Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi bukti tertulis paling tua yang mengungkap awal sejarah kerajaan Hindu di Nusantara. Isinya memuat informasi tiga generasi penguasa, yaitu Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman.
Ada tujuh Yupa yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Tampak tulisan pada batu menggunakan aksara Pallawa Awal dan bahasa Sanskerta.
Ketujuh Prasasti Yupa itu sekarang dipamerkan di Museum Nasional Indonesia yang juga mencatatnya sebagai peninggalan abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Selain Museum Nasional Indonesia, replika 7 Prasasti Yupa juga bisa dijumpai di Museum Samarinda dan Museum Mulawarman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Penemuan 7 Prasasti Yupa
Dikutip buku Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Kutai, penemuan Yupa bermula dari laporan mengenai batu dengan tulisan di wilayah Kerajaan Kutai pada akhir abad ke-19. Pada 3 Juni 1879, K.F. Holle menyampaikan informasi mengenai keberadaan batu di wilayah Kutai itu kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Surat itu mendapat balasan tertanggal 9 September 1879 yang mengonfirmasi keberadaan batu-batu bertulis di Muara Kaman. Saat itu masih empat batu yang ditemukan dan langsung dikirim ke Batavia pada 1880.
Tiga Yupa lainnya ditemukan pada 1940. Ketiga prasasti tersebut kemudian dicatat sebagai D.175, D.176 dan D.177, melengkapi tujuh Yupa yang dikenal sebagai Prasasti Muarakaman I hingga VII.
Salinan salah satu prasasti lalu dikirim kepada Hendrik Kern, yang pada 13 September 1880 mempresentasikan hasil pembacaannya dalam pertemuan Royal Academy of Sciences di Amsterdam. Kern membuat transkripsi dan terjemahan awal dari prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta tersebut.
Pembacaan kemudian dilanjutkan sejumlah ahli lain, termasuk J.Ph. Vogel, F.D.K. Bosch, Fleet, Hultzsch dan Vankayya. Pembacaan dan penerjemahan juga diperbaiki pada 1952 oleh Raden Mas Ng. Poerbatjaraka.
Salah satu informasi dari tujuh prasasti itu adalah pemberian 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Besarnya persembahan tersebut merupakan bentuk kedermawanan raja dan gambaran kemakmuran dalam tradisi Weda.
Isi 7 Prasasti Yupa Muarakaman
1. Prasasti Yupa Muarakaman I
Muarakaman I berisi silsilah keluarga kerajaan. Terdapat 12 baris tulisan pada salah satu sisinya. Pada bagian awal disebutkan Sri Maharaja Kundungga yang memiliki putra bernama Aswawarman. Aswawarman disebut sebagai tokoh yang masyhur dan diibaratkan seperti Ansuman atau Dewa Matahari.
Aswawarman kemudian memiliki tiga putra dan di antara ketiganya terdapat Mulawarman. Prasasti juga menyebut Mulawarman sebagai raja yang memiliki kebajikan, kekuatan dan kekuasaan.
Mulawarman mengadakan sebuah upacara atau selamatan yang disebut bahusuwarnnakam. Sebagai tanda peringatan atas pelaksanaan upacara tersebut, para Brahmana kemudian mendirikan Yupa.
Prasasti Yupa I memiliki nomor inventaris D.2a. Museum Nasional mencatat ukurannya sekitar 124 cm tinggi, 31,5 cm lebar dan tebalnya 29,5 cm.
Alih aksara:
srimatah srinarendrasya
kundunggasya mahatmanah
putro 'svavarmmo vikhyatah
vansakartta yathangsuman
tasya putra mahatmanah
trayas traya ivagnayah
tesan trayanam pravarah
tapo bala damanvitah
sri mulavarmma rajendro
yastva bahusuvarnnakam
tasya yajñasya yupo 'yam
dvijendrais samprakalpitah
2. Prasasti Yupa Muarakaman II
Prasasti kedua terdiri dari 8 baris dan dari bentuknya terlihat paling tinggi di antara tujuh lain. Isinya berfokus pada kemurahan hati Mulawarman. Jumlah persembahan yang disebutkan sangat besar, yaitu 20.000 ekor sapi. Yupa Muarakaman II tercatat dengan nomor inventaris D.2b.
Alih aksara:
srimato nrpamukhyasya
rajñah sri mulavarmmanah
danam punyatame ksetre
yad dattam vaprakesvare
dvijatibhyo 'gnikalpebhyah
vinsatir ggosahasrikam
tasya punyasya yupo 'yam
krto viprair=ihagataih
3. Prasasti Yupa Muarakaman III
Yupa Muarakaman III juga terdiri atas 8 baris. Prasasti ini lebih menonjolkan kebaikan budi dan kebesaran Mulawarman. Di dalamnya disebutkan bahudana atau pemberian dalam jumlah besar, jivadana, dan pohon. Prasasti Muarakaman III memiliki nomor inventaris D.2c.
Alih aksara:
srimad viraja kirtteh
rajñah sri mulavarmmanah punyam
srnvantu vipramukhyah
ye canye sadhavah purusah
bahudana jivadanam
sakalpavrksam sabhumidanañ ca
tesam punyagananam
yupo yam sthapito vipraih
4. Prasasti Yupa Muarakaman IV
Berbeda dengan tiga Yupa sebelumnya, Muarakaman IV lebih sulit dikaji karena kondisi tulisannya. Yupa ini memiliki 11 baris pahatan di sisi depannya, tetapi aksara yang ada pada permukaannya sudah sangat pudar sehingga isi prasasti tidak dapat dibaca dengan jelas.
5. Prasasti Yupa Muarakaman V
Muarakaman V jauh lebih pendek dibandingkan Yupa I dan IV. Prasasti ini hanya terdiri atas 4 baris tulisan. Isinya berkaitan dengan pemberian atau sedekah yang dilakukan Mulawarman. Salah satu persembahan yang disebut adalah tilaparvata yang dipahami berupa minyak wijen dalam jumlah besar.
Alih aksara:
sri mulavarmmana rajña
yad=dattan=tilaparvvatam
sadipa malaya sarddham
yupo yam likhitas=tayoh
6. Prasasti Yupa Muarakaman VI
Muarakaman VI terdiri atas 8 baris. Di bagian awal prasasti berisi pujian kemenangan atau keselamatan bagi Sri Maharaja Mulawarman yang disebut sebagai raja yang termasyhur. Prasasti mencatat persembahan yang diberikan kepada kaum Brahmana berupa air, ghee atau mentega, minyak wijen dan 11 ekor sapi jantan. Yupa Muarakaman VI memiliki nomor inventaris D.176.
Alih aksara:
jayaty=atiba[lah]
sriman=sri mulavarmma nr[pah]
yasya likhitani
danany=asmin=mahati [sthale]
jaladhenung ghrtadhe[num]
kapiladanan=tath=aiva ti[ladanam]
vrsabh=aikadasam=api yo
datva vipresu rajendra[h]
7. Prasasti Yupa Muarakaman VII
Muarakaman VII memiliki 8 baris dan merupakan salah satu Yupa yang menarik karena isinya lebih memperlihatkan kekuatan politik Mulawarman. Bagian prasasti yang masih terbaca menyebut Mulawarman telah menaklukkan raja-raja lain dalam peperangan dan menjadikan mereka takluk atau membayar upeti.
Kondisi Muarakaman VII sudah tidak utuh. Beberapa bagian tulisan, terutama di sejumlah barisnya pudar, sehingga tidak bisa dibaca dengan lengkap. Yupa ini memiliki nomor inventaris D.177.
Alih aksara:
sri mulavarmma rajendra[h] sama[re]jitya partthi[van]
karadam nrpatimsa cakre yatha raja yudhistirah
catvarimsat=sahasrani sa dadu vaprakesvare
ba........trimsat=saharani punar=ddadau
.........sa punar=jivadanam prithagvidham
akasadipam dharmmatma partthivendra[h] svake pure
..... ..... ..... ..... ..... ..... ..... mahatmana
yupo yam sth[apito] viprair=nnana....ih=a[gataih]
Itulah isi dan sejarah penemuan Yupa di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Saat ini, replika Prasasti Yupa dapat dijumpai di Museum Negeri Mulawarman di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Selain itu, Museum Kota Samarinda juga punya koleksi replika Prasasti Yupa Muara Kaman. Bagaimana detikers, tertarik melihatnya secara langsung?
