×
Ad

Backrooms: Ruangan-ruangan Kosong Bikin Takut

Candra Aditya - detikPop
Senin, 08 Jun 2026 11:00 WIB
Jakarta -

Kamu mungkin sudah mendengar atau membaca soal Backrooms. Ini adalah film A24 paling laris karya Kane Parsons, yang saat syuting bahkan belum menginjak usia 20 tahun. Backrooms juga salah satu produk yang bisa disebut fenomenal karena lahir dari webseries dari tempat tergelap di dunia ini: internet.

Pertanyaannya ada banyak. Apakah film ini memang layak box office? Dan yang lebih penting lagi: apakah film ini memang seram?

Sinopsis Backrooms

Setup cerita Backrooms memang sederhana. Kisah ini terjadi pada tahun 1990an di sebuah toko furniture yang sepi.

Pemilik toko adalah Clark (Chiwetel Ejiofor) yang tinggal di tempat itu karena ia pisah dengan istrinya (sang istri yang mendapatkan rumah mereka). Suatu hari Clark menemukan bahwa listrik di tempat itu tinggi. Teknisi sudah memeriksanya dan tidak menemukan yang aneh. Kecuali dua saklar baru berbentuk diagonal yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Dan entah apa yang saklar itu kendalikan.

Suatu malam, Clark tidak bisa tidur. Mendengar ada yang mencurigakan di lantai bawah, Clark turun. Di sana, ia melihat cahaya muncul dari sebuah tembok kosong. Ketika ia mendekat dan menempelkan tangan, tangannya langsung tembus. Clark kaget luar biasa dan memutuskan untuk masuk.

Clark menemukan ruangan-ruangan aneh berwarna kuning yang tidak jelas fungsinya apa, desainnya kenapa begitu, dan kenapa ada banyak furniture yang sepertinya tenggelam.

Backrooms ternyata memang seram.

Adegan dalam film Backrooms (2026). Foto: dok. A24

Review Backrooms

Ditulis oleh Will Soodik, diadaptasi dari webseries kumpulan film pendek yang dibuat oleh Parsons sendiri, film ini adalah terjemahan dari mimpi buruk. Sepertinya hampir semua orang pernah membayangkan atau mendapatkan mimpi yang serupa: ruangan-ruangan kosong yang terasa familier tapi di saat yang bersamaan juga terasa asing.

Ketika kamu tersadar bahwa ruangan-ruangan itu tidak ada ujungnya, di situlah kamu mungkin mulai tersadar bahwa kamu sedang bermimpi buruk, atau sedang demam.

Ini mungkin yang membuat Backrooms terasa universal meskipun secara konsep rasanya seperti aneh: kita seperti pernah memasuki ruangan-ruangan ini.

Backrooms mungkin tidak akan menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala penontonnya. Siapakah orang-orang yang mengobservasi orang-orang yang tersesat di ruangan itu? Apa fungsi observasi ini? Dari mana asalnya? Apakah ini dimensi lain? Apakah ini buatan alien? Sejujurnya, semua pertanyaan ini tidak penting.

Sebab tujuan utama film ini adalah membuat penontonnya ketakutan. Dan dalam kasus Backrooms, Parsons berhasil membuat saya ketakutan.

Adegan dalam film Backrooms (2026). Foto: dok. A24

Dinilai dari segi teknis, sebenarnya apa yang dilakukan Parsons bukan hal yang baru. Teknik pengambilan gambarnya sudah pernah kita lihat sebelumnya. Kamera yang bergerak pelan, perspektif orang pertama seperti yang hadir di film-film found footage, suara-suara langkah kaki misterius dari kejauhan. Semuanya efektif untuk membuat penonton ketakutan. Sound design, camerawork, dan set design film ini bisa disebut sebagai elemen yang paling berhasil untuk membuat semua suasana terasa menyeramkan.

Tapi yang membuat Backrooms terasa sangat original adalah bagaimana ia menawarkan ketakutan pada sesuatu yang mungkin jarang kita lihat sebelumnya. Film horor biasanya tergantung pada hantu atau makhluk seram yang gambarnya sudah kita kenali. Backrooms justru sebaliknya.

Ia membangun ketakutannya pada hal asing. Ruangan yang tidak ada ujungnya, furniture yang bentuknya tidak wajar, sampai wujud yang seperti manusia tapi sepertinya bukan. Bahkan tanpa 'monster', Backrooms sudah membuat saya mencoba beberapa kali menutup mata dan telinga.

Meskipun ini film pertama, Parsons sangat jago dalam menjaga tensi sehingga momen sesederhana kamera yang diangkat oleh orang yang tidak bisa kita lihat menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Ia sangat pandai mengatur ketegangan, kamu akan mulai merasa takut pada hal-hal bahkan penonton tidak bisa lihat.

Backrooms membuktikan bahwa ternyata ada yang jauh lebih seram daripada hantu atau pembunuh berkeliaran. Ruangan kosong tanpa ujung ternyata memberikan efek merinding gila-gilaan.

Siapa sangka ternyata film yang visualnya mirip mimpi ketika kamu demam memberikan rasa takut yang begitu mengikat. Hebatnya, bahkan dengan kesederhanaan ini, gambar-gambar ruangan Backrooms akan stuck di kepalamu seperti ingatan yang tak mau pergi.

Backrooms dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

GenreFiksi Ilmiah, Horor Psikologis
Runtime110 Menit
Release Date

10 Juni 2026 (Seluruh Indonesia)
Tayang terbatas di beberapa layar bioskop sebelum tanggal tersebut.

Production Co.North Road Films
21 Laps Entertainment
Atomic Monster
Phobos
Oddfellows Entertainment
DirectorKane Parsons
WriterWill Soodik
Cast

Chiwetel Ejiofor
Renate Reinsve
Mark Duplass
Finn Bennett
Lukita Maxwell

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.




(mg1/aay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork