Pramono Soroti Jalur Evakuasi di Gedung Terra Drone, Harusnya Bagaimana?

Pramono Soroti Jalur Evakuasi di Gedung Terra Drone, Harusnya Bagaimana?

Danica Adhitiawarman - detikProperti
Rabu, 10 Des 2025 14:34 WIB
Petugas pemadam kebakaran mengeluarkan asap saat melakukan pencarian korban kebakaran di perkantoran Terra Drone di jalan Letjen Soeprapto, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025) pukul 17.15 WIB.
Gedung Terra Drone Kebakaran Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kebakaran hebat melanda gedung Terra Drone di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat sampai menewaskan 22 orang. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun menyoroti minimnya jalur evakuasi di gedung tersebut.

Pramono menyebut gedung itu tidak memiliki kesiapan evakuasi yang memadai sehingga memperparah dampak kebakaran. Menurutnya, gedung-gedung wajib menyediakan jalur evakuasi, sistem pemadam internal, dan manajemen keselamatan.

"Hal yang berkaitan dengan keselamatan menjadi hal yang penting. Ini menunjukkan lantai enam tetapi tidak dipersiapkan untuk evakuasi dan sebagainya," ujar Pramono lokasi kebakaran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana seharusnya jalur evakuasi gedung untuk mengantisipasi kebakaran?

Ketua Umum IAI Jakarta Teguh Aryanto mengatakan arsitek perencana harus membuat desain aktif dan desain pasif dalam rancangannya. Hal itu untuk mengantisipasi kebakaran dan jumlah korban jiwa.

ADVERTISEMENT

"Desain aktif adalah tersedianya koridor evakuasi, tangga kebakaran dengan lebar yang cukup dan letak yang terjangkau, parkir mobil pemadam, papan-papan informasi, sampai dengan area evakuasi sementara (refugee floor atau smoke lobby)," kata Teguh saat dihubungi detikProperti, Rabu (10/12/2025).

Ia menyebut jalur evakuasi semestinya bebas dari halangan dan tidak terkunci. Lebar ideal koridor evakuasi 1,8 meter.

Lalu, bangunan lebih dari empat lantai semestinya memiliki dua tangga darurat yang berjauhan. Tangga tersebut langsung berhubungan dengan area luar gedung.

"Area tangga darurat harus bebas asap dengan pintu tahan api dengan lebar ideal tangga kebakaran adalah 2 meter," katanya.

Kemudian, arsitek juga membuat desain pasif guna memastikan tersedia alat bantu pemadam kebakaran dan harus ada posisi yang tepat. Alat tersebut antara lain sprinkler, alat pemadam api ringan (APAR), dan hydrant. Sebagai tambahan, daerah yang rentan kebakaran dapat diberikan proteksi ganda, seperti menyediakan fire blanket.

Perlu juga dipikirkan desain dari awal untuk jalur masuk mobil pemadam kebakaran. Tempat parkir mobil pemadam juga harus selalu harus kosong.

Bagi pengelola dan penghuni gedung, perlu mempersiapkan mitigasi kebakaran. Misalnya dengan menyediakan informasi tertulis di dinding untuk jalur evakuasi, pemeriksaan APAR dan hydrant berkala, latihan evakuasi berkala, memastikan bahwa jalur evakuasi bebas dari halangan, dan memastikan tangki air kebakaran selalu terisi.

Selain itu, pembangunan gedung sejak awal harus mengantongi persetujuan bangunan gedung (PBG) dan sertifikat laik fungsi (SLF) yang sesuai. Bangunan wajib memenuhi syarat evakuasi yang benar sesuai peraturan yang ada.

Terpisah, kontraktor dari Rebwild Constructions, Wildan, mengatakan setiap gedung memang harus mempunyai jalur evakuasi yang jelas dan memadai. Jalur evakuasi dapat melalui tangga, baik tangga darurat maupun tangga yang biasa digunakan penghuni gedung.

"Gedung itu harus ada sebenarnya jalur evakuasi. Jadi ada tanda, arah titik penyelamatan, titik berkumpul, aksesnya juga," ujar Wildan.

Jalur tersebut harus jelas terlihat dan diketahui oleh penghuni gedung. Pengelola gedung perlu memasang tanda jalur evakuasi serta peta jalur evakuasi.

Ia menyebut lebar tangga dan koridor untuk jalur evakuasi minimal 1,8 meter. Hal ini agar akses tidak terlalu sempit ketika evakuasi.

Kemudian, bangunan dapat dilengkapi dengan alat pendeteksi panas dan asap serta alarm kebakaran. Langkah ini guna mempercepat proses evakuasi.

Menurut Wildan, penting bagi penghuni gedung mendapat edukasi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika masa genting seperti kebakaran.

Di sisi lain, gedung sejak pembangunan bisa dibuat lebih tahan terhadap api dengan menggunakan material anti api. Ada beberapa opsi bahan bangunan anti api, mulai dari bata hingga plafon.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini



(dhw/zlf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads