengan lancar.
Dilansir National Geographic, desa ini berdiri di lahan dari kumpulan tanah gambut yang dihubungkan dengan jembatan. Hal ini merupakan pemandangan yang wajar di Belanda, tanah di negara mereka memang tidak solid dan di kelilingi perairan.
Hal menarik lainnya adalah saat masuk musim dingin. Suhu yang berubah menjadi sangat dingin dapat membekukan air di kanal. Lantas, bagaimana warganya bepergian? Selain melalui jembatan penghubung antar daratan, mereka memilih berseluncur di atas air kanal yang membeku tersebut.
Rumah-rumah di desa ini bergaya farm house yang dibangun pada abad ke-18 dan ke-19. Rata-rata hanya terdiri dari 1 lantai, tetapi ukurannya cukup besar. Halamannya pun luas, tidak ada rumah yang saling menempel. Kesamaan antar rumah adalah bentuk atapnya yang seperti limas, di mana atap kanan dan kiri miring hampir ke tanah. Jadi setiap rumah jika dilihat dari depan bentuk seperti segitiga. Namun, pada fasad rumah terdapat atap pendek berwarna senada dengan atap utama sehingga fasad segitiga itu tampak memiliki poni.
Setiap gundukan tanah di sampingnya pasti memiliki jalur air untuk parkir kapal. Ukurannya jauh lebih kecil dari luas kanal utama yang menjadi jalur lalu lintas. Satu jalur parkir tersebut ada 1-4 kapal ditambatkan. Bahkan ada rumah yang memiliki teknologi daratan yang bisa bergerak untuk mengangkat kapal ke daratan.
Ada juga kapal-kapal yang ditambatkan di pinggir jalan utama, tetapi hanya pada area-area tertentu saja. Ukuran kapal yang ditambatkan di pinggir jalan cukup beragam, ada yang kecil untuk 3-4 orang, ada pulah yang sedang dengan atap.
Meskipun desa tersebut ramai dengan wisatawan, rumah-rumah di sana dibuat tanpa pagar, tetap aman, bersih, dan tidak diganggu. Wisatawan hanya duduk di antara kanal dan jalan setapak.
Uniknya lagi, jendela-jendela pada rumah-rumah di desa Giethoorn dibuat tertutup. Ada yang memakai penutup putih di balik kaca atau memang memakai jendela kayu yang dalamnya tertutup. Cahaya matahari masuk dari jendela di atap rumah seperti skylight.
(aqi/das)