Beberapa waktu lalu, ada warga Cimahi bangun rumahnya sendiri dari tanah dan rangka bambu. Pemiliknya, Misbah Dwiyanto, mengatakan ia terinspirasi dari rumah yang ia temui di perkebunan di Thailand dan Austria.
Di belahan dunia lain, tepatnya di Yaman, bangunan-bangunan di kota ini terbuat dari tanah. Nama kota tersebut adalah Shibam.
Bangunan itu bukan rumah sederhana yang kumuh. Dahulunya ini adalah kota yang diisi oleh orang kaya dan bangunannya terdiri dari 5-9 lantai sehingga banyak yang menyebut Kota Shibam sebagai kota pencakar langit tertua di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Arch Daily, usia kota ini diperkirakan lebih dari 1.700 tahun, tetapi pembangunan gedung dan rumah baru masif dilakukan sekitar tahun 1532. Dengan kata lain keberadaan sudah ada sejak periode pra-Islam, dan jika dilihat dari pembangunan rumah di sana, bahkan ada yang berasal dari abad ke-9.
Meskipun sudah berdiri ribuan tahun, kota ini masih berdiri bahkan dilindungi oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1982.
Semua ketahanan itu berasal dari material bangunan yang dipakai. Bangunan di Kota Shibam hanya memakai tanah yang dibasahkan hingga menjadi lumpur. Tanah tersebut berasal dari sekitar kota mereka. Sebab, tanah di sekeliling mereka terkenal subuh dan sering dipakai untuk pertanian.
Setelah musim panen selesai, tanah dikumpulkan untuk pembangunan di dalam kota, yakni membuat tembok, menara-menara, dan rumah. Tembok di sini maksudnya adalah benteng atau gerbang besar yang mengelilingi kota. Fungsi tembok ini sangat penting untuk menjaga eksistensi kota, oleh sebab itu setelah hampir dua ribu tahun kota ini masih berdiri meskipun rawan di dekat dataran banjir Wadi.
Jika dilihat dari jauh, bangunan di kota ini mirip seperti rumah yang banyak ditemui di Arab. Alasannya kedua negara tersebut memiliki kebudayaan yang mirip dan arsitektur di Kota Shibam terinspirasi dari budaya Islam terlihat dari jendela di lantai atas bangunan di sana.
Lalu, apabila dilihat dari jauh, Kota Shibam akan terlihat padat seperti bertumpuk-tumpuk. Tidak heran kalau kota ini sering dijuluki Kota Manhattan versi gurun. Jika di Amerika gedung tinggi tampak megah, cerah, dan mewah. Bangunan tinggi di kota ini warna bangunannya sama semua, yakni coklat muda.
"Kadang-kadang disebut 'Chicago-nya gurun' atau 'Manhattan-nya gurun', kota tua Shibam menghadirkan bagi sejarawan dan ahli tata kota salah satu contoh paling awal dan paling sempurna dari perencanaan yang ketat berdasarkan prinsip konstruksi vertikal," demikian bunyi uraian singkat UNESCO, dikutip pada Sabtu (14/2/2026).
Dahulu kota ini sangat ramai dikunjungi karena sebagai persinggahan penting di jalur perdagangan rempah-rempah dan kemenyan. Bahkan Shibam merupakan simbol kekayaan di dataran tinggi Arab bagian selatan. Orang-orang berlomba untuk tinggal di kota ini untuk mendapatkan reputasi, kekuasaan politik, dan perlindungan dari pencuri Badui.
Konsep rumah vertikal dengan cepat menjadi model hunian yang khas di sana. Rumah tersebut juga menjadi simbol kekayaan mereka. Rumah-rumah sengaja dibuat berdekatan untuk menjaga agar properti dan harta mereka aman dari perampok.
Meskipun terlihat kokoh, rumah dari tanah ini sangat rentan hancur karena banjir sehingga tembok atau pagar besar di luar kota dibuat sangat kuat.
(aqi/abr)











































