Seiring perkembangan teknologi, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, sektor data center diperkirakan juga akan terus mengalami ekspansi signifikan secara global. Diperkirakan pasar properti bakal ikut kecipratan untung.
Berdasarkan laporan Global Data Center Outlook 2026 dari konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL), kapasitas global data center diperkirakan bertambah dua kali lipat, dari 103 GW menjadi 200 GW pada 2030.
Pertambahan masif tersebut diperkirakan butuh investasi yang sangat besar hingga US$ 3 triliun atau sekitar Rp 50,64 triliun (kurs Rp 16.890) dalam lima tahun ke depan. Nilai itu juga mencakup US$ 1,2 triliun (Rp 20,26 triliun) untuk peningkatan nilai aset properti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan data center secara global juga berdampak di Indonesia. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memprediksi industri data center akan tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028. Sementara Bank Dunia memprediksi permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8% per tahun.
Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan pasar investasi properti di Tanah Air tengah mengalami tren diversifikasi atau strategi penganekaragaman untuk menyebar risiko dengan tidak bergantung pada satu hal. Kini banyak investor mulai melirik ke sektor-sektor alternatif, salah satunya membangun data center.
"Pasar investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengalami tren diversifikasi. Investor semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang, dengan data center muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan," kata Farazia mengutip siaran resmi yang diterima detikcom, Kamis (15/1/2026).
Kawasan Amerika diprediksi tetap menjadi wilayah data center terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 50% dari total kapasitas global. Sementara di Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika juga mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Indonesia diprediksi menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama sektor data center di Asia Tenggara. Kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta dinilai selalu relevan karena dekat dengan pusat konektivitas internet utama (internet exchange point). Di luar Jabodetabek, wilayah seperti Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler karena keberadaan kawasan industri yang telah berkembang.
Meski begitu, Farazia menilai Indonesia masih butuh perencanaan jangka panjang dalam pengembangan data center, khususnya dalam hal ketersediaan listrik, konektivitas, dan kesiapan sumber daya manusia di tengah persaingan regional yang semakin ketat.
"Ke depan, penguatan kesiapan infrastruktur khususnya dalam ketersediaan listrik dan akses air bersih, konektivitas, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan," paparnya.
Sementara itu, analisis terbaru JLL menilai indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko gelembung. Sektor properti masih memiliki fundamental yang sehat dengan tingkat okupansi mencapai 97% dan sekitar 77% dari proyek yang sedang dibangun telah memiliki komitmen penyewa.
Tarif sewa global diprediksi mencatat pertumbuhan rata-rata 5% per tahun hingga 2030. Kawasan Amerika diprediksi akan memimpin pertumbuhan sekitar 7% per tahun akibat keterbatasan pasokan yang signifikan.
Meski begitu, pengembang telah melakukan pemesanan material sampai 24 bulan lebih awal. Lebih dari separuh proyek pada 2025 tetap mengalami keterlambatan konstruksi selama tiga bulan atau lebih karena waktu tunggu peralatan dan material yang molor secara global hingga 33 minggu.
Merespons pengiriman material yang lambat, pengembang kini mulai mengadopsi solusi konstruksi modular dengan penjualan tahunan sistem modular dan micro data center secara global diprediksi mencapai US$ 48 miliar pada 2030.
"Peningkatan waktu tunggu peralatan juga dirasakan di Asia Pasifik sebagaimana di kawasan lain, namun tingginya tingkat pre-commitment menunjukkan kepercayaan pasar yang tetap kuat," ujar Glen Duncan, Data Center Research Director JLL Asia Pacific.
(ilf/das)










































