Seorang warga Cimahi, Misbah Dwiyanto, berhasil mematahkan stereotip bahwa rumah itu harus dari beton, bata, semen, dan dicat rapi. Ia membuat rumah impiannya dengan hanya dua bahan dominan, yakni tanah dan rangka bambu saja.
Ternyata awal mula inspirasi tersebut muncul dari temuan rumah-rumah di Thailand dan Austria. Pada saat itu, ia pergi ke kedua negara tersebut karena kecintaannya dengan berkebun. Kemudian, dia menemukan bahwa di sekitar perkebunan tersebut, rumahnya dibangun dari tanah.
"Terus saya dapat gambaran. Lumayan cukup lah. Saya coba eksperimen di rumah di sini. Akhirnya saya coba eksperimen. Saya pakai tanah yang dari kebun. Saya bikin bangunan yang pertama itu (bangunan uji coba) bangunan 3 meter ke 5 meter (3x5 meter)," kata Misbah kepada detikcom pada Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari percobaan pertamanya ini ternyata terdapat banyak hal yang harus diperbaiki. Namun, uniknya, pada saat itu rumah eksperimennya ini sempat kebanjiran, tetapi bentuknya tetap kokoh, tidak berubah sama sekali.
Butuh Hunian yang Lebih Besar
Keinginan untuk membangun rumah dari tanah ini semakin kuat setelah menyadari bahwa anak-anaknya butuh ruang lebih besar. Rumahnya yang lama hanya memiliki 2 kamar, sementara ada 4 orang yang tinggal di dalamnya. Ia pun memulai proyek sesungguhnya membangun 'Rumah Tanah', yakni pada September 2024.
"Ya, istri saya juga (punya visi dan hobi yang sama). Sepertinya sebelas-dua belas sama saya. Kita sama-sama punya keinginan yang sama gitu. Selain itu juga secara hitung-hitungan biayanya juga memang jauh lebih murah. Kita bisa save (hemat) banyak uang. Terus juga sebenarnya kebun kita di tengah kota. Kita nggak begitu menjauh dari keramaian. Tapi karena kita sehariannya di kebun, jadi rumah dekat kebun," ungkap Misbah.
Material yang dipakai di antaranya tanah, jerami, pasir, rangka bambu, beton, hingga semen. Namun, komposisi tanah dan kerangka bambu lebih dominan. Rumah tersebut dibangun seperti rumah panggung, lantainya tidak menapak di tanah.
Rumah Tanah milik Misbah di Cimahi, Jawa Barat. Foto: Misbah Dwiyanto |
Bagian kaki-kaki rumah tidak bisa dengan bambu mengingat akan ada 2 lantai. Ia menggunakan beton dan semen. Lalu, lantai dasar juga memakai memakai beton yang telah diaci. Hanya saja, pada bagian kamar, ia melapisi lagi dengan tanah. Permukaannya ditutup dengan minyak khusus yang tampilan finishingnya satin. Dengan begitu interiornya serasi dan bisa disapu hingga dipel.
"Di bagian kamar saya Itu kita lapisi lagi tanah. Jadi, dia kayak acian semen gitu. Tapi dia terbuat dari tanah dan bisa dipel, bisa disapu. Dia waterproof pakai minyak gitu. Biasanya pakai linseed oil," ujarnya.
Kemudian, pada bagian dinding hingga ke atas, semua menggunakan campuran tanah, jerami, dan pasir. Ini merupakan kombinasi yang menurutnya paling tepat untuk membuat dinding kokoh, tanpa retak. Semuanya dicampur secara manual dengan diinjak selama 15 menit. Lalu dipasang pada kerangka bambu yang sudah terpasang.
Bambu yang dipakai pun sudah direndam terlebih dahulu untuk menghilangkan gula yang sering mengundang rayap datang. Tangga rumahnya juga menggunakan rangka bambu yang kemudian diisi dengan tanah. Pada lantai di atas memakai dua material, yakni kerangka bambu dan multiplek (plywood).
Hanya pada bagian kamar mandi yang tidak memakai tanah dan bambu karena ruangan ini selalu basah dan lembap sehingga ia tidak ingin mengambil risiko.
Butuh 1 Tahun Pengerjaan
Untuk menyelesaikan hunian impiannya ini, dibutuhkan waktu sekitar 1 tahun lamanya. Namun, Misbah mengatakan lamanya pengerjaan bukan karena pemilihan bahan yang alami, melainkan pengerjaannya dilakukan hanya oleh beberapa orang. Apabila banyak yang membantu, pengerjaannya pasti cepat. Selain itu, pada saat itu, orang-orang yang membantunya adalah teman dan kerabat yang sifatnya volunteer, jadi tidak bisa terus menerus membantu.
(aqi/das)

