×
Ad

Hanya Separuh Warga Jakarta yang Punya Rumah Sendiri, Rusun Jadi Solusi?

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Selasa, 24 Feb 2026 19:32 WIB
Ilustrasi Kota Jakarta. Foto: Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik DKI Jakarta
Jakarta -

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengungkapkan hanya separuh warga Jakarta yang saat ini menempati rumah milik sendiri. Jumlahnya hanya 54,54 persen, paling rendah di antara 38 provinsi di Indonesia.

Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti warga Jakarta yang tak punya rumah sendiri, berarti tinggal di rumah sewa atau tinggal bersama kerabatnya.

Terpisah, pengamat perkotaan Yayat Supriatna menyampaikan banyak penyebab kenapa warga Jakarta sulit memiliki rumah pribadi. Salah satu penyebabnya adalah harga tanah yang semakin mahal dan rendahnya penghasilan pekerja Jakarta sehingga tidak memungkinkan untuk membeli rumah tapak saat ini.

Lantas, apakah selamanya warga Jakarta akan kesulitan memiliki rumah sendiri Ibu Kota?

Menurut Yayat masalah ini tetap dapat diatasi, tetapi dengan usaha ekstra. Sebab, masalah ini sudah cukup kompleks sehingga harus ada langkah konkret agar semua warga Jakarta yang ingin tinggal di dalam kota bisa memiliki tempat tinggal.

1. Beralih ke Hunian Tipe Sharing Equity Housing

Sharing equity housing merupakan skema tempat tinggal vertikal, di mana di dalam satu gedung terdapat beberapa penghuni berbeda yang juga memiliki rumah tersebut. Mengingat harga tanah di Jakarta sudah cukup mahal, solusinya adalah dengan memakai tanah pemerintah. Jenis hunian ini bisa untuk rumah milik atau rumah sewa.

"Sharing Equity Housing itu artinya dibangunlah rumah-rumah susun sewa di atas tanah milik negara atau aset pemerintah," kata Yayat kepada detikcom pada Selasa (24/2/2026).

Untuk hunian sewa, masa tinggalnya diperpanjang 80-90 tahun. Pemerintah akan mendapat pemasukan dari pemakaian tanah tersebut.

Yayat menyebut cara ini sudah dipakai di negara tetangga, seperti Malaysia, di mana sultan di sana meyerahkan tanah milik kerajaan untuk dibangun rumah vertikal.

2. Memanfaatkan Gedung Kantor Kosong

Jakarta merupakan kota di Indonesia dengan gedung pencakar langit terbanyak di Indonesia. Yayat mengusulkan gedung-gedung kantor yang kosong diubah beberapa lantai menjadi hunian vertikal. Namun, tantangannya adalah tidak semua gedung mampu untuk diubah menjadi rumah apabila awalnya untuk kegiatan retail dan kantor.

"Konsepnya co-housing misalnya. Kantor-kantor kan banyak kosong ya, co-housing. Jadi 30 persen untuk kantor, 70 persen untuk perumahan. Tapi harus di-redesign ulang bangunannya," ujarnya.

3. Bangun Transportasi Massal yang Dekat dengan Permukiman Vertikal

Untuk meningkatkan penjualan rumah vertikal di Jakarta, pilih lokasi proyek yang dekat dengan transportasi massal, seperti stasiun KRL, LRT, MRT, dan halte bus.




(aqi/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork