Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Heru Pudyo Nugroho menegaskan harga rumah subsidi tahun ini tidak akan naik, meskipun ada gentengisasi.
Ia melihat saat ini sudah banyak rumah subsidi yang sudah memakai genteng bahkan genteng press yang harganya lebih mahal dari genteng tanah liat.
"Harus dilihat dulu lah. Selama ini pake genteng press, itu lebih mahal daripada genteng. (Tapi rata-rata rumah subsidi pakai galvalum) lihat dulu di daerahnya mana, kalau Jawa sih rata-rata kebanyakan sih pake genteng press bisa. Tergantung pengembangnya lah. (Jadi harga rumah subsidi nggak akan naik tahun ini?) Nggak," kata Heru saat ditemui di Wisma Mandiri, Jakarta pada Senin (9/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heru menjelaskan harga rumah subsidi harus berpihak kepada rakyat. Selain itu, harga rumah subsidi tahun ini masih sama dengan tahun lalu dan ternyata progress pembangunan rumah subsidi baik bahkan jadi jumlah penyaluran KPR subsidi tertinggi sejak BP Tapera berdiri.
"Kita masih keberpihakan kepada rakyat lewat rumah subsidi. Baru tahun lalu juga capaian (penyaluran FLPP) realisasi tinggi sepanjang sejarah. Nggak ada sensitivitas ke pricing (harga) kan. Kalau nggak kan (ada protes soal harga rumah subsidi) pasti turun tuh realisasinya (pembangunan rumah subsidi). Artinya secara pricing masih menguntungkan bagi pengembang," ujar Heru.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Ari Tri Priyono menyampaikan perlu adanya mekanisme yang mengatur soal 'Gentengisasi' ini. Itu karena kebanyakan yang masih menggunakan seng sebagai atap rumah adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Harga seng bisa dibilang cukup murah jika dibandingkan genteng. Ari mengatakan, harga genteng bisa dua sampai tiga kali lipat dari seng.
Ia tidak menyangkal penggunaan atap seng memang kurang bagus dari segi estetika, tapi kemampuan masyarakat untuk menggunakan genteng harus dipertimbangkan. Maka dari itu, ia berharap ada mekanisme yang jelas terkait penggunaan atap genteng ini.
Namun, Ari menyarankan agar harga rumah subsidi dinaikan kalau penggunaan atap genteng diterapkan secara nasional. Itu karena harga genteng jauh lebih mahal dari seng.
"Harusnya berpengaruh, harusnya dinaikin juga harga rumahnya, kan bahannya aja sudah beda. Saat ini kita juga sudah usul agar harga FLPP (rumah subsidi) dinaikin. Sudah nggak bisa nahan lagi karena (harga) bahan-bahan juga sudah naik," ungkapnya.
Ia menuturkan, kenaikan harga rumah subsidi sebaiknya berkisar antara tujuh sampai 10 persen. Hal ini mengingat sudah hampir dua tahun tidak ada perubahan harga.
"Kan sudah berapa tahun nggak naik ini. Ya dua tahun lah ya (harga rumah subsidi nggak naik). Ya kalau dua tahun, (naik) 7-10 persen lah," tuturnya.
(aqi/das)










































