Ada beberapa judul film yang cukup menyita perhatian pada tahun ini dan mendapatkan lima bintang dari redaksi detikpop. Film-film ini dianggap berhasil menghadirkan sebuah hiburan yang berbeda dan juga menginspirasi penonton serta sineas untuk karya-karya selanjutnya.
Berikut film-film terbaik versi detikpop:
1. Anatomy of a Fall
Anatomy of a Fall, peraih penghargaan tertinggi Cannes Film Festival tahun lalu dan juga kontender Best Picture Oscar tahun ini (menang di Original Screenplay). Dari awal film dibuka, Anda akan tahu bahwa hubungan pasangan suami istri ini tidak fungsional.
Justine Triet menulis skrip film ini bersama Arthur Harari dengan kecerdasan diatas rata-rata. Anatomy of a Fall adalah semua hal yang diinginkan banyak penonton. Karakter yang tiga dimensional yang ditempatkan dalam situasi yang tidak biasa.
Fakta bahwa film ini berani mencampur-campur genre tapi tidak ada satu pun yang timpang membuktikan bahwa eksplorasi Triet berhasil. Anatomy of a Fall menggunakan genre drama pengadilan untuk mengeksploitasi hubungan ini.
Anda mungkin tergerak untuk menyaksikan film ini untuk melihat siapa sebenarnya yang menyebabkan kematian Samuel, tapi Triet bersama Harari menggunakan genre ini untuk membedah soal banyak hal.
Pada akhirnya, pertanyaan siapakah yang membunuh Samuel menjadi tidak penting. Triet menjelaskan dengan jelas sepanjang film bahwa dua orang ini mempunyai alasan yang kuat untuk membuat salah satu mereka berakhir di atas salju. Dan ternyata, ketidakjelasan itu menjadi salah satu alasan kenapa Anatomy of a Fall menjadi salah satu drama yang sangat berkesan.
2. Monster
Menyaksikan film Hirokazu Kore-eda artinya bersiap untuk menerima kepahitan hidup yang dipersembahkan dengan cara paling sederhana. Film-film Kore-eda tidak pernah berusaha untuk pamer. Gambar-gambarnya selalu tenang, musiknya mengiringi perlahan.
Secara plot, peristiwa yang muncul tidak pernah berlebihan. Tapi pengalaman menontonnya selalu seperti berada di tengah badai emosi. Kore-eda selalu berhasil membuat saya terhenyak dan film terbarunya, Monster, bukan pengecualian.
Ditulis oleh Yuji Sakamoto (yang memenangkan skrip terbaik di Cannes Film Festival tahun lalu), film ini membagi ceritanya melalui tiga mata. Mata pertama adalah dari seorang ibu bernama Saori Mugino (Sakura Ando, kembali berkolaborasi dengan Kore-eda setelah Shoplifters yang mengharu biru) yang menemukan anak laki-lakinya, Minato (Soya Kurokawa), bertingkah tidak seperti biasanya.
Dalam Monster, keputusan untuk membagi cerita ini dalam tiga perspektif menjadi terasa penting dan tidak terasa pretensius sama sekali. Dengan tiga perspektif yang berbeda ini, penonton diajak untuk melihat peristiwa dari mata yang sangat berbeda.
Di sinilah detil cerita menjadi potongan puzzle yang penting. Dan dalam konteks cancel culture, hal-hal inilah yang kerap kali menjadi alasan kenapa kita sebagai masyarakat gampang untuk memberikan penghakiman tanpa melihat gambar yang seutuhnya.
Skrip dari Yuji Sakamoto yang memang cemerlang tadi kemudian diterjemahkan dengan begitu menawan oleh Kore-eda yang semakin fasih dalam mengeksploitasi emosi penonton. Kore-eda selalu tahu cara mengarahkan aktor, terutama pemain anak-anaknya.
3. Exhuma
Menjadi film Korea Selatan terlaris pada tahun ini, tentunya membuat Exhuma layak masuk dalam jajaran film terbaik 2024.
Exhuma begitu mengikat ketika penonton disajikan dengan beberapa penampakan yang mengasyikkan. Bagian vital yang membuat paruh pertama Exhuma terasa begitu mencekik adalah bagaimana Jang Jae- hyun mempermainkan penonton. Ia tidak pernah menampilkan sosok hantu seperti kebanyakan film horor.
Ia menampilkan momok ini dari refleksi kaca dan bayangan. Hal ini membuat gambar yang ada di layar terasa lebih menyeramkan dari biasanya. Sayangnya hal ini tidak diteruskan ketika Jang Jae-hyun menampilkan monster yang menjadi cerita utamanya.
Tidak hanya itu, misteri dan mitologi yang menjadi fokus paruh kedua film ini juga tidak semenarik atau semenggigit bagian pertamanya. Begitu film berakhir, rasanya seperti menonton dua film yang berbeda. Rasanya seperti menonton dua episode pertama sebuah serial televisi.
Meskipun begitu Exhuma tetap asyik untuk ditonton karena Jang Jae-hyun tahu bagaimana menciptakan atmosfer yang ngeri. Ia mempunyai kemampuan yang menakjubkan dalam menggambarkan dunia perdukunan yang terasa otentik.
4. Women From Rote Island
Women From Rote Island mungkin bicara banyak soal pelecehan seksual yang bisa menimpa wanita maupun pria. Namun entah kenapa justru daya tarik dalam film ini terasa lebih kuat pada sosok Linda Adoe yang berperan sebagai Orpa, seorang ibu dengan dua anak perempuan.
Sebagai sosok ibu dalam rumah tanpa seorang pria di sana, Orpa digambarkan sebagai sosok yang sangat kuat. Meski harus menghadapi kenyataan pahit jika putri sulungnya kini mengalami depresi berat menjadi korban pelecehan seksual, ia pun tetap menjaganya. Bagaimana adegan ia menyisir rambut dan memeluk kala Martha mulai ketakutan mengingatkan saya pada sosok ibu.
Meski ini adalah film pertama Linda Adoe, namun ia berhasil menampilkan akting yang cukup menawan. Ia seolah menjadi nyawa dari film ini, hal itu pun sudah terlihat dari 20 menit awal film.
Women From Rote Island memang menjadi wadah untuk para 'debutan'. Tak hanya diisi banyak bintang baru dari Kupang, film ini juga menjadi debut penyutradaraan Jeremias Nyangoen. Hasilnya cukup menjanjikan mengingat banyaknya penghargaan yang telah diraih film tersebut hingga menjadi wakil Indonesia untuk Oscar tahun depan.
5. How To Make Millions Before Grandma Dies
Menonton How To Make Millions Before Grandma Dies adalah bersiap untuk menangis tersedu-sedu. Film ini tidak memberikan jeda bagi penonton untuk meneteskan air mata. Jangan salah sangka, film garapan Pat Boone Ittipat ini tidak melakukan semua hal film tear-jerker pada umumnya.
Berbeda dengan film sejenisnya, How To Make Millions Before Grandma Dies tidak tertarik untuk membuat semua adegan lebih dramatis dari seharusnya. Scoringnya tidak manipulatif seperti katakanlah drama korea. Musik yang ada di belakang berfungsi hanya untuk mengatur mood. Satu hal yang membuat film ini begitu relatable bagi semua orang adalah karena cerita ini sangat sederhana. Siapapun bisa melihat mereka atau keluarga mereka di film ini.
Cerita yang mantap ini kemudian diterjemahkan dengan begitu apik oleh sutradaranya. Gerakan kameranya terbatas. Tapi justru dalam kediaman itu penonton diajak untuk menyerap semua momen yang ada. Kemampuan sutradaranya untuk merekam momen demi momen ini patut diacungi jempol karena meskipun hampir semua adegannya terlihat monoton, tapi semua adegannya begitu magnetik.
Didukung dengan permainan akting yang sangat baik, How To Make Millions Before Grandma Dies adalah sebuah drama yang harus kamu saksikan di bioskop. Film ini bukan hanya sebuah drama yang baik tapi juga sebagai pengingat bahwa salah satu harta paling berharga yang kita punya adalah koneksi kita terhadap anggota keluarga lain.
Simak Video "Video Ryan Adriandhy Mau Ciptakan Dunia Na Willa, Gak Berhenti di Satu Film?"
(ass/tia)