Kualitas udara di Singapura memburuk akibat kabut asap lintas batas, kiriman dari Indonesia.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan berdampak serius hingga ke negara tetangga. Pada Selasa (13/10), kualitas udara di Singapura berada di level 'tidak sehat' akibat paparan kabut asap dari Indonesia.
Menurut data IQAir, Indeks Kualitas Udara (AQI) Singapura menyentuh angka 194, yang menempatkannya sebagai kota paling berpolusi nomor dua di dunia setelah Lahore, Pakistan.
Meski udara diselimuti asap pekat, sebagian warga Singapura tetap beraktivitas di luar rumah. Singapura kemudian mengaktifkan subsidi pengobatan bagi warganya.
Mulai 12 Oktober, warga bisa mendapat perawatan bersubsidi untuk gangguan kesehatan akibat kabut asap di poliklinik dan klinik PHPC tertentu. Biayanya mulai gratis bagi penerima bantuan publik, maksimal 5 dolar Singapura untuk lansia tertentu, dan 10 dolar bagi warga yang memenuhi syarat.
Tak cuma Singapura, Malaysia juga terdampak kabut asap pekat imbas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Berdasarkan IQAir, Kuala Lumpur masuk 10 kota besar paling tercemar di dunia dengan indeks kualitas udara mencapai angka 222 alias sangat tidak sehat.
(aau/aau)