Salah satu ciri khas dari bangunan masjid adalah terdapat menara. Pada umumnya, menara masjid berfungsi untuk mengumandangkan azan sebagai pertanda waktunya salat.
Beberapa menara masjid memiliki ketinggian sekitar belasan sampai puluhan meter. Namun, beda dengan menara yang satu ini karena tingginya mencapai ratusan meter, lho!
Menara tersebut terletak di Masjid Agung Aljazair atau disebut juga Djamaa El Djazair. Masjid ini telah digunakan untuk ibadah salat pada Oktober 2020, tapi baru diresmikan secara seremonial pada 29 Februari 2024 oleh Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu ciri khas dari Masjid Agung Aljazair terletak pada menara masjid yang ketinggiannya mencapai 265 meter. Tinggi menara masjid itu bahkan mengalahkan Monumen Nasional (Monas) Jakarta yang tingginya hanya 132 meter.
Menara Masjid Agung Aljazair yang sangat tinggi. Foto: (Fazil Abd Erahim/Anadolu Agency via Getty Images) |
Saking tingginya, Menara masjid Djamaa El Djazair juga tercatat sebagai bangunan tertinggi kedua di Afrika menurut situs Business Insider. Tinggi bangunan ini hanya kalah dari gedung pencakar langit Iconic Tower di Mesir yang ketinggiannya hampir 400 meter.
Dilansir situs Kementerian Pariwisata Aljazair, Rabu (25/2/2026) menara ini dibangun tak hanya sebagai pelengkap bangunan masjid semata, tapi juga memiliki ruang observasi di bagian puncaknya. Dari puncak menara, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Aligres yang indah.
Selain itu, di dalam menara Masjid Agung Aljazair juga terdapat pusat penelitian dan museum sejarah yang bisa dikunjungi. Tak heran kalau menara masjid selalu menjadi daya tarik wisatawan, khususnya di momen seperti Ramadan.
Menara Masjid Agung Aljazair dibangun menggunakan bahan material berkualitas tinggi serta teknologi terbaru. Menara ini diklaim kokoh dan tahan terhadap gempa bumi. Di sisi lain, menara ini tetap stabil meski diterjang badai ekstrem.
Dikutip dari situs Construction Week, keindahan arsitektur masjid dan menara tersebut merupakan hasil rancangan arsitek Drees & Sommer yang bekerja sama dengan KSP JΓΌrgen Engel Architekten dan konsultan teknik KREBS+KIEFER dari Jerman.
JΓΌrgen Engel juga bekerja sama dengan para ulama dan sejumlah pakar arsitektur Islam demi memastikan bangunan tersebut memenuhi persyaratan ketat desain masjid. Hasilnya, menara masjid Djamaa El Djazair dilapisi dengan struktur kaca modern dengan ukiran yang menarik pada fasadnya.
Sebagai informasi, Masjid Agung Aljazair merupakan masjid ketiga terbesar di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dibangun di atas lahan seluas 44.000 m2, masjid ini dapat menampung hingga 120.000 jemaah.
Masjid Agung Aljazair. Foto: (Fazil Abd Erahim/Anadolu Agency via Getty Images) |
Sedikit membahas tentang bangunan utama masjid, Djamaa El Djazair memiliki kubah setinggi 70 meter. Dilengkapi sebuah panel mashrabiya di bagian luar, kubah masjid ini menunjukkan desain yang modern, estetika, dan mengutamakan fungsinya.
Pemasangan panel mashrabiya tak hanya melindungi para jamaah dari paparan sinar matahari dan angin kencang, tapi juga menunjukkan desain yang estetis dan mengagumkan.
Fasad masjid ini menggunakan batu alam dengan kualitas terbaik. Langkah ini dilakukan agar memberikan kekuatan pada bangunan sekaligus menciptakan kesan megah dan alami.
Kabarnya, pembangunan masjid ini sempat mandek dan biayanya terus membengkak. Diketahui, biaya yang dihabiskan untuk membangun masjid Djamaa El Djazair mencapai US$ 900 juta atau sekitar Rp 14,9 triliun (kurs Rp 16.623).
(ilf/zlf)













































