Jepang kerap mengalami gempa bumi karena terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik di perbatasan lempeng tektonik. Hal ini membuat orang Jepang membangun bangunan tahan gempa untuk meminimalisir kerusakan dan korban jiwa.
Dilansir dari BBC, seorang insinyur struktur dan profesor madya di Universitas Tokyo, Jun Sato, mengatakan gedung-gedung di Jepang bukan bangunan biasa karena semuanya harus tahan gempa. Bahkan bangunan kecil atau sementara juga dibikin kuat terhadap gempa.
Para insinyur membuat bangunan yang tahan terhadap dua tingkat gempa. Pertama, bangunan dapat menahan gempa lebih kecil. Untuk magnitudo ini, rumah tidak boleh rusak sama sekali. Bangunan harus dirancang dengan sangat baik agar bisa melewati gempa kecil tanpa kerusakan.
Kedua, bangunan didesain untuk tahan gempa ekstrem lebih dari magnitudo 7,9. Pada tingkat ini, hal terpenting adalah membuat bangunan yang tidak menyebabkan korban jiwa. Adapun menjaga bangunan bebas dari kerusakan bukan lagi tujuan utama.
Sato menjelaskan cara untuk menahan goncangan dari gempa, yakni bangunan harus menyerap energi seismik sebanyak mungkin.
"Jika struktur bangunan mampu menyerap seluruh energi (dari gempa bumi), bangunan itu tidak akan runtuh," kata Sato.
Bangunan diberi isolasi seismik dengan berbagai metode. Salah satu cara utamanya adalah mengadaptasikan bagian dasar bangunan agar mampu menahan gempa.
Struktur atau bangunan diletakkan di atas semacam bantalan atau peredam untuk menahan gerakan gempa bumi. Bantalan ini bisa sesederhana balok karet setebal sekitar 30-50 cm. Setiap kolom bangunan yang tersambung fondasi diletakkan di atas bantalan karet ini.
Peredam getaran ini dapat dipasang sepanjang ketinggian bangunan untuk meningkatkan ketahanan bangunan.
"Sebuah gedung tinggi mungkin bergerak sejauh 1,5 meter, tetapi jika Anda memasang peredam di tingkat tertentu - setiap dua lantai hingga ke puncak - Anda dapat mengurangi gerakan itu menjadi jauh lebih kecil, sehingga mencegah kerusakan pada struktur bangunan," kata Ziggy Lubkowski, seorang spesialis seismik di University College London.
Lubkowski mengatakan perangkat peredam getaran biasanya terlihat seperti pompa sepeda. Namun pompa itu tak diisi udara, melainkan cairan.
"Saat Anda menekan pompa, pompa akan mendorong cairan tersebut. Cairan tidak akan terkompres terlalu banyak, tetapi akan bergerak sedikit. Proses itu dapat mengurangi getaran di dalam bangunan," tuturnya.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"
(dhw/zlf)