Kung Fu Soccer: Sekuel Yang Ditunggu Akhirnya Datang Juga

Candra Aditya
|
detikPop

EDITORIAL RATING

3/5

AUDIENCE RATING

-
Kungfu Soccer (2026).

Sinopsis:

25 tahun yang lalu, sutradara dan penulis Stephen Chow merilis sebuah komedi gila-gilaan yang dicintai oleh semua millenial: Shaolin Soccer.

Film tersebut bukan hanya sebuah komedi yang kompeten tapi juga sebuah pertunjukan kemampuan Stephen Chow bahwa ia adalah sutradara yang mumpuni.

Chow memang sudah menjadi sutradara sebelumnya tapi baru di Shaolin Soccer-lah orang mulai menganggap bahwa dia maestro komedi yang selalu ditunggu. Tahun ini ia kembali lagi dengan "saudara tiri" dari film tersebut yang diberi judul Kung Fu Soccer.

Ditulis oleh Chow dan Hunny Wo, plot film ini sangat sederhana: Tim Ewei-yang merupakan tim sepak bola perempuan-ikut pertandingan bola melawan lawan-lawan yang tangguh.

Kungfu Soccer (2026).Kung Fu Soccer (2026). Foto: Dok. Ist

Konfliknya? Yang paling utama adalah bagaimana si kapten Shuang (Zhang Xiaofei) bisa berbaikan lagi dengan salah satu pemain sekaligus sahabat lamanya, Jade (Dilraba Dilmurat). Kehadiran mentor bernama Xu Feng (Lay Zhang) juga ikut memeriahkan pertandingan ini.

Review:

Jarak yang jauh dan kenyataan bahwa Shaolin Soccer telah berubah menjadi film yang sangat ikonik membuat kehadiran film ini menjadi penentu.

Apakah Stephen Chow masih memiliki magis yang sama? Bisakah dia mengulangi kesuksesan yang sama? Secara box office, film ini konon berhasil meraih banyak penonton di negara aslinya. Bagaimana dengan kualitasnya?

Berita buruknya adalah Kung Fu Soccer terasa seperti sebuah barisan sketsa komedi yang dijahit dengan benang drama yang sangat tipis. Hubungan antara Shuang dan Jade selesai dalam paruh pertama.

Kungfu Soccer (2026).Kungfu Soccer (2026). Foto: Dok. Ist

Hubungan antara Shuang dengan Xu Feng-apakah mereka hanya sebatas mentor dan pemain atau adakah perasaan cinta diantara mereka-terasa lebih seperti hiasan daripada cerita beneran.

Dibandingkan dengan plot karakter Stephen Chow dan Vicky Zhao di film aslinya, dinamika hubungan antara Shuang dan Xu Feng sama sekali tidak ada apa-apanya.

Shaolin Soccer menjadi sebuah film yang gampang diingat tidak hanya karena komedinya. Jangan salah sangka, komedi yang ditawarkan Stephen Chow di film tersebut sangat berhasil mengocok perut. Tidak banyak orang yang bisa meramu komedi ala kartun hari Minggu dan dieksekusi dengan sempurna.

Tapi yang membuat komedi itu menjadi tajam karena Chow menikahkannya dengan plot underdog yang mudah diterima oleh semua penonton. Baik penonton anak-anak maupun penonton dewasa mengerti sekali bagaimana rasanya disepelekan atau disisihkan. Itulah yang menyebabkan petualangan para pemain bola di Shaolin Soccer menjadi legendaris.

Ketika kita bertemu dengan Tim Ewei, mereka sudah sakti. Ada yang bisa terbang, ada yang bisa menendang bola sampai gawangnya rusak. Bahkan ada yang bisa membuat bolanya belok-belok.

Konflik mereka berputar di masalah diri sendiri. Semua ini menarik kalau Kung Fu Soccer mengolah semua persoalan pribadi karakter-karakternya dengan agak sedikit lebih serius.

Tapi Stephen Chow terlalu ingin mengajak penonton tertawa. Hasil akhirnya adalah rangkaian adegan lucu tanpa ada efek emosional yang berarti.

Tapi bahkan dengan semua itu, Kung Fu Soccer tetap sebuah hiburan yang tidak bisa dilewatkan. Berita baiknya adalah film ini tetap film Stephen Chow alias lucu luar biasa.

Setiap adegan pertandingan, bersiaplah untuk menyaksikan berbagai akrobat, gimmick, adu tempur-semua hal yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola tapi hadir di lapangan.

Kungfu Soccer (2026).Kungfu Soccer (2026). Foto: Dok. Ist

Ada bola yang bisa melewati pesawat dan jatuhnya ke Bumi hampir menyamai dengan tabrakan meteor. Ada adu akting di tengah lapangan. Ilmu hipnotis untuk menciptakan gol dan lain sebagainya.

Banyak penonton yang mungkin akan menyadari bahwa film ini agak terlalu bergantung dengan CGI yang terlihat sekali palsu. Di film lain kekurangan ini mungkin akan mengurangi kenikmatanmu saat menyaksikan sebuah karya film.

Tapi karena Kung Fu Soccer dari awal sudah tidak serius, semua ini justru menambah lucu. Bayangkan di tengah pertandingan bola tiba-tiba ada cheetah. Hanya Stephen Chow yang bisa membuat film seperti ini. Sayang sekali Kung Fu Soccer akhirnya hanya berakhir sebuah film yang membuat penontonnya tertawa saja.

Tanpa plot yang berarti, semua adegan lucu itu sama sekali tidak mengikat saya ketika lampu akhirnya dinyalakan. Petualangan tim sepak bola Emei memang seru tapi tidak apa-apanya dibandingkan kisah para pecundang yang akhirnya membuktikan mereka jagoan di film aslinya 25 tahun lalu.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.


TAGS


MOVIE LAINNYA

SHOW MORE