Mengenal Asal-usul Kue Keranjang yang Mulai Bertebaran di Pontianak

Mengenal Asal-usul Kue Keranjang yang Mulai Bertebaran di Pontianak

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 01 Feb 2026 07:01 WIB
Menangguk Hoki dari Kue Keranjang
Ilustrasi kue keranjang. Foto: Pradita Utama
Pontianak -

Kue keranjang adalah kudapan khas Imlek yang setiap tahun selalu hadir membawa rasa manis dan makna tradisi. Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang melambangkan rezeki yang meningkat dan kehidupan yang semakin baik.

Kue keranjang bukan sekadar makanan penutup, melainkan simbol keberuntungan dan harapan baik di awal tahun baru. Kehadirannya selalu dinanti, baik oleh masyarakat Tionghoa maupun warga lainnya yang sudah akrab dengan cita rasa khasnya.

Tahun Baru Imlek tidak hanya identik dengan lampion merah dan tradisi angpao, tetapi juga hidangan kue keranjang. Kue manis yang juga dikenal sebagai nian gao dalam bahasa Mandarin ini, punya makna sendiri dalam perayaan Imlek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Indonesia, kue keranjang juga disebut kue ranjang, kue bakul, atau di Jawa Barat kerap disebut dodol Cina. Rak-rak toko di berbagai sudut Pontianak kini mulai dipenuhi bulatan cokelat keemasan yang tampak mengilap ini. Berikut jejak sejarah asal-usulnya.

Mengenal Kue Keranjang

Pekerja memindahkan kue keranjang usai dikukus di rumah produksi kue keranjang Mini Bakery, Sangkrah, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/1/2025). Menurut pelaku usaha naiknya harga bahan baku membuat harga jual kue keranjang terpaksa mengalami kenaikan yang menyebabkan permintaannya menjelang Imlek tahun 2025 mengalami penurunan sekitar 30 persen jika dibandingkan tahun 2024. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/tom.Pekerja memindahkan kue keranjang usai dikukus di rumah produksi kue keranjang. Foto: ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA

Dalam buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita karya Shinta Teviningrum, dijelaskan Kue Keranjang pada dialek Hokkian disebut Tii Kwee yang berarti kue manis. Kue Keranjang terbuat dari campuran ketan dan gula yang kemudian ditaruh dalam wadah cetakan yang berbentuk keranjang. Inilah alasannya dalam bahasa Indonesia kue tersebut dikenal sebagai Kue Keranjang.

Kue Keranjang memiliki tekstur dan rasa mirip seperti dodol, sehingga di Jawa Barat lekat disebut Dodol Cina. Rasanya manis legit dengan tekstur yang kenyal dan lengket. Biasanya kue keranjang disimpan di suhu ruang atau di dalam lemari pendingin, sehingga teksturnya akan memadat dan keras.

Sebelum disantap, kue ini perlu dikukus agar kembali terasa lunak dan kenyal. Sebab beberapa bentuk kue keranjang memang tidak bulat sempurna. Terkadang ada yang seolah terlihat bidang bagian atasnya sedikit miring, meski rasanya tetaplah sama.

Sejarah Kue Keranjang

Kue keranjangKue keranjang Foto: detikFood

Disadur dari buku Kepingan Narasi Tionghoa Indonesia The Untold Histories karya Hendra Kurniawan, dijelaskan karakter khas kue keranjang ini ternyata melambangkan harapan tertentu. Rasa manis dan legit menyimpan harapan agar di tahun mendatang selalu mendapatkan kehidupan yang serba manis dan jauh dari kepahitan.

Sedangkan bentuknya bundar dan teksturnya yang kenyal serta lengket melambangkan pengharapan agar keluarga besar selalu bersatu, rukun, dan lekat satu sama lain. Pengharapan dan doa baik ini lah yang mendasari identiknya Kue Keranjang dengan Tahun Baru Imlek.

Menurut legenda, pembuatan kue keranjang bermula ketika Tiongkok mengalami paceklik. Penduduk di daerah yang mengalami kekeringan mengungsi ke daerah subur.

"Dalam perjalanan panjang itu mereka membuat makanan yang tahan lama dan mengenyangkan. Bahan dasar kue keranjang adalah tepung ketan dan gula. Gula dicairkan kemudian diaduk bersama dengan tepung ketan dan dikukus. Adonan ini dicetak dengan menggunakan keranjang-keranjang bulat berdiameter 8-10 cm yang telah dilapisi dengan daun pisang atau plastik kemudian dibungkus," tulis Hendra dalam bukunya.

kue keranjangkue keranjang Foto: istimewa

Dari perbekalan tersebut, mulai lah dikenal Kue Keranjang yang tetap berkualitas baik untuk enam bulan hingga satu tahun lamanya. Legenda ini dipercaya terjadi pada 2.500 tahun lalu, setelah kematian Jenderal dan Politikus Kerajaan Wu bernama Wu Zixu.

Konon, Kue Keranjang kemudian mulai digunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek. Puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek).

Bicara soal legenda, memang ada beragam versi. Seperti yang dikutip detikNews dalam situs China Highlight misalnya, sejarah Kue Keranjang Imlek biasa dikaitkan dengan Legenda Dewa Dapur. Kala itu masyarakat Tionghoa, menggunakan kue sebagai persembahan licik kepada Dewa Dapur, yang diyakini bersemayam di setiap rumah.

Menurut legenda, setiap tahunnya Dewa Dapur ini membuat laporan kepada Kaisar Giok. Masyarakat menawarkan Nian Gao atau Kue Keranjang sebagai 'tutup mulut' untuk mencegah Dewa Dapur mengejek rumah mereka. Oleh karena itu, Kue Keranjang atau Nian Gao dipersiapkan untuk persembahan sebelum tahun baru Imlek.

Terlepas dari beragam legenda yang ada, Musni Umberan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kebudayaan Kalimantan menyebut saat Sin Chia (Imlek), sembahyang tahun baru Imlek dilaksanakan dirumah atau di kuil dengan sajian berbagai makanan dan kue keranjang. Upacara sembahyang ini dilaksanakan dengan maksud membersihkan diri.

Kue Keranjang Identik dengan Imlek

Seribu lampion mulai dipasang di Jalan Suprapto Pontianak.Seribu lampion mulai dipasang di Jalan Suprapto Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Karakter khas kue keranjang ini ternyata melambangkan harapan tertentu. Rasa manis dan legit menyimpan harapan agar di tahun mendatang selalu mendapatkan kehidupan yang serba manis dan jauh dari kepahitan.

Sedangkan bentuknya bundar dan teksturnya yang kenyal serta lengket melambangkan pengharapan agar keluarga besar selalu bersatu, rukun, dan lekat satu sama lain. Pengharapan dan doa baik ini lah yang mendasari identiknya Kue Keranjang dengan Tahun Baru Imlek.

"Sehari sebelum Tahun Baru Imlek, keluarga Tionghoa mulai sibuk mengatur persiapan untuk menyambutnya. Mereka mengadakan sembahyang untuk mendoakan leluhur keluarganya. Sebelum ritual sembahyang dimulai, orang harus bersih lahir dan batin. Selain itu, juga disiapkan meja altar di ruang depan untuk meletakkan foto para leluhur, hiolo (tempat hio), dan berbagai sajian. Dalam sembahyang ini, kue keranjang (nian gao) menjadi sajian wajib dengan berbagai macam ukuran," tulis buku Kepingan Narasi Tionghoa Indonesia The Untold Histories.

Secara bahasa, kata nian (εΉ΄) berarti tahun, sementara gao (糕) artinya kue. Namun, pelafalan gao juga menyerupai kata 高 yang berarti "tinggi" atau "meningkat". Karena itu, selain memiliki arti sebagai kue tahunan, nian gao juga dimaknai sebagai harapan agar kehidupan, rezeki, dan pencapaian seseorang menjadi lebih baik dari tahun ke tahun (nian nian gao sheng εΉ΄εΉ΄ι«˜ε‡).

Dalam persembahyangan, Kue Keranjang disusun bertingkat meninggi. Semakin ke atas bentuk kuenya semakin mengecil. Maknanya, melambangkan harapan peningkatan rezeki atau kemakmuran di tahun mendatang.

Semakin banyak dan tinggi kue keranjang yang digunakan dalam sembahyang juga menandakan kemakmuran keluarga. Kue keranjang biasanya diletakkan di pojok kanan altar dengan sarung hiasan dari kertas warna merah atau kadang terbuat dari sulaman.

Kue Keranjang ImlekKue Keranjang Imlek Foto: Getty Images/iStockphoto/powershot

Di negeri asalnya, Cina, terdapat kebiasaan untuk menyantap Kue Keranjang terlebih dahulu ketika tahun baru Imlek agar mendapatkan keberuntungan. Setelah menyantap Kue Keranjang, barulah mulai menyantap makanan lainnya.

Salah satu daerah di Indonesia dengan sebaran warga Tionghoa terbanyak ada di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Tak heran jika suasana jelang Imlek sudah terasa meriah di Kota Khatulistiwa, pun sudah banyak pedagang menjajakan kue keranjang yang identik dengan imlek.

Pedagang kue keranjang di Pontianak tersebar di beberapa titik. Seperti di Jalan Gajah Mada, Pontianak Selatan, dengan mayoritas pedagang adalah orang Tionghoa.

Selain itu ada pula di Siantan, Pontianak Utara, atau Jalan Khatulistiwa dan Jalan Veteran. Di sana tak kalah banyak pedagang kue keranjang, karena dihuni mayoritas penduduk Tionghoa.

Di Jalan Veteran Gang Syukur 3, Pontianak, Kalimantan Barat ada pabrik pembuatan kue keranjang yang tersohor. Pabrik kue keranjang milik Acuan ini bernama Tan Ngen Cuan. Berdiri sudah 40 tahun lebih, kue keranjang yang dibuat dengan campuran beras ketan dan gula ini jadi sajian spesial jelang Imlek.

Nah detikers, itulah tadi penjelasan lengkap mengenai Kue Keranjang beserta makna dan sejarah tradisinya. Selamat menyambut Tahun Baru Imlek!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Momen Imlek, Warga Tionghoa Jambi Lepas Kura-Kura ke Sungai"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads