Jelang Hari Museum Nasional, Ini Sederet Rekomendasi Museum di Kalimantan

Jelang Hari Museum Nasional, Ini Sederet Rekomendasi Museum di Kalimantan

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Selasa, 06 Okt 2026 08:01 WIB
Museum Sejarah Kota Tarakan.
Museum Sejarah Kota Tarakan. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Balikpapan -

Memperingati Hari Museum Nasional pada 12 Oktober 2026 besok, bisa jadi momentum untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan jejak sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Museum menawarkan pengalaman berbeda karena pengunjung dapat melihat secara langsung berbagai benda peninggalan masa lalu sekaligus memahami cerita di baliknya. Di Kalimantan, terdapat sejumlah museum yang menarik untuk dikunjungi.

Koleksinya beragam, mulai dari peninggalan kerajaan dan sejarah perjuangan hingga artefak budaya masyarakat Dayak dan berbagai warisan khas daerah. Tak hanya menjadi tempat belajar, museum-museum tersebut juga dapat menjadi pilihan destinasi wisata edukatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

6 Rekomendasi Wisata Museum di Kalimantan

Berikut sederet rekomendasi museum di Kalimantan yang dapat dikunjungi untuk mengisi momen Hari Museum Nasional. Ada enam destinasi wisata museum di Kalimantan yang wajib detikers kunjungi, mulai dari Museum Sejarah Tarakan, Museum Kayu Tuah Himba, Museum Wasaka Banjarmasin, Museum Kalimantan Barat, dan Museum Mulawarman.

1. Museum Sejarah Tarakan

Museum Sejarah Kota Tarakan.Museum Sejarah Kota Tarakan. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Dikutip dari laman Kota Tarakan, Museum Sejarah Tarakan berlokasi di Jalan Sei Sembakung, Kawasan Sport Centre Tarakan, Kampung Empat, Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Tarakan Timur, Tarakan, Kalimantan Utara.

Museum ini terdiri atas tiga bangunan baru yang masing-masing memiliki satu lantai, yakni dua bangunan utama di bagian depan dan satu bangunan di bagian belakang. Keseluruhan bangunan tersebut berdiri di atas area seluas kurang lebih 150 m².

Secara fungsi, dua bangunan yang berada di bagian depan digunakan sebagai ruang pameran tetap. Sementara itu, bangunan di bagian belakang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan pengelolaan museum, seperti ruang pengelola, ruang penyimpanan (storage), ruang perawatan yang meliputi preparasi dan konservasi, ruang mini teater, serta fasilitas lainnya.

Museum Sejarah Tarakan, yang juga dikenal sebagai Museum Perang Dunia II, menjadi salah satu tempat yang merekam perjalanan penting Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Museum ini terutama mengangkat sejarah Perang Dunia II serta perkembangan industri perminyakan di wilayah tersebut.

Melalui koleksinya, pengunjung dapat mengetahui posisi strategis Tarakan yang menjadi wilayah perebutan antara Jepang dan Sekutu karena memiliki kekayaan minyak. Meski bangunannya sederhana, museum ini menyimpan cerita mengenai pertempuran, masa pendudukan, hingga peran Tarakan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Berbagai koleksi yang tersimpan antara lain foto dokumentasi perang, perlengkapan militer, serta artefak yang berkaitan dengan industri minyak yang pernah berkembang pesat di Tarakan. Letaknya yang berada di pusat Kota Tarakan juga membuat museum ini relatif mudah dijangkau wisatawan.

2. Museum Kayu Tuah Himba Kukar

Salah satu koleksi Museum Kayu Tuah Himba Kukar. (Laman Pemkab Kukar)Salah satu koleksi Museum Kayu Tuah Himba Kukar. (Laman Pemkab Kukar)

Disadur dari laman Pemerintah Kabupaten Kukar, Museum ini mulai dibangun pada 1 Januari 1994 dan resmi dibuka untuk umum pada 25 September 1996, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-214 Kota Tenggarong.

Berlokasi di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Museum Kayu Tuah Himba didirikan pada 1996. Museum ini berfungsi sebagai tempat edukasi sekaligus pelestarian berbagai jenis kayu khas Borneo.

Nama Museum Kayu Tuah Himba sendiri memiliki makna filosofis berdasarkan bahasa Kutai. "Museum Kayu" disebut sebagai "Odah", yang berarti tempat untuk menyimpan berbagai jenis kayu.

Nama "Tuah Himba" diambil dari semboyan daerah yang memiliki makna bahwa menjaga kekayaan hutan akan memberikan manfaat yang berkelanjutan. Karena itu, museum ini tidak hanya memperkenalkan jenis-jenis kayu, tetapi juga mengajak pengunjung memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan.

Museum tersebut memiliki lebih dari 855 koleksi. Di antaranya terdapat berbagai jenis kayu perdagangan seperti ulin, fosil kayu, ukiran khas Dayak, serta satwa yang diawetkan. Salah satu koleksinya yang menarik perhatian adalah buaya muara dengan panjang mencapai enam meter.

3. Museum Mulawarman Kukar

Museum Mulawarman yang berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memiliki sejarah yang tidak kalah menarik. Bangunan museum ini sebelumnya merupakan Istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang didirikan pada 1936-1937.

Bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa klasik tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi museum pada 1971. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1976, tempat ini resmi menggunakan nama Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur "Mulawarman" sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai.

Lebih dari 5.000 koleksi tersimpan di dalam museum ini. Koleksinya mencakup singgasana Sultan, perhiasan berbahan emas, replika Prasasti Yupa, arca Hindu-Buddha, keramik dari Dinasti Ming dan Qing, hingga perlengkapan yang digunakan dalam upacara adat Erau.

Museum Mulawarman berada di Jalan Diponegoro No. 1, Tenggarong, dengan jarak sekitar 45 menit dari Samarinda. Letaknya juga tidak jauh dari Sungai Mahakam sehingga kerap menjadi salah satu tujuan dalam paket wisata susur sungai.

4. Museum Wasaka Banjarmasin

Museum Wasaka Banjarmasin.Museum Wasaka Banjarmasin. Foto: dok meratusgeopark.org

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, terdapat Museum Wasaka yang menyimpan berbagai jejak perjuangan masyarakat Banjar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nama "Wasaka" merupakan kependekan dari Waja Sampai Kaputing, semboyan perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan yang bermakna berjuang dengan tekad baja hingga mencapai akhir.

Bangunan museum menggunakan rumah tradisional Banjar tipe Bubungan Tinggi yang usianya telah mencapai lebih dari dua abad. Di dalamnya tersimpan berbagai benda bersejarah, seperti mandau, tombak, senjata api peninggalan VOC, pakaian barajah, dokumen perjuangan, serta diorama yang menggambarkan pertempuran.

Museum Wasaka berada di tepian Sungai Martapura, tidak jauh dari Jembatan 17 Mei. Pengunjung dapat mencapainya melalui jalur darat maupun dengan menyusuri sungai. Salah satu hal yang menarik, museum ini tidak memungut biaya tiket masuk sehingga dapat menjadi pilihan wisata sejarah dan edukasi yang mudah dijangkau masyarakat.

5. Museum Kalimantan Barat

Museum Kalimantan Barat dan koleksinya.Museum Kalimantan Barat. Foto: dok Kementerian Kebudayaan

Museum Kalimantan Barat di Pontianak mulai dibuka secara resmi pada 1983, setelah proses perintisannya berlangsung selama hampir satu dekade. Bangunannya dibuat menyerupai rumah panjang Dayak sehingga sekaligus menjadi representasi identitas budaya Kalimantan Barat.

Museum ini menggambarkan keberagaman tiga budaya utama di Kalimantan Barat, yakni Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Jumlah koleksinya mencapai lebih dari 23.000 benda, meliputi artefak etnografi, peninggalan arkeologi, uang kuno, naskah filologi, keramik dari berbagai dinasti, hingga peninggalan Kesultanan Pontianak.

Tidak hanya ruang pamer, area luar museum juga memiliki sejumlah koleksi menarik, seperti miniatur rumah lanting, perahu tradisional, dan jangkar kapal asing. Museum Kalimantan Barat berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pontianak, dan dapat dijangkau dengan mudah dari pusat kota maupun Bandara Supadio.

6. Museum Balanga Palangka Raya

Museum Balanga, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.Museum Balanga, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto: dok Kementerian Kebudayaan

Rekomendasi berikutnya adalah Museum Balanga yang berada di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Museum ini menjadi salah satu pusat pelestarian budaya Dayak sekaligus bagian dari sejarah penting daerah tersebut.

Bangunan Museum Balanga sebelumnya merupakan Gedung Monumen Dewan Nasional (GMDN) yang didirikan pada 1963. Bangunan tersebut kemudian diresmikan sebagai Museum Balanga pada 6 April 1973. Selain ruang pamer, museum ini juga memiliki auditorium yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan budaya dan edukasi, serta menyediakan layanan pemandu bagi pengunjung.

Koleksi yang dimiliki Museum Balanga berjumlah lebih dari 4.000 artefak. Berbagai benda tersebut menggambarkan siklus kehidupan masyarakat Dayak, kegiatan nelayan dan petani pada masa lalu, senjata tradisional, hingga miniatur rumah panjang atau rumah betang yang menjadi salah satu simbol identitas masyarakat Dayak.

Keenam museum tersebut menunjukkan betapa beragamnya sejarah, budaya, dan identitas masyarakat yang berkembang di Pulau Kalimantan. Mengunjungi museum bukan hanya menjadi kegiatan wisata, tetapi juga kesempatan untuk mengenal lebih dekat berbagai warisan yang membentuk perjalanan masyarakat di Borneo.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Momen Pedro Acosta-Alex Marquez Crash di Sprint Race MotoGP Jepang"
[Gambas:Video 20detik] (aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads