Kedaton Kutai Kartanegara yang berdiri di pusat Kota Tenggarong, Kalimantan Timur, bukanlah istana pertama yang pernah dimiliki Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Bangunan yang lebih dikenal sebagai Kedaton Kutai Kartanegara ini ternyata baru berdiri pada 2002. Pembangunannya dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara setelah Kesultanan Kutai Kartanegara dihidupkan kembali di awal era Reformasi.
Sebelum kedaton baru berdiri, pusat pemerintahan kesultanan telah beberapa kali berpindah, begitu pula istananya. Saat ini, Kedaton Kutai Kartanegara menjadi milik Sultan Kutai Kartanegara dan lebih sering dipakai sebagai kantor lembaga kesultanan dan juga tempat berlangsungnya berbagai kegiatan dan upacara kesultanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Kutai Lama, Pemarangan, sampai Tenggarong
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dulunya berdiri di Kutai Lama. Kerajaan ini didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti sekitar tahun 1300 dan pusat pemerintahannya berada di Kutai Lama, atau yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara.
Dalam perkembangannya, pusat pemerintahan kerajaan berpindah beberapa kali. Setelah Kutai Lama, pusat kerajaan dipindahkan ke Pemarangan pada 1732. Selanjutnya, pusat pemerintahan dipindahkan ke Tenggarong pada 1782 pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, seperti yang dijelaskan dalam Salasilah Kutai. Tenggarong kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara hingga berakhirnya pemerintahan kesultanan pada 1960.
Perubahan tersebut juga beriringan dengan berkembangnya Kutai Kartanegara sebagai kerajaan Islam. Islam telah diterima di lingkungan kerajaan sejak sekitar abad ke-17, terutama pada masa Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Beberapa saat kemudian, penggunaan gelar raja beralih menjadi sultan.
Aji Muhammad Idris dikenal sebagai penguasa pertama Kutai Kartanegara yang menggunakan gelar dan nama Islam. Sultan Aji Muhammad Idris kemudian pergi ke Sulawesi Selatan untuk membantu mertuanya, Sultan Wajo La Madukelleng, dalam menghadapi Belanda. Sultan Aji Muhammad Idris kemudian gugur dalam peperangan tersebut.
Perubahan pusat pemerintahan inilah yang membuat kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara juga mengalami beberapa kali perubahan lokasi dan bentuk. Istilah kedaton sendiri berasal dari kata kedatuan yang berarti istana atau tempat kediaman raja.
Kedaton Lama dan Istana Beton Parikesit
kedaton kutai kartanegara. Foto: (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom) |
Sayangnya, berdasarkan penelusuran detikKalimantan, tidak banyak catatan yang menggambarkan bentuk kedaton pada masa awal Kesultanan Kutai Kartanegara. Dokumentasi mengenai bangunan istana ada pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang memerintah pada 1845 hingga 1899.
Salah satunya dideskripsikan oleh Carl Bock yang melakukan ekspedisi ke pedalaman Sungai Mahakam pada 1879. Dalam dokumentasinya, Bock menggambarkan pendapa istana Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang menggunakan kayu ulin.
Setelah Sultan Aji Muhammad Sulaiman wafat, Sultan Aji Muhammad Alimuddin memerintah pada 1899-1910. Di masa Sultan Alimuddin, ada kedaton baru yang masih berada di kawasan Tenggarong dan dibangun dari kayu ulin. Bangunannya berbentuk dua lantai dan menghadap ke Sungai Mahakam.
Kedaton itu direnovasi saat pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit pada 1920-1960. Di tahun 1936, Sultan Aji Muhammad Parikesit menggagas pembangunan istana baru untuk menggantikan istana kayu.
Pembangunannya dipercayakan kepada perusahaan beton Belanda, Hollandsche Beton Maatschappij (HBM), dengan arsitek Estourgie. Bangunan itu kemudian selesai pada 1937. Istana inilah yang kemudian menjadi bangunan yang sekarang digunakan sebagai Museum Mulawarman.
Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sendiri berakhir pada 1960. Pada 21 Januari 1960, berlangsung serah terima pemerintahan Daerah Istimewa Kutai kepada pemerintahan daerah yang baru. Bekas istana Kesultanan Kutai akhirnya berubah fungsi menjadi Museum Mulawarman.
Kedaton Baru Dibangun
Setelah Reformasi, rencana untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mulai dibicarakan pada 1999 oleh Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Syaukani HR. Pada 7 November 2000, Syaukani bersama putra mahkota Kutai, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat, menghadap Presiden Abdurrahman Wahid di Bina Graha, Jakarta, untuk menyampaikan rencana tersebut.
Rencana itu pun mendapat persetujuan dan restu Presiden Abdurrahman Wahid. Setahun kemudian, tepatnya 22 September 2001, putra mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anum Surya Adiningrat dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II.
Setelah kesultanan dihidupkan kembali, pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara kemudian membangun sebuah istana baru. Bangunan Kedaton Kutai Kartanegara selesai dibangun pada 2002. Lokasinya berada di Tenggarong, tepat di samping Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin dan di belakang Museum Mulawarman.
Kedaton baru ini tidak menggantikan Museum Mulawarman. Museum Mulawarman tetap menjadi bangunan bekas istana Kesultanan Kutai, sedangkan kedaton baru disiapkan sebagai tempat bagi Sultan dan lembaga kesultanan setelah dihidupkan kembali.

