Sebuah penginapan bernama Pondok Margherita berdiri ekstrem dan terpencil di tebing curam, puncak Pegunungan Alpen. Berdiri tepat di puncak Punta Gnifetti, dekat perbatasan Italia dan Swiss. Dahulu pondok ini diresmikan oleh Ratu Italia sehingga nama pondoknya pun diambil dari nama sang ratu.
Pondok Margherita berada di ketinggian sekitar 4.554 meter atau hampir 15.000 kaki di atas permukaan laut. Pondok ini tercatat sebagai bangunan yang berdiri di lahan paling tinggi Eropa.
Melansir Oddity Central, Selasa (3/2/2026), Pondok Margherita memiliki nilai sejarah yang kuat karena diresmikan pada tahun 1893 langsung oleh Ratu Italia, Margherita dari Savoy. Nama pondok tersebut diambil dari nama ratu yang kala itu melakukan perjalanan ke puncak gunung, sebagai simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan eksplorasi manusia di wilayah ekstrem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, pondok ini dibangun sebagai pusat penelitian medis di ketinggian untuk mempelajari dampak lingkungan ekstrem terhadap tubuh manusia. Seiring waktu, fungsinya berkembang menjadi pondok yang digunakan sebagai tempat menginap para pendaki yang menjelajahi kawasan Monte Rosa, salah satu dari rangkaian gunung tertinggi di Pegunungan Alpen.
Pondok Margherita beroperasi secara musiman, dibuka pada awal Juni hingga awal September. Tempat ini mampu menampung hingga 70 orang selama musim panas.
Menariknya, sejak 2017 pondok ini juga diizinkan menjadi lokasi upacara pernikahan sipil oleh Wali Kota Alagna Valsesia, kota terdekat dari titik pendakian. Namun, pasangan yang ingin menikah di lokasi ekstrem ini harus terlebih dahulu menaklukkan pendakian berat menuju puncak.
Berdasarkan laporan dari The Sun, Pondok Margherita kerap disebut sebagai salah satu hotel paling terpencil di dunia. Untuk mencapainya, para tamu harus menempuh perjalanan mendaki sekitar lima jam, bahkan bisa memakan waktu hingga dua hari, tergantung rute dan kondisi fisik pendaki.
Untuk mencapai bangunan terpencil ini, biasanya dimulai dari Kota Alagna Valsesia atau Desa Gressoney, Italia Utara melalui jalur gletser yang curam. Pendakian ini menuntut keterampilan teknis dan ketahanan fisik karena medan terjal serta kondisi es yang berbahaya.
Meski terpencil, fasilitas di Pondok Margherita tergolong memadai. Akomodasi berbentuk asrama dengan perlengkapan tidur dasar, layanan makanan berenergi tinggi, hingga hidangan khas Italia seperti pizza juga tersedia Biaya menginap per malam, termasuk makan, berkisar antara β¬ 60 hingga β¬ 100 atau sekitar Rp 1,1 juta hingga Rp 1,9 juta (kurs Rp 19.810) per orang.
Selain sebagai tempat singgah pendaki, pondok ini juga masih berfungsi sebagai stasiun penelitian ilmiah untuk memantau kondisi atmosfer dan lingkungan ekstrem di ketinggian. Hingga kini, Pondok Margherita tetap berdiri kokoh di tebing curam Pegunungan Alpen sebagai simbol sejarah, ketangguhan manusia, dan semangat penjelajahan yang tak lekang oleh waktu.
(das/das)










































