Kalimantan Tengah

Sumpat, Tradisi Panggang Durian dalam Bambu Ala Masyarakat Dayak Tomun

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 02 Jul 2026 09:29 WIB
Foto: Sumpat, tradisi panggang durian dalam bambu masyarakat Dayak Tomun (Sigit Pamungkas/detikKalimantan)
Lamandau -

Musim durian di hutan adat Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah bukan hanya menjadi waktu panen buah, tetapi juga momen berkumpul bagi masyarakat Dayak Tomun. Di tengah rimbunnya hutan, durian yang baru jatuh atau dipetik tidak selalu langsung disantap.

Ada cara khas makan durian yang diwariskan turun-temurun, yakni mengolahnya menjadi sumpat, durian yang dipanggang di dalam bambu. Tradisi ini telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Dayak Tomun.

Saat pohon-pohon durian hutan mulai berbuah lebat, warga yang bermalam di pondok-pondok sederhana di tengah hutan memanfaatkan bambu sebagai alat memasak alami. Daging durian dipisahkan dari kulitnya, sebagian masih bersama bijinya, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu.

Ujung bambu kemudian ditutup menggunakan daun hutan berukuran lebar agar uap panas tetap terjaga di dalamnya. Setelah itu, bambu dipanggang di atas bara api hingga bagian luarnya menghitam.

Meski tampak hangus, bambu tidak sampai terbakar habis. Justru proses inilah yang menghasilkan aroma asap yang khas dan berpadu dengan manisnya durian hutan.

Bagi masyarakat Dayak Tomun, sumpat bukan sekadar makanan. Kuliner ini lahir dari cara hidup masyarakat adat yang sangat bergantung pada hutan.

Ketika musim durian tiba, warga sering menghabiskan waktu berhari-hari di pondok kebun atau pondok hutan untuk menunggu buah jatuh secara alami. Di sela aktivitas itu, durian diolah bersama sebagai hidangan yang menghangatkan suasana kebersamaan.

Tokoh Dayak Tomun Desa Kinipan, Effendi Buhing, mengatakan tradisi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan leluhur dalam memanfaatkan hasil hutan tanpa menghasilkan banyak limbah dan tanpa membutuhkan peralatan modern.

"Sumpat adalah cara orang tua kami menikmati durian di hutan. Daging durian dimasukkan ke dalam bambu lalu dipanggang. Rasanya tetap manis, tetapi ada aroma asap yang membuatnya berbeda. Cara ini sudah dilakukan sejak nenek moyang kami ketika tinggal berhari-hari di hutan saat musim durian," ujar Effendi Buhing kepada detikKalimantan, Kamis (2/7/2026).



Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"


(des/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork