Nama Trisa Triandesa mencuat selama setahun terakhir setelah aktif jadi konten kreator di medsos. Ia aktif membagikan berbagai konten soal sel-sel yang ada di otak manusia dan juga persoalan mental health.
Bukan sembarang yapping, namun Trisa punya riset dan data ilmiah yang dipelajarinya selama sekolah di Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung dan gelar Master Cognitive Neurosciende and Neuropsychology dari Birkbeck, University of London.
Pada April lalu, Trisa baru saja meluncurkan buku Moving Forward not Moving on yang diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia. Untuk pertama kalinya, Trisa menyambangi kantor detikcom buat membahas soal karya terbarunya tersebut.
Trisa cerita penulisan bukunya bermula dari DM editor penerbit yang mengajaknya untuk menulis cerita di balik apa yang dipelajarinya.
"Sebelumnya aku pernah bikin draf buku tapi gak diapa-apain, akhirnya dalam perjalanan nulis buku ada keresahan pribadi. Ada dua level sih, ada misinformasi soal neurosains dan mental health. Banyak informasi yang ngawur bangetlah," katanya di kantor detikcom pada Selasa (2/6).
Sejak 2021, Trisa juga didiagnosa mengidap gangguan kecemasan dan depresi. Dua hal itulah yang melatarbelakanginya untuk menulis buku dan menuangkan cerita personal ke dalamnya.
"Keresahan itu yang buat aku menuangkan hal-hal yang dulu aku tahu, orang lain yang mengalami tantangan kesehatan mental serupa. Agar bisa cepat mendatangkan bantuan, mengenalkan dirinya lebih cepat lagi," terangnya.
Ketika nulis pun, ia ngaku lebih banyak pertanyaan dan mengulik jawabannya ke dalam jurusan yang dipelajarinya. Lewat kolom komentar maupun DM Followers-nya, ia pun menuliskan kegelisahan yang sama.
"Buku soal sains populer banyak banget di laur negeri. Tapi di Indonesia belum banyak, jadi sebenarnya buku ini mau menambah khazanah perbukuan di Indonesia," ujar Trisa.
Selama 6 bulan, ia pun menyelesaikan naskahnya dan akhirnya bisa menjumpai pembaca di toko buku mulai bulan lalu. Bukunya pun sudah naik cetak ulang yang kedua dan dapat apresiasi positif dari pengikutnya.
Apa saja yang dibahas Trisa dalam bukunya?
Pria yang juga awalnya aktif main teater di awal dekade 2010-an itu cerita banyak hal yang ditulisnya. Misalnya saja soal overthinking, stres sama kerjaan, ngerasa burnout dengan aktivitas yang dijalani sampai persoalan gangguan kecemasan yang dialaminya.
"Karena yang DM aku tuh gak cuma satu atau dua ya. Akhirnya aku pikir, coba deh ditaro di buku aja. Lebih banyak ke soal stres dan mental health di keseharian kita," terangnya.
Nah, buku Moving Forward, Not Moving On jadi perjalanan bertumbuh dengan lebih sadar pada diri sendiri. Buku ini mengajak pembaca melihat emosi dan kelelahan mental melalui refleksi diri dan neurosains. Bagaimana otak memproses stres, membentuk kebiasaan bertahan hidup, dan mengapa kita sering merasa terjebak dalam pola yang sama, meski ingin berubah.
Simak Video "Video Melihat Eksistensi Pedagang Buku Bekas di Jakarta"
(tia/aay)