Ramuan Trisa Triandesa Nulis Buku Pakai Bahasa yang 'Ringan'
Selama satu tahun menggarap buku tersebut, salah satu hal yang tersusah sekaligus paling menantang ketika menulisnya.
"Selama 1,5 tahun terakhir aku pakai bahasa yang akademik dan ilmiah. Pas awal mau nulis buku, akunya sendiri susah buat menerjemahkan misalnya satu kata ilmiah medis tersebut," katanya saat menyambangi kantor detikcom, Selasa (2/6/2026).
"Kalau simplifikasi jadi over simplifikasi, bacanya jadi naon sih, sok pinter sih. Yang ngebantu ketika mulai ngonten sih. Mulai ada banyak DM, komentar, ngebantu banget memoles bahasanya bahkan aku mempertahankan ketika ngomong di reels," sambungnya.
Trisa ingin pengalaman personal dan juga momen-momen dari pengikutnya yang ikut disebarkan di dalam buku, bisa dipahami pembaca. Sembari berkelakar, Trisa menulis tulisannya dengan bahasa 'bayi'.
"Saat aku mulai ngonten satu tahun terakhir, ngomong di konten ternyata ngebantu banget buat memoles bahasanya. Bahkan aku juga mempertahankan ketika ngomong di reels dengan bahasa tulisan," terangnya.
Sejak 2021, Trisa juga didiagnosa mengidap gangguan kecemasan dan depresi. Dua hal itulah yang melatarbelakanginya untuk menulis buku dan menuangkan cerita personal ke dalamnya
Buku Moving Forward, Not Moving On jadi perjalanan bertumbuh dengan lebih sadar pada diri sendiri. Buku ini mengajak pembaca melihat emosi dan kelelahan mental melalui refleksi diri dan neurosains. Bagaimana otak memproses stres, membentuk kebiasaan bertahan hidup, dan mengapa kita sering merasa terjebak dalam pola yang sama, meski ingin berubah.
Baca juga: Ngobrol Neurosains Bareng Trisa Triandesa |
(tia/tia)











































