The East Palace: Istana Yang Terkutuk
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
The East Palace, serial terbaru Netflix yang dibintangi oleh Nam Joo-hyuk dan Roh Yoon-seo, akan membuatmu bertanya-tanya apakah ini jawaban Korea atas Stranger Things.
Serial sepanjang delapan episode ini memiliki premis yang sangat sederhana. Gu-cheon (Nam Joo-hyuk) bisa melihat arwah, sebuah kemampuan yang menurutnya lebih seperti kutukan daripada berkah.
Nam Joo Hyuk dalam drama Korea Netflix The East Palace. Foto: dok. Netflix |
Ketika ia didatangi Raja (Cho Seung-woo) untuk mengusir arwah yang mengganggu di istana, Gu-cheon menolak tawaran ini. Gu-cheon tidak bisa berkutik ketika si raja menculiknya. Bagaimana pun juga si pangeran, anak si Raja, harus bebas dari gangguan arwah.
Gu-cheon ternyata tidak sendiri. Ia didampingi oleh Saeng-gang (Roh Yoon-seo) yang bisa mendengar bisikan arwah. Saeng-gang sendiri memiliki hubungan kompleks dengan si raja. Gu-cheon dan Saeng-gang pun akhirnya terpaksa berkolaborasi untuk mengatasi masalah makhluk halus di istana.
Baca juga: The Eyes: Misteri Kematian Si Kembar |
Yang mereka tidak tahu adalah betapa banyaknya rahasia gelap yang menyelimuti istana. Kata Gu-cheon, untuk bisa berkomunikasi-dan pada akhirnya membebaskan-para arwah adalah kamu harus tahu siapa mereka dan kenapa arwah ini dendam.
Bisakah kamu melakukan itu semua kalau kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding istana?
Review:
Ketika saya selesai menyaksikan episode pertamanya yang sangat brilian, saya mengira The East Palace adalah sebuah adaptasi webtoon-yang mana akhir-akhir ini menjadi tren di industri televisi Korea. Tapi rupanya serial ini adalah karya original dari tulisan Kwon So-ra dan Seo Jae-woon.
Disutradarai oleh Choi Jung-kyu dengan penuh percaya diri, The East Palace ternyata berhasil menjadi salah satu drama korea paling menghibur tahun ini. Dari trailer-nya, The East Palace memang menjanjikan pernikahan antara horor dan drama sejarah.
Drama Korea Netflix, The East Palace Foto: dok. Netflix |
Tambahkan dengan adegan-adegan pertarungan yang dahsyat, maka The East Palace sudah dipastikan akan menarik perhatian. Tapi ternyata hal yang membuat serial ini sangat menggigit justru bukan tiga bagian itu.
Yang membuat The East Palace sangat adiktif adalah plot politik yang ada di dalamnya. Bukan berarti elemen horor, drama sejarah atau adegan aksinya kurang. Tapi misteri yang ada di balik tembok istana itu yang didesain untuk membuat penontonnya untuk menyaksikan The East Palace sampai episode terakhir.
Baca juga: Evil Dead Burn: Film Paling Ngilu Tahun Ini |
Dalam delapan episode, serial ini sengaja untuk membingungkan dua karakter utamanya-dan juga penonton-dengan berbagai misteri yang menyelimuti istana. Pada awalnya penonton dibuat fokus dengan kisah tentang arwah perempuan di danau yang konon menghantui istana.
Si arwah danau mengutuk Raja bahwa seluruh turunannya akan mati. Tapi begitu Gu-cheon dan Saeng-gang menginvestigasi masalah ini, The East Palace menunjukkan bahwa masalahnya lebih dari sekedar arwah yang dendam.
Di sinilah menurut saya drama korea ini bersinar. Semakin kita menyelam lebih jauh terhadap fakta apa yang terjadi di istana, semakin seru ceritanya. Semua orang memiliki rahasia. Dan pada akhirnya, semua orang tidak ada yang bisa dipercaya.
Penampilan Kwak Dong Yeon dalam drama Korea Netflix The East Palace. Foto: Instagram |
Yang juga menarik dalam The East Palace adalah bagaimana pembuatnya mempersembahkan dua karakter utamanya. Meskipun di materi promosinya terlihat bahwa ini adalah petualangan Gu-cheon seorang, ternyata The East Palace adil dalam mengeksplor karakter kedua utamanya.
Tentu saja Gu-cheon dan Saeng-gang dibuat bahwa mereka mempunyai ketertarikan satu sama lain-bukan drakor namanya kalau tidak ada elemen asmara. Tapi yang membuat dinamika hubungan mereka terasa segar adalah bagaimana keduanya benar-benar bergantung sama lain.
Progresi hubungan mereka dari baru kenal, mulai kenal sampai akhirnya berubah menjadi benar-benar membutuhkan satu sama lain adalah salah satu highlight dari The East Palace.
Dimainkan dengan sangat baik oleh para aktornya, The East Palace akhirnya menjadi drama korea yang mengesankan berkat presentasi audio-visualnya yang wah. Pilihan musiknya yang kadang terasa modern mungkin akan membuat beberapa penonton bingung, tapi bagi saya pilihan tersebut justru membuat The East Palace terasa unik.
The East Palace (2026). Foto: Dok. Netflix |
Dari segi visual, serial ini benar-benar memanjakan mata. Sutradara Choi Jung-kyu membedakan dunia manusia dan dunia arwah dengan color palette yang spesifik.
Dunia arwah secara literal akan mengingatkanmu dengan Stranger Things, lengkap dengan desain arwah yang mengerikan sekaligus menjijikkan. Sementara dunia manusianya dipersembahkan dengan lanskap yang indah dan warna yang menghangatkan.
Dengan konklusi yang memuaskan tapi tetap membuka potensi untuk musim kedua, The East Palace adalah sebuah tontonan yang sangat saya rekomendasikan untuk menghabiskan akhir pekanmu. Dalam The East Palace ambisi manusia ternyata jauh lebih menyeramkan daripada hantu sekali pun.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.




