The Eyes: Misteri Kematian Si Kembar
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Seo-jin punya saudara kembar bernama Seo-in (dua-duanya diperankan oleh Shin Min-a) yang jauh lebih sukses. Kedua saudari kembar ini sama-sama seniman. Seo-jin adalah seorang fotografer sementara saudarinya adalah seorang pematung.
Kesuksesan Seo-in membuat Seo-jin agak berjarak dengan saudarinya sendiri. Dan kenyataan bahwa mereka mempunyai penyakit turunan yang membuat mereka akan kehilangan penglihatan mereka membuat semuanya menjadi semakin memburuk.
Lalu Seo-jin menemukan Seo-in meninggal dunia. Ia ditemukan gantung diri di rumahnya yang terpencil di sebuah desa. Detektif mengatakan bahwa Seo-in sepertinya bunuh diri.
Baca juga: Evil Dead Burn: Film Paling Ngilu Tahun Ini |
Tapi Seo-jin yakin sekali bahwa saudarinya dibunuh. Bagaimana mungkin seorang seniman yang sedang aktif-aktifnya berkarya malah bunuh diri?
Seo-jin yang juga kebetulan lari dari kejaran penguntit gila, Hyun-min (Lee Seung-ryong), akhirnya memutuskan tinggal di rumah itu untuk mencari kebenarannya. Bersama detektif Do-hyeok (Kim Nam-hee), mereka bekerja sama untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya membunuh saudarinya.
The Eyes (2026). Foto: Dok. Ist |
Review:
Diadaptasi dari film Spanyol berjudul Julia's Eyes, film ini sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi salah satu thriller yang berkesan.
Semua resepnya sudah ada: premis yang menarik (bagaimana kamu bisa memecahkan misteri kematian saudarimu kalau kamu sendiri punya masalah dengan penglihatanmu?), setting yang terasa menyeramkan dan aktor yang lebih dari mumpuni untuk melakukan pekerjaan.
The Eyes (2026). Foto: Dok. Ist |
Akting Shin Min-a di film ini perlu diacungi jempol. Ia mampu memperlihatkan rasanya ketakutan yang nyata. Tapi ternyata semua ini tidak cukup untuk menjadikan The Eyes begitu berkesan. Alasan utamanya? Film ini tidak fokus.
Disutradarai oleh Yeom Ji-ho dari skrip karya Kim Ho-won, The Eyes dibuka dengan teror yang dihadapi oleh Seo-jin. Laki-laki misterius muncul dan langsung menyerang Seo-jin.
Ini adalah sebuah dorongan yang menarik untuk membuat karakter utamanya akhirnya mencari suaka-dengan menemui saudari tirinya. Tapi ternyata pembuat film ini terus memasukkan plot penguntit ini bahkan bahkan sampai menjelang babak ketiga.
Dengan kondisi penglihatannya yang buruk, Seo-jin harus mencari tahu siapa pembunuh saudarinya DAN menghindari penguntit yang melakukan segala cara untuk menghabisinya. Hasil akhirnya adalah sebuah thriller yang terlalu kebanyakan konflik, tensinya jadi tidak terjaga.
Dan ketiga The Eyes memasuki babak pemecahan misteri, film ini terlalu blak-blakan untuk menghadirkan twist yang ia ingin munculkan. Plot twist memang sangat efektif untuk membuat sebuah tontonan menjadi memorable.
Dalam genre seperti film The Eyes ini, plot twist sangat dibutuhkan untuk membuat ceritanya menjadi menarik. Tapi untuk sebuah plot twist bekerja dengan baik, pembuat filmnya harus merangkai berbagai adegan tipuan agar ekspektasi penonton tidak sampai ke informasi yang sebenarnya terjadi.
The Eyes (2026). Foto: Dok. Ist |
The Eyes tidak memiliki hal ini. Plot twist yang hadir di film ini tidak hanya terasa lemah tapi juga sangat familiar dengan film bergenre serupa yang sangat terkenal-kalian pasti tahu film mana yang saya maksud begitu menyaksikan plot twist ini.
Meskipun plot twist tersebut tidak merusak film-meskipun sangat mengurangi kenikmatan saya saat menyaksikan konklusinya-The Eyes akhirnya berubah menjadi sebuah thriller yang tadinya lumayan menjadi sebuah film yang gampang dilupakan.
Sangat disayangkan mengingat Yeom Ji-ho lumayan berhasil membuat saya merinding melihat wujud yang tidak jelas yang menginginkanmu terluka. Tidak ada yang lebih menyeramkan daripada tidak bisa melihat bahaya yang ada di depanmu.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



