Menhut Prihatin Satwa Terdampak Karhutla: Mereka Tak Bisa Minta Tolong

Menhut Prihatin Satwa Terdampak Karhutla: Mereka Tak Bisa Minta Tolong

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 13 Okt 2026 21:30 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni/Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Karhutla di Kalimantan Tengah tak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga keselamatan satwa liar yang kehilangan habitat akibat kobaran api. Orang utan menjadi salah satu satwa yang mendapat perhatian khusus pemerintah, karena tak bisa menyelamatkan diri semudah manusia ketika kebakaran dan kabut asap melanda.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada dampaknya terhadap manusia. Keselamatan makhluk hidup lain, termasuk orang utan di kawasan hutan dan pusat rehabilitasi, juga harus menjadi perhatian.

"Keprihatinan kita terhadap karhutla ini tidak hanya kepada masyarakat, kepada rakyat yang menjadi korban sesak napas, ISPA. Tetapi ini juga kepada makhluk hidup lainnya, yang bahkan mereka tidak bisa berteriak minta tolong," kata Raja Juli saat meninjau penanganan karhutla di Palangka Raya, Selasa (13/10/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemenhut telah berkoordinasi dengan komunitas pencinta satwa dan lembaga yang memiliki fasilitas penangkaran serta rehabilitasi, termasuk Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), untuk mengantisipasi dampak kebakaran terhadap satwa. Sejumlah langkah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan orang utan mengalami gangguan kesehatan maupun terjebak di kawasan terdampak kebakaran.

"Upaya tersebut meliputi peningkatan patroli, penyediaan obat bius untuk mendukung proses evakuasi satwa, serta penyiapan oksigen dan nebulizer guna membantu pernapasan orang utan yang terpapar asap," katanya.

Perhatian juga diberikan kepada Pusat Rehabilitasi Orang Utan Nyaru Menteng di Palangka Raya. Pemerintah berupaya memastikan fasilitas tersebut memiliki dukungan memadai untuk menghadapi kondisi darurat selama karhutla berlangsung.

"Oksigen dan nebulizer disediakan untuk membantu sistem pernapasan orang utan yang terdampak polusi asap. Selain itu, peralatan pemadam kebakaran turut disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan api mendekati kawasan rehabilitasi," katanya.

Kemenhut juga berkoordinasi mengenai kebutuhan pasokan listrik untuk mendukung pengoperasian fasilitas di Nyaru Menteng. Salah satu upaya yang direncanakan adalah pemasangan sprinkler yang dapat beroperasi selama 24 jam.

Fasilitas tersebut diharapkan membantu mengurangi polutan dan menyegarkan udara di lingkungan pusat rehabilitasi, sehingga kondisi orang utan yang berada di dalamnya tetap terjaga selama kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.

Namun, ancaman yang dihadapi satwa tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Pergerakan api menuju zona inti yang menjadi habitat satwa liar menjadi salah satu persoalan serius yang harus diantisipasi.

"Jika kebakaran menjalar ke habitat alami, satwa tidak hanya berisiko terpapar asap, tetapi juga kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko satwa terluka, terjebak, hingga harus dievakuasi dari kawasan terdampak," pungkasnya.

Karena itu, patroli dan kesiapsiagaan tim di lapangan menjadi bagian penting dalam upaya melindungi satwa dari dampak karhutla. Pemerintah berharap langkah pencegahan dan penanganan dapat menekan risiko kebakaran meluas ke kawasan yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Di tengah upaya pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah, perlindungan orang utan menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran tidak hanya diukur dari luas lahan yang terbakar atau jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan. Kelangsungan hidup satwa dan terjaganya habitat alami juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana tersebut.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads