Saat ini harga rumah baru semakin mahal. Harganya terus meningkat seiring dengan kenaikan harga bahan baku dan biaya jasa.
Kondisi ini juga yang mendorong seorang warga Cimahi, Misbah Dwiyanto yang berhasil membangun rumah dari tanah dan rangka bambu. Ia hanya menghabiskan uang Rp 300 juta untuk membangun rumah 2 lantai ukuran 92 meter persegi.
Ia mengatakan harga ini dapat disesuaikan dengan bahan dan luas rumah sehingga jika ada yang ingin membangun rumah dari tanah, harganya bisa lebih murah atau justru lebih mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya sih harganya sekitar Rp 300 jutaan. Itu bisa lebih murah, bisa lebih mahal juga tergantung material yang dipakai. Tapi untuk material utamanya itu sangat terjangkau," kata Misbah kepada detikcom pada Selasa (10/2/2026).
Selain murah, Misbah mengatakan rumah ini dijamin ramah lingkungan karena dominan dengan bahan alami. Lalu, sudah pasti bikin rumah adem sehingga cocok untuk rumah di negara tropis.
"Tanah itu cukup keras. Memang tidak sekeras beton. Tapi dia masih layak jadi bahan bangunan. Kelebihannya mungkin tidak seperti dinding bata gitu karena dia bisa bernafas istilahnya, jadi dia bisa menyerap lembap dan mengeluarkan lembap juga. Jadi dia bisa bikin seluruh ruangan terasa nyaman. Kelemahannya mungkin dia (rentan) lembap," sebutnya.
Rumah Tanah, begitu sebutannya, juga tahan terhadap guncangan gempa karena kekuatan dari kerangka bambu dan kaki beton di bawah rumah aman untuk menopang rumah.
Alasan Bangun Rumah Tanah
Awal mula Misbah bangun Rumah Tanah karena terinspirasi dari rumah-rumah tanah di dekat perkebunan di Thailand. Lalu, ia juga menemukan di Austria juga rumah sejenis itu sudah banyak dibangun.
Mengingat hobinya adalah berkebun dan memiliki lahan kosong, ia ingin rumahnya juga dari tanah. Selain itu, pada saat itu keluarganya sedang butuh rumah yang jauh lebih luas.
Misbah mengaku pembangunan Rumah Tanah tidak semudah dengan pembuatan rumah yang memakai material yang siap pakai.
Setiap material yang akan dipakai, dipersiapkan satu per satu dan dengan teknik khusus. Bahkan ia dibantu oleh temannya dari luar negeri yang lebih paham soal Rumah Tanah.
"Desain saya sendiri. Sama ada teman, dia sebenarnya bukan arsitek. Terus ada teman-teman arsitek, kenalan waktu di Austria. Mereka juga bantu, tapi nggak bantu desain. Mereka bantu ngebangun, malah jadi kuli bangunannya. Jadi, proses ngebangunnya itu yang menarik," ungkapnya.
Rumah Tanah milik Misbah di Cimahi, Jawa Barat. Foto: Misbah Dwiyanto |
Pengerjaan rumah ini dimulai pada September 2023 dan selesai pada Desember 2024. Lamanya pengerjaan ini bukan karena material yang digunakan semua dipersiapkan sendiri, melainkan ia kekurangan orang pada saat itu. Sebab, orang-orang yang membantunya adalah teman dan kenalannya yang sukarela membantu sehingga tidak setiap saat berada di lokasi.
"Karena ini volunteer base. Tukang dipakai hanya dua orang. Kalau volunteer itu mentalnya nggak kayak tukang ya. Nggak bisa dibayar. Nggak bisa dipaksa kerja. Jadi, kalau kita punya kos lebih untuk membayar tukang, sebenarnya bisa lebih cepat," jelasnya.
Meskipun material yang digunakan berbeda dari yang biasa dipakai, Misbah mengatakan tukang lokal juga bisa mengerjakan rumah serupa asalkan sebelumnya diajari.
"Kita ajari tukang-tukang untuk bangun Rumah Tanah. Tapi memang harus kita tuntun dulu karena kan mereka tuh ahli karena mereka terbiasa ya, kebanyakan," tuturnya.
Selama satu tahun menempati Rumah Tanah, ia tidak mengeluhkan apa pun, rumahnya sama dengan rumah pada umumnya.
"Saya pikir ya material lama, material kuno bukan berarti kita kalah hebat dengan material baru ya. Selama kita tahu keuntungan, kelebihannya apa, selama ini dia masih bisa dipakai, ya kenapa nggak kalau kita masih bisa pakai material yang bisa dibilang merendah karbon? Saya tahu Indonesia butuh waktu untuk bisa menyerap hal-hal seperti ini, tapi saya yakin mungkin hidup ke depannya ini bisa jadi populer," katanya.
(aqi/das)











































