Makin Parah, Asap Karhutla Kalimantan Terdeteksi Sampai Filipina

Makin Parah, Asap Karhutla Kalimantan Terdeteksi Sampai Filipina

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 12 Okt 2026 15:59 WIB
Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Palangka Raya tersebut telah terjadi sekitar akhir Juli 2026 hingga sekarang dan berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPUnet) kualitas udara di Palangka Raya pada Minggu (11/10) pukul 18.00 WIB masuk dalam kategori berbahaya dengan indeks standar pencemaran udara mencapai mencapai 414. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar
Kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Balikpapan -

Asap karhutla di Indonesia telah terpantau menyebar hingga Filipina. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN atau ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) melaporkan kabut asap lintas negara atau transboundary smoke haze menyelimuti sebagian wilayah Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera bagian tengah dan selatan, sebagian Kalimantan, hingga Filipina bagian selatan.

Dalam laporannya per 12 Oktober 2026 pukul 10.58 WIB, hotspot tersebar di Kalimantan dan Sumatera, sementara tidak terdeteksi adanya hotspot negara ASEAN lainnya. Kualitas udara di Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Sumatera bagian tengah sampai ke selatan juga berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Bukan hanya di sekitar lokasi kebakaran, laporan ASMC juga menunjukkan dampak asap melintasi batas negara Indonesia mengikuti kondisi angin. Cakupan keseluruhan hotspot dan kabut asap belum bisa dipastikan kembali karena masih tertutup awan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Malaysia dan Singapura, asap akibat karhutla Kalimantan dan Sumatera juga menyebar sampai ke Filipina berdasarkan pantauan pada Senin, (12/10/2026). Di bulan September lalu, Philippine Information Agency juga sempat melaporkan asap dari kebakaran musiman di Indonesia telah mencapai beberapa wilayah Filipina, termasuk Metro Manila yang jaraknya 800 kilometer lebih dari Indonesia.

ASMC memperkirakan cuaca kering masih bertahan di sebagian kawasan ASEAN bagian selatan dalam beberapa hari ke depan. Hujan berpeluang memperbaiki kondisi di sejumlah wilayah, tetapi risiko kabut asap lintas negara masih ada, terutama di daerah yang mengalami kekeringan berkepanjangan. Angin di kawasan selatan ASEAN diperkirakan bertiup dari tenggara hingga barat daya.

Pantauan terkini kabut asap dari Kalimantan dan Sumatera yang menyebar hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina. (dok ASEAN Specialised Meteorological Centre atau ASMC)Pantauan terkini kabut asap dari Kalimantan dan Sumatera yang menyebar hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina. (dok ASEAN Specialised Meteorological Centre atau ASMC)

Malaysia Tunda KBM di Sekolah

Dampak kabut asap tak main-main. Melansir Channel NewsAsia pada Senin, (12/10/2026), Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek adanya keputusan untuk menutup sekolah karena kondisi kualitas udara yang buruk, tetapi keputusan itu diserahkan ke masing-masing wilayah.

Penutupan kegiatan belajar mengajar ini mempertimbangkan perubahan indeks polusi udara dari waktu ke waktu. Di Johor, seluruh sekolah dan institusi pendidikan dijadwalkan tutup selama lima hari, terhitung mulai dari 12-16 Oktober 2026, akibat kondisi kabut asap yang memburuk.

Hal yang sama juga berlaku di Singapura di mana kualitas udara masuk dalam kategori tidak sehat. Kabut asap pekat terlihat bergerak dari Sumatera bagian selatan menuju Singapura. Hal ini berdampak pada berbagai sektor, mulai dari kesehatan dan kegiatan pendidikan.

ASMC Prediksi Risiko Kabut Asap Masih Berlanjut

ASMC memperkirakan cuaca kering masih akan bertahan di sebagian kawasan ASEAN bagian selatan dalam beberapa hari mendatang. Pengecualian diperkirakan terjadi di Semenanjung Malaysia, Sumatera bagian utara dan tengah, juga Borneo bagian utara yang berpeluang mengalami hujan.

Hujan memang bisa mengurangi hotspot dan kabut asap, tetapi risiko asap lintas negara tetap masih ada. Angin di kawasan ASEAN bagian selatan diperkirakan bertiup dari tenggara hingga barat daya. Kondisi angin ini menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan asap ke wilayah lain, termasuk asap dari Indonesia ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Menjelang akhir Oktober, Monsun Barat Daya diperkirakan berangsur beralih menuju periode peralihan yang ditandai dengan turunnya intensitas angin yang berpotensi menyebarkan asap karhutla dari Indonesia. El Nino juga diperkirakan masih berlangsung dan menguat di Oktober-November 2026. Curah hujan masih diperkirakan rendah di sebagian besar kawasan ASEAN, sehingga hotspot dan kabut asap diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads