Kalimantan Barat tidak hanya dikenal lewat ragam kuliner bercita rasa Melayu yang khas, tetapi juga memiliki jajanan tradisional dengan nama unik yang mengundang rasa penasaran. Salah satunya adalah kue si kentut, camilan tradisional yang cukup populer di kalangan warga Singkawang dan sekitarnya.
Kue si kentut sebetulnya berasal dari Bangka, Bangka Belitung. Namun juga populer di Singkawang dan Pontianak, Kalimantan Barat.
Meski namanya terdengar lucu dan sedikit nyeleneh, kue ini justru memiliki cita rasa gurih dan tekstur lembut yang disukai banyak orang. Tak ada bau kentut yang dibayangkan sebagian orang.
Asal-usul Kue Si Kentut
Kue si kentut merupakan salah satu kuliner tradisional khas Kepulauan Bangka Belitung yang lekat dengan budaya masyarakat suku Khek di daerah tersebut. Kue tradisional ini dipercaya telah hadir sejak ribuan tahun lalu bersamaan dengan kedatangan masyarakat Tionghoa suku Hakka atau Khek ke wilayah Bangka Belitung.
Disadur dari buku Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia oleh Nicholas Molodysky, kue ini sudah ribuan tahun dikonsumsi komunitas Hakka, yang kemudian menyebar sesuai tempat tinggal masyarakatnya. Menyebarnya masyarakat komunitas Hakka juga sampai ke Kalimantan Barat, sehingga memungkinkan penyebaran jenis kulinernya.
Kue si kentut punya nama lain yakni kai si then cho yang artinya rumput beraroma kotoran ayam, koi sai tin kwe, dan chu phi then. Kue si kentut juga dikenal dengan nama ta phi pan dalam bahasa Hakka.
Nama kue kentut berasal dari penggunaan daun kentut (Paederia foetida) sebagai salah satu bahan utama dalam proses pembuatan. Daun kentut biasa disebut daun simbukan, atau nama lainnya daun ta phi.
Daun ini memiliki aroma cukup menyengat hampir menyerupai bau kentut. Rasanya juga dikenal pahit. Namun setelah melalui proses masak, hasilnya tidak begitu bau dan justru harum dan nyaman dimakan.
Kue berwarna hijau tua atau hijau lumut ini dihasilkan dari daun kentut yang memang punya warna sama. Kue kentut dicicipi oleh banyak food vlogger atau food reviewer karena nama yang unik.
Tidak seperti namanya yang terdengar 'menjijikan', kue ini sebenarnya punya aroma daun yang lezat dengan cita rasa dominan manis. Tekstur kue ini lembut, rasanya manis dan gurih, sedikit mengingatkan kita dengan kue lapis. Kue kentut termasuk jenis kue basah yang dimasak dengan cara dikukus.
Tekstur kue si kentut kenyal dan lembut menyerupai dodol. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk lapis seperti kue lapis, bentuk gulung menyerupai dadar gulung atau Fo Thung, hingga bentuk bulat dengan motif timbul yang dibuat menggunakan cetakan khusus.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue ini memiliki makna khusus dan biasa disantap setahun sekali, tepat pada tanggal 8 bulan 4 dalam Kalender Tionghoa. Konon kue ini dimakan setiap perayaan Sie Ngiet Cho Pat karena dipercaya membawa kemakmuran melimpah dan dampak bagi kesehatan.
Namun, seiring perkembangan zaman dan arus modernisasi, keberadaan kue ini kini mulai jarang ditemukan.
(aau/aau)