Ironi Ibu Kota, Cuma Separuh Warga Jakarta yang Punya Rumah Sendiri

Ironi Ibu Kota, Cuma Separuh Warga Jakarta yang Punya Rumah Sendiri

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Selasa, 24 Feb 2026 15:12 WIB
High-rise buildings are illuminated in the evening in Jakartas business district, Indonesia, November 4, 2025. REUTERS/Willy Kurniawan
Kota Jakarta. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia telah menghimpun data jumlah warga yang memiliki rumah milik pribadi di 2025. Mengejutkannya, Jakarta justru berada di jumlah terendah di antara 38 provinsi, yakni hanya 54,54 persen.

Hal ini diungkapkan dalam data Persentase Rumah Tangga menurut Provinsi dan Status Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal yang Ditempati Milik Sendiri (Persen) pada 2025, yang diambil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret dan diperbarui pada Desember 2025.

Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna mengatakan rendahnya jumlah kepemilikan rumah di Jakarta bukan hal baru. Masalah ini sudah terlalu kompleks karena penyebabnya bukan hanya dari faktor ekonomi, melainkan juga muncul dari faktor alam dan tren pembeli masa kini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi secara struktur sulit mereka mendapatkan rumah. Dan kalau misalnya trennya ini terus-terusan seperti ini, memang Jakarta mau tidak mau, ke depan itu harus dibuat konsep rumah sewa, rumah susun, rumah susun sewa," kata Yayat kepada detikcom pada Selasa (24/2/2025).

Berikut beberapa penyebab banyak warga Jakarta yang belum memiliki rumah sendiri.

ADVERTISEMENT

1. Harga Rumah yang Mahal

Sudah menjadi rahasia umum jika harga tanah di Jakarta sangat mahal. Harga per meternya bukan lagi dua digit, melainkan ada yang sudah tembus 3 digit atau ratusan juta per meter.

Sementara, Upah Minimum Regional (UMP) di Indonesia belum mencapai 2 digit, melainkan tertinggi Rp 5,7 juta per bulan. Tentu tidak akan mampu untuk membayar kredit rumah seperti KPR. Bahkan jika mereka mengeluarkan seluruh gaji bulanan, pasti tidak akan menutupi.

"Harga tanah di Jakarta itu sudah tidak terjangkau oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Apalagi untuk penyediaan FLPP (KPR subsidi), itu closing (tidak terjangkau) saja udah Jakarta itu. Sudah sulit mendapatkan tanah yang terjangkau. Bahkan UMR itu sudah nggak bisa menutupi harga satuan rumah yang dijual," ungkapnya.

2. Gen Z Banyak yang Tertarik Rumah Sewa

Saat ini, ia melihat tren pembelian properti, anak muda lebih memilih menyewa rumah daripada mengambil kredit rumah atau membeli lunas di awal. Menurutnya, ini merupakan efek dari penghasilan yang kecil, sementara harga rumah yang sudah selangit.

"Sebagian warga Jakarta terbelenggu kepada income track. Jadi dia terjebak pada status income, rumah makin sulit untuk terjangkau. Kemudian pilihannya itu tadi, mereka memilih rumah sewa, ngontrak, ngekos, dengan standar di bawah rata-rata," terang Yayat.

Ia buka-bukaan, kondisi rumah sewa di Jakarta juga tidak semuanya layak, banyak yang kondisinya kurang layak. Asal kebutuhan utama terpenuhi, seperti bisa tidur dan bersih-bersih, rumah tersebut diminati.

"Karena banyak juga, kos di Jakarta harga Rp 500 ribu, tapi ya nggak sesuai standar. Nggak bisa ala Amerika, ala Jepang, yang ada hanya ala kadarnya," ucapnya.

3. Banyak Kaum Urban ke Jakarta

Sebagai kota metropolitan, dengan UMP tinggi dan lapangan kerja yang banyak di Jakarta, banyak orang datang untuk mengadu nasib. Kebanyakan dari mereka berasal dari masyarakat kelas menengah ke bawah, ekonomi tidak stabil, dan tentu kemungkinan tidak punya modal besar untuk mencari hunian. Akhirnya mereka memilih menyewa rumah.

"Menyewa itu, satu lagi karena urbanisasi ya. Itu sangat tinggi di Jakarta. Migrasi penduduknya itu sangat tinggi. Jadi bisa dikatakan kelompok menengah bawah Jakarta itu didominasi oleh kelompok migran, yang katakanlah belum stabil secara ekonomi," terangnya.

4. Sering Banjir, Polusi, dan Macet

Yayat mengungkapkan selain harga yang mahal, banyak rumah di Jakarta sulit laku karena masalah kualitas hidup di sana. Sebagai contoh lingkungannya rawan banjir, kualitas udara yang buruk karena polusi, dan banyak titik macet.

Masalah banjir merupakan pertimbangan besar bagi konsumen saat mencari rumah. Sebab, banjir di Jakarta tidak hanya berdampak pada rumah di sekitar bibir kali atau sungai saja, area elite agak ke tengah kota juga saat ini bisa kebanjiran.

"Tapi kalau terus-terusan banjir kan nilai propertinya turun. Nah akhirnya mereka mencari kualitas hidup yang lebih bagus, pindah ke kota-kota baru, apakah itu di Serpong, di BSD, di Bintaro, di Gading Serpong. Mereka tuh kelas menengah yang pindah ke kota-kota baru dengan standar yang lebih baik, fasilitas yang lebih lengkap, kemudian dibantu dengan aksesibilitas jalan tol yang cukup baik (bisa menjangkau Jakarta), mereka merasa investasi (properti) mereka tidak turun," terangnya.

5. Generasi Masa Kini Sudah Tidak Berminat Tinggal di Rumah Besar

Penyebab lainnya adalah masyarakat masa kini kurang menyukai rumah-rumah besar. Sementara, di Jakarta cukup banyak ditemui rumah-rumah besar yang pada era 70-an itu penuh dihuni dan hidup. Saat ini, rumah-rumah tersebut dibiarkan kosong dan pewarisnya juga tidak berminat tinggal di sana.

6. Banyak Area Perumahan Berubah Jadi Kawasan Komersial

Imbas banyaknya rumah tapak yang dijual, pemilik sebelumnya akhirnya melepas kepemilikannya untuk diubah statusnya sebagai area komersial, seperti dipakai untuk membuka ruko, cafΓ©, penginapan, hingga area olahraga.

"Kemudian mengubah alih fungsi rumah itu banyak terjadi di Jakarta. Rumah jadi restoran, jadi toko, jadi lapangan padel, jadi apa aja. Ketika rumah dengan nilai pajak yang makin tinggi, tapi tidak punya nilai karena ahli-ahli warisnya juga udah kemana-mana, hidupnya juga sepi, maka mereka alih fungsikan untuk kegiatan-kegiatan komersial," katanya.

(aqi/das)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads